
"Tapi lo harus menjelaskan banyak hal sama dia! Dia tersiksa bertahun-tahun dan lo cuma bisa minta maaf?! Gue cuma minta lo nemuin dia dan bicara!"
Film di layar berputar menampilkan adegan klimaks yang penuh drama disana. Bian menatapnya penuh minat, sedangkan Kara hanya menatapnya kosong. Dia tidak bisa bohong bahwa ucapan laki-laki asing kemarin cukup mempengaruhinya.
Jody. Nama laki-laki yang hampir tidak akan pernah Kara lupakan. Dia adalah masa lalunya yang penuh cerita. Baik itu sebuah suka atau luka.
Dalam keheningan, mata gadis itu menatap sosok Bian yang masih sibuk dengan film-nya. Bian tidak akan membiarkan dia bertemu dengan Jody bagaimana pun alasannya. Laki-laki itu sensitif dengan topik Jody. Masa lalu mereka cukup buruk.
Bian saja akan marah besar saat tau dia berinteraksi berlebihan dengan laki-laki lain dan apalagi Jody, seseorang yang dulu sempat dia menempati posisi berarti didalam hidupnya.
"Kenapa, Ra?" Bian menoleh, merasa Kara menatapnya.
Gadis itu cuma menggeleng kecil. Mengalihkan kembali perhatiannya pada layar televisi. "Aku lapar, udah jam enam," ucapnya melirik jam di dinding. "Aku masak dulu, ya," gadis itu turun dari sofa, bergerak menuju dapur. Tidak melihat Bian yang menatap punggungnya dengan tatapan tajam.
Kara mengambil potongan dada ayam, ingin membuat chicken teriyaki kesukaan Bian. Lalu merebus wortel dan menanak nasi untuk tambahan.
Karena keluarganya kurang peduli, sejak kelas lima SD, gadis itu sudah belajar memasak. Dia masih ingat saat pertama kali kebingungan menakar minyak dan garam karena belum pernah diajari. Waktu tetap berjalan dan mengasah kemampuan masaknya. Hingga memasak sudah menjadi kebiasaan lumrah yang dia lakukan.
Hampir satu jam lebih berkutat dengan dapur, gadis itu meletakkan masakannya diatas meja makan. Dia berjalan menuju tempat Bian berada, melihat laki-laki itu yang masih asik dengan televisi.
"Bi, makan yuk, aku udah lapar,"
Tanpa di suruh dua kali, Bian segera mematikan televisinya, lalu menyambar tubuh Kara yang berada didekatnya. Melingkarkan tangannya di perut gadis itu. Mereka berjalan menuju meja makan dengan posisi sama sampi Kara memprotes aksi Bian.
"Bi, aku beneran lapar, udah, lepas, ayo makan."
Laki-laki itu dengan patuh mengikuti Kara duduk di meja makan, memperhatikan setiap gerakan Kara yang mengambil piring dan mengisinya dengan makanan disana.
__ADS_1
Bian membuka mulutnya saat Kara menyodorkan sesuap nasi lengkap dengan seluruh lauknya. Gadis itu ikut memasukkan sesuap ke mulutnya dengan potongan wortel yang besar. Entah ini semacam karma, gara-gara dulu pernah berbohong dia sangat menyukai sayur ini, dia sekarang jadi benar-benar menyukainya.
Bian menarik senyum lebar saat gadis itu kembali menyuapinya. Kara terkekeh kecil, merasa tingkah laki-laki itu seperti anak kecil.
"Bi!"
Bian menundukkan tubuhnya, meletakkan kepalanya diceruk leher gadis itu lalu tangannya memeluk pinggang Kara. Laki-laki itu tampak tidak peduli protes dari Kara, dia malah menggerakkan kepalanya, menghirup aroma gadis itu.
"Bi, aku baru selesai masak dan belum mandