
Selesai dengan sarapan mereka, Bunda Rianti langsung menarik Kara yang hendak membantu para pelayan membersihkan meja makan, wanita itu membawa Kara keruang tamu. "Kamu ini, suka sekali membuat diri sendiri susah," kekeh Bunda Rianti.
Kara cuma meringis. "Maaf, Bun, Kara terbiasa."
Bian mengekor dari belakang, namun Bunda Rianti mengusirnya. "Kamu bisa tinggalin bunda sama Kara sebentar? Ada yang mau kita omongin." katanya mendadak, Kara yang tidak tau apapun hanya menatap wanita itu dan Bian bergantian.
"Bun, kami mau pergi kuliah," protes Bian tidak terima.
"Hanya sebentar, sudah sana," usir Bundanya.
"Tapi-," saat Bian hendak kembali protes, Kara menyela. "Bi, sebentar kok, oke?" katanya. Dan Bian dengan ajaibnya pergi dari sana walau raut mukanya masih kesal.
Bunda Rianti terdiam beberapa saat melihatnya, tampak terpana.
"Apa yang mau diomongin, Bun?" tanya Kara memutuskan keterpanaan wanita itu.
Bunda Rianti membentuk senyuman hangat, tangannya meraih tangan Kara mengusapnya pelan. "Sudah lama kamu bersama Bian, Bunda bahkan hampir lupa kamu itu pacar anak Bunda atau anak Bunda sendiri," katanya terkekeh. "Kamu satu-satunya orang yang bisa membuat anak keras kepala itu menurut, kamu yang membuat Bian jadi lebih baik dan kamu benar-benar candu kayaknya buat Bian, apa-apa yang dibicarakan dan yang difikirkan Bian cuma kamu."
Kara hanya diam, belum paham kemana jalannya pembicaraan itu. "Kara, Bian adalah anak yang paling Bunda sayang, Jessi juga anak kesayangan Bunda, tapi kamu tau 'kan ada beberapa hal yang nggak bisa kita bohongi, walau Bunda selalu bilang kasih sayang orangtua itu sama, Bunda sayang dengan Bian, dia adalah anak laki-laki di keluarga Baskara, bahkan satu-satunya cucu laki-laki di keluarga suami saya," senyumnya. "Kamu tentu tau cepat atau lambat Bian akan menjadi penerus Baskara, dia dididik terlalu keras dari kecil, hingga mentalnya tidak sanggup menerimanya."
"Kamu tau Kara? Jujur saja, Bian dulu tidak pernah peduli pada orang lain, bagaimana tindakkannya akan menyakiti orang lain, bertemu dengan kamu, Bunda tidak tau kenapa, tapi kamu merubahnya. Dia tergila-gila sama kamu, Ra," Bunda terkekeh beberapa saat. "Bunda nggak pernah liat Bian sesenang itu saat pertama kalinya menceritakan kamu. Akhirnya dia punya orang yang bisa membuatnya bahagia." bisiknya kecil diakhir kalimat.
Otak Kara mulai mencerna apa yang terjadi selanjutnya. "Bun-,"
"Ra, bagaimana kalau kalian bertunangan? Umur kalian sudah matang, kalian kuliah juga beberapa semester lagi, nggak ada salahnya kalian mengikat hubungan ke jenjang yang lebih lagi 'kan?" ucapnya. "Untuk pernikahan itu bisa dipikirkan nanti, besok malam kami akan datang kerumah kamu, bicarakan masalah ini sama orangtua kamu, ya?"
Kara bungkam. Tidak dapat mengucap satu kata pun.
__ADS_1
Tangan Bunda Rianti yang berada ditangan Kara, meremasnya. "Maaf Kara, ini mungkin keegoisan seorang Ibu, kamu pasti mengerti 'kan, nak?"
Kara mendongak, menatap Bunda Rianti yang tersenyum hangat.
"I-iya, Bun, Kara ngerti."
Untuk beberapa saat keheningan terjadi, Kara membeku ditempat tanpa dapat bicara. Sedangkan senyum Bunda Rianti digantikan senyum segaris.
Mungkin hal itu akan terjadi lama kalau Bian tidak datang, menarik tangan gadis itu dari genggaman ibunya. "Bun, kami hampir telat! Emang apa sih yang dicarain?" Bian datang dengan muka kesal bukan main.
Bunda Rianti tersenyum menatap Kara dan Bian bergantian. "Tadi Bunda bicara sama Bian tentang pertunangan kalian, bukannya kamu yang ingin? Dan Kara bilang dia mau, kita besok kita akan pergi ketempat Kara, membicarakannya dengan keluarganya," wanita itu benar-benar senang melihat wajah putranya yang berbinar, Bian menatap Kara tidak percaya.
"Beneran, Ra? Astaga," laki-laki itu tertawa sambil membawa Kara dalam pelukannya, gadis itu hanya diam. "Bukannya menyenangkan, Ra? Bayangkan setelah bertunangan kita akan menikah, terus kita akan bersama selamanya." ucap Bian mengecup puncak kepala gadis itu.
Kara meremas tangannya kuat. Licik. Benar-benar licik. Pikiran Kara terombang-ambing, kacau.
Kebebasannya akan makin terenggut dan kehidupannya hanya akan menjadi boneka yang diatur keluarga Baskara.
Tidak ada yang dapat membantunya keluar. Tidak ada.
***
Kuliahnya hari ini selesai, Kara menghela nafas beberapa kali sejak tadi. Yona memperhatikannya beberapa saat sebelum bertanya. "Kenapa, Ra? Lo ada masalah?"
Kara cuma menggeleng, melewati gadis itu begitu saja, Bian berdiri tak jauh dari kelasnya langsung berlari menghampiri Kara dan merangkul gadis itu dengan ceria, tanpa melihat wajah muram gadis itu.
Mereka memasuki mobil, suara mesin mobil itu menderu saat Bian menghidupkannya.
__ADS_1
"Bi, kamu mau mengabulkan apapun keinginan aku 'kan?"
Bian menoleh, tampak terkejut lalu mengangguk pasti. "Tentu, kamu mau apa, Ra? Tumben."
Kara menoleh, matanya menajam. "Batalin rencana Bunda, rencana pertunangan kita!" katanya penuh tekanan.
Raut wajah Bian berubah, rahangnya mengeras. "Kenapa? Kenapa dibatalkan? Bukannya kamu setuju? Terus apa lagi, Ra? Sudah banyak alasan kamu menolak aku, apa lagi sekarang? Aku cuma mau mengikat hubungan kita lebih kuat lagi, kita juga sudah dewasa-,"
"Bi!" suara Kara mengeras. "A-aku nggak bisa!" gadis itu bergetar. "Aku belum siap! Aku benar-benar belum siap!"
Tangan Bian mencengkram lengan Kara, mengguncangnya. "Apa yang membuat kamu belum siap, Ra? Apa? Kasih aku alasan yang jelas!"
Dengan keberanian yang dia punya, Kara mendongak menatap Bian tepat dimata. "Aku belum siap terikat sama kamu lebih dalam!"
Bian membeku, Kara pikir laki-laki itu akan marah atau berteriak padanya, namun dia hanya diam. Bian melepaskan cengkramannya lalu kembali pada posisi semula.
Rahang mengeras, alis naik, wajah marah itu sangat ketara. Bian lalu mulai menjalankan mobilnya, membiarkan Kara yang tampak membeku kebingungan disisinya.
Kara memejamkan mata, berusaha menenangkan dirinya karena emosinya yang tiba-tiba meledak.
Entah apa yang saat ini ada didalam kepala laki-laki itu, Kara tidak tau. Yang dia harapkan apapun itu Bian dapat mengabulkan permintaannya.
***
Note:
Btw menurut kalian apa yang ada dipikirkan atau apa yang bakal Bian lakuin siap ini? Ada yang bisa nebak? 😏
__ADS_1