
Malam begitu kelam. Hanya sesekali terlihat satu dua bintang di antara kabut hitam yang berarak. Kelam sekelam hatinya malam itu.
Dia benar-benar tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Hanya angan yang melayang jauh membayangkan apa yang akan terjadi untuk hari-hari berikutnya. Apakah ia harus tetap berdiam diri di sana mendengarkan suara jangkrik dan melodi malam yang memilukan? sanggupkah esok pagi matanya akan terbukamenatap sinar mentari? Mampukah kaki akan dilangkahkannya sedangkan urat-urat kehidupan dalam tubuhnyaterasa mati? Dan mampukah telinganya mendengarkan nyanyian alam yang hari-hari sebelumnya terasa begitu indah, saat ia merangkum bayangan anggun wanita itu?.
Pertanyaan demi pertanyaan yang diiringi dengan gelengan kepala resah. Pertanyaan demi pertanyaan yang tak mampu dijawab malam, sang bayu ataupun bintang gemintang yang mengintip murung. Ia di sana hanya sebatang kara. Tak ada yang bisa mendamaikan hatinya dengan sajak malam yang menyejukkan. Ia hanyalah anak miskin yang telah lama yatim piatu. Mereka tewas sebelas tahun yang lalu karena wabah demam berdarah. Tak ada kerabat, hanya sebuah gubuk reot yang tinggal menunggu waktu yang tepat untuk roboh.
Ada baiknya malam ini ia mengakhiri semuanya. Ada baiknya belati yang tertancap dipagar gubuk ditusukkannya ke lambung untuk membungkam rasa tidak tenang dalam hatinya. Tak perlu lagi menangis, meratap ataupun minta tolong pada siapapun. Toh semuanya membisu, mencibir dan mereka tidak akan pernah peduli pada orangn hina yang tidak akan mendatangkan manfaat apa-apa pada mereka. Tidak semuanya. Tidak juga Tuhan. Tuhan masih duduk santai di atas Arsy-Nya, menyaksikan aktor utamanya dalam drama kolosal yang dipentaskannya. Tak ada yang salah dan tak akan ada yang akan menyalahkannya jika ia harus bunuh diri. Yang salah adalah roda nasib yang selalu berputar menindasnya. Roda nasib yang sengaja diputar salah. Ada baiknya ia mati dan mungkin sampai malam ini perannya sebagai orang miskin dan hina di dunia. Toh, ia bunuh diri juga adalah karena jalan cerita dari Tuhan memang seperti itu. Bertahan hidup berarti sama saja menikmati dengan pasrah panah-panah beracun menghunjam hati dan kehidupannya.
Rahim tertunduk lesu. Sejenak ia membisu. Hanyut dalam keheningan malam yang semakin beranjak larut.. meninggalkannya jauh dalam putaran waktu. Mencoba mengenang sejenak kisah hidupnya bersama memori-memori hayalan yang sempat terekam dalam ingatannya.
Syifa masih tertunduk lesu di sisi pembaringannnya. Bersama balutan gaun pengantin warna putihnya, ia masih termenung menanti was-was.
Seharusnya satu jam yang lalu ia sudah bisa menebarkan senyum bahagianya di atas persandingan bersama calon suaminya. Namun hingga malam yang semakin beranjak larut, yang ditunggu-tunggunya tak kunjung juga tiba. Ia gelisah, semakin resah saat suara gamelan yang sedari tadi mengalun syahdu sudah tidak terdengar lagi. Bayangan tentang malam persandingan yang berakhir luka dan dugaan sang kekasih yang dicintainya mengurungkan niatnya untuk mempersuntingnya. Tak terasa ia mulai menangis saat membayangkan jika semua itu benar-benar terjadi.
Hingga dua jam berlalu. Tak ada satupun kabar bahagia yang memberitakan kedatangan rombongan pengantin laki-laki. Terlebih saat ia sadar tak ada seoranngpun lagi dirumahnya selain kedua orang tuanya dan beberapa staf dan karyawan Bapaknya yang masih bersimpuh jenuh di ruang tamu.
Seperti puspa layu di dalam jambangannya dan tangisnya semakin berderai memecah keheningan malam.
Ya Tuhan, apa yang telah terjadi? Adakah yang salah? Kenapa dia tidak datang menepati janjinya?. Pertanyaan demi pertanyaan gelisah mulai mengerubungi hatinya. Dan ia hanya bisa terkulai tak berdaya di atas ranjangnya.
Malam semakin larut. Hening dengan suara jangkrik yang sesekali terdiam dan kembali memecah. Di ruang tamu, Pak Hasan Basri nampak masih membisu di atas sofanya. Berkali-kali ia terlihat memukul-mukul tangannya. Wajahnya nampak begitu murka.
Di bawah, di hamparan karpet hijau, beberapa tamu undangan yang masih segan meninggalkan tempat itu larut dalam kebisuan yang telah lama mendera. Gerombolan rayap yang mengerubungi cahaya neon beradu dengan kepulan asap yang sesekali mengepul memenuhi ruangan.
Di beranda, seorang perempuan setengah baya nampak terlihat resah mondar-mandir. Setiap kali ada mobil yang melintas di depan rumahnya, segera mungkin ia cepat-cepat melongokkan kepalanya, berharap Giant, pengusaha yang akan melamarnya malam ini datang. Atau setidak-tidaknya, Billy, orang yang disuruhnya menjemput dan memberi tahu apa gerangan yang terjadi sehingga Giant dan keluarganya sampai sejauh malam ini tak kunjung juga menampakkan batang hidungnya. Ia khawatir jika terjadi apa-apa pada Syifa yang masih mengurungn diri di dalam kamarnya. Ia sudah berusaha menenangkannya, namun anak gadis itu tak mau diganggu lagi dan berharap siapapun juga tak diizinkannya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Detak-detak jarum jam dinding terdengar menghentak keras di dalam ruangan.
Suara jangkrik dan binatang malam lainnya masih setia berdendang mengiringi larutnya malam. Gerimis malam di atas atap rumah seakan-akan ikut larut dalam kebisuan gadis yang masih menerawang tanpa arti ke arah langit-langit kamar. Seperti mimpi, namun nyata ia mengalami penghinaan. Malu dan sakit hati yang mungkin hanya bisa lenyap dengan sebuah tusukan belati di jantungnya. Mungkin itu pilihan terakhir dan terbaik baginya kalau tidak ingin melewati hari-hari dengan ketertekanan dan rasa malu yang sangat. Yang akhirnya akan membuatnya menjadi tidak waras.
Syifa perlahan bangkit. Ditatapnya lekat ke arah meja kecil tak jauh dari tempatnya. Dengan pelan ia melangkah ke arah meja. Setelah untuk beberapa saat ia mendongakkan kepala. Dibukanya laci meja dan meraih sebuah gunting dari dalamnya. Tatapannya lekat menatap ke arah gunting yang bergetar mengikuti getaran tangannya. Gelegar perasaan tak menentu dalam hatinya seakan-akan seperti hendak menarik ujung gunting ke dadanya dan.......
Syifa mengurungkan niatnya. Suara gemerincing tiba-tiba terdengar memantul di atas lantai. Syifa membuka matanya pelan. Nafas yang tadinya tertahan mulai diturunkannya. Gunting yang ada di tangannya perlahan terlepas. Syifa menoleh dan matanya yang sembab mulai mencari sesuatu yang jatuh itu. Sebuah cincin warna merah muda tergeletak di atas lantai persis di bawah bak sampah di samping pintu kamar. Kembali kepalanya menggeleng disertai bulir air mata yang kembali mengalir membasahi pipi. Cincin itu. Cincin yang akan menjadi saksi bisu ketika di atas sebuah jembatan, Giant memasukkannya ke dalam jarinya yang putih. Membisikinya kata-kata dan janji cinta yang tak mungkin terlupakan. Cincin yangn seharusnya akan menjadi pertautan terakhir saat senyum manis pipi kemerah-merahannya menebar bahagia di atas persandingan. Tapi malam ini semua telah musnah. Malam ini cincin itu tak lebih dari gemerincing maut yang siap menebar kuku-kuku tajamnya . lelaki itu telah menipunya. Ia telah mengkhianati janji-janji cinta yang pernah terucap dari mulutnya.
Mata syifa melotot tajam. Amarahnya semakin membuncah menariknya untuk mendekat ke arah cincin tergeletak. Ia lalu meraihnya dan kemudian menghempaskannya ke dalam bak sampah. Caci maki dan sumpah serapah bergantian keluar dari mulutnya. Tapi tiba-tiba ia terdiam saat mengarahkan kembali pandangannya ke arah cincin.ada sesuatu yangn menarik perhatiannya di dalam bak sampah. Bukan cincin itu, tapi sebuah amplop berwarna biru yang tergeletak sebagai alas cincin. Syifa mengusap air matanya dan meraih amplop itu.
Seorang pemuda gondrong terlihat mematung dengan wajah kuyu di depan pintu gerbang. Bu Rusmini yang melihatnya langsung berhamburan menyonsongnya. Begitu juga dengan pak Hasan Basri dan beberapa orang di dalam rumah. Billy yanng terlihat gugup hanya bisa menatap sedih saat bu Rusmini mulai mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.
”Kenapa kamu sendiri Billy? Mana Nak Giant, apakah mereka masih dalam perjalanan ke sini? Tanya bu Rusmini sambil mengguncang-guncang tubuh Billy. Billy terdiam dengan kepala tertunduk, dan mata-mata mulai cemas memandangnya.
Begitu mendengar cerita Billy, bu Rusmini seketika tak sadarkan diri.
Syifa perlahan membuka amplop dan mengeluarkan selembar kertas warna buram dari dalamnya. Ia masih ingat sehari sebelumnya ia pernah menerima surat dari seseorang. Seorangn pemuda jelek dan miskin yang pernah ia ludahi dan caci maki karena tidak tahu malu mencintai dirinya. Dan kemarin saat pemuda itu mengiriminya kembali surat, ia langsung saja membuangnya ke tempat sampah.ia merasa malu karena sebelumnya tidak pernah terpikir ada pemuda jelek dan miskin yang berani merusak reputasinya sebagai cewek paling elit di kampusnya. Apalagi pemuda itu hanyalah tukang sapu di kantor ayahnya. Jelas-jelas tidak sekufu. Sekufu dalam berbagai hal. Sekufu keturunan, borjuis, funky dan gaul abis. Beberapa kali sumpah serapah dan caci maki berhamburan dari mulutnya, tapi pemuda itu hanya melawan dengan senyuman dan tatapan yang begitu menghiba.
Syifa tiba-tiba merasakan penyesalan maha dahsyat menyerang perasaannya. Ia begitu menyesal setelah apa yang telah ia lakukan kepada pemuda itu begitu menyakitkan.
Syifa membuka lipatan kertas dan dengan penuh perasaan mulai membacanya.
Untuk sang pelipur lara.....
Maaf jika untuk terakhir kalinya aku masih saja tak tahu malu membuatmu merasa muak. Tapi aku mohon dengan sangat, kau sudi mendengar dan membaca sejenak apa yang hendak kukatakan. Walaupun sesudahnya aku ikhlas kau mencaci dan mengumpatku habis-habisan.
__ADS_1
Aku sadar aku memang manusia hina dimatamu. Dan akupun sadar tak seujung kukupun aku merasa pantas walau hanya sekedar menyapamu. Tak ada niat untuk membuatmu merasa terhina, aku hanya ingin kau tahu betapa hari-hariku begitu berarti saat bayangmu hadir menemaniku dalam kesepian dan kesendirianku. Tak pernah aku merasakan bahagia yang sangat, selain saat ibuku masih ada di sisiku, dan saat mata ini mendapatkan anugrah untuk takjub dengan keindahanmu.
Dan kinipun aku merasakan betapa hari-hariku begitu memilukan, saat bunga yang selalu kucuri aromanya akan dihinggapi kumbang pilihannya.
Aku meratapi semuanya. Menyesali kenapa bukan aku yang dibuat pantas untuk mendampingimu di pelaminan. Kenapa bukan aku yang pantas menembangkan sajak-sajak malam yang ku rajut di atas pembarinngan cinta. Telah kupanjatkan doa agar Tuhan kiranya berkenan menjadikan aku yang menerima anugrah memilikimu. Tapi semuanya memang berjalan sesuai kodrat dan takdir. Dan akupun hanya bisa berharap lewat risalah-risalah yang pernah kukirim. Walaupun kau tak sudi bila kumiliki, namun aku berharap kau sudi mengijinkanku mencintaimu selama-lamanya. Hanya mencintai, namun kau menolak memberikanku senyum seguratpun sebagai salam perpisahan.
Dan akupun pasrah. Sebelum gamelan pengiring malam bahagiamu berakhir, aku akan pergi jauh bersama kebisuan dan ratap sedihku. Membawa rasa dan asa yang terpendam. Semoga kau berbahagia.
Rahim....
Ayat-ayat suci terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Udara dingin dan kokok ayam mulai terdengar bersahutan. Beberapa orang lelaki masih terlihat duduk di kursi beranda rumah. Sambil menyeruput kopi dingin yang ada di depan mereka, sesekali menengok ke dalamrumah di mana Pak Hasan Basri sedang menenangkan bu rusmini yang sudah siuman dari pingsannya. Pak hasan basri menoleh melihat orang-orang di luar yang terlihat menguap. Ia keluar.
”Kalian pulanglah dulu”. Katanya. Orang-orang itu masih terdiam. Sejenak saling pandang. Agak sungkan mereka mengangguk dan satu persatu mulai bangkit dan menyalami pak hasan basri. Setelah berpamitan mereka segera beranjak meninggalkan rumah itu.
Suasana bertambah hening. Pak hasan basri masih menatap tubuh-tubuh itu hingga hilang tertelan kegelapan malam. Tapi keheningan tiba-tiba pecah saat terdengar teriakan keras dari dalam rumah. Pak hasan basri segera masuk, namun belum sampai di dalam rumah, syifa tiba-tiba menerobos berhamburan keluar rumah. Melihat itu, pak hasan basri segera mengejarnya dan berteriak memanggil supaya syifa kembali. Namun syifa sepertinya tidak peduli dan terus berlari kencang menerobos kegelapan hingga pak hasan basri ditinggalkannya jauh di belakang.
Gelap malam masih terhampar di depan mata saat Syifa menghentikan langkahnya di depan sebuah gubuk yang sekelilingnya dipenuhi rerimbunan pohon pisang. Sekilas dari keadaan gubuk yang gelap, sepertinya gubuk itu tak berpenghuni. Daun pohon labu yang tumbuh di samping rumah merambat memenuhi permukaan gubuk. Syifa agak ragu. Matanya melirik kesana-kemari ingin memastikan tidak ada lagi gubuk lain di tempat itu, dan memang gubuk itulah yang ia cari. Itu berdasarkan penuturan teman-temannya di kampus tentang keadaan gubuk pemuda malang itu. Syifa menghela nafas panjang. Setelah memejamkan matanya, mantap ia melangkah menuju gubuk. Suasana benar-benar gelap. Agak ragu syifa mengulurkan tangannya kearah pintu. Gubuk itu rupanya tak berpintu. Tempat keluar masuk hanya ditabiri karung-karung bekas. Syifa memberanikan diri masuk dan pelan mulai memanggil nama seseorang.
Rahim? Dimana kamu Rahim. Ini Aku Syifa. Orang yang kau rindukan kedatangannya. Aku sangat menyesali semua yang kulakukan kepadamu. Aku sadar, kau mencintaiku dengan hatimu yang tulus sehingga Tuhan pun tak mengijinkan orang lain memeluk tubuhku selainmu. Keluarlah Rahim.
Tak ada jawaban. Hanya kegelapan dan sunyi. Syifa menggeser tubuhnya agak ke samping. Sesuatu terdengar jatuh dari arah samping. Tiba-tiba ia mencium seperti bau bensin di sekitarnya. Syifa mendengus dan tangannya mulai meraba dalam kegelapan berharap ada pematik api yang akan ia temukan di sekitarnya. Benar saja, setelah beberapa lama ia mencari, syifa akhirnya menemukan pematik. Segera saja ia menyalakannya. Nyala api mulai menerangi suasana dalam gubuk. Tatapan syifa mulai awas mengawasi suasana sekitar.
Dan....mata syifa terbelalak kaget. Detak jantungnya seperti sudah tak terkendali, beradu dengan nafas yang mulai menyesakkan dada. Seorang lelaki kurus tergantung di tiang penyanggga gubuk dengan mata terbelalak dan lidah yang menjulur keluar. Syifa hanya menggeleng kepala tak percaya dengan apa yang kini dilihatnya. Pemuda jelek yang sering ia hina dan caci. Lelaki malang yang sering ia sakiti hatinya. Tak ada yang bisa ia lakukan selain berdiri mematung dengan tatapan mata tak berkedip ke arah mayat yang menggantung di depannya.
Tapi kemudian mata syifa terasa mulai kabur. Kepala dan dadanya begitu sesak dan ia merasakan sekujur tubuhnya begitu lemas dan tak mampu ia paksakan untuk terus berdiri. Tak lama kemudian tubuhnyapun ambruk di tanah. Pematik api pun terlepas dan menimpa tumpukan koran yang sudah digenangi minyak tanah. Dalam sekejap api menjalar kemana-mana, namun syifa seolah-olah enggan bergerak, hingga apipun menghanguskan gubuk dan membakarnya hidup-hidup.
__ADS_1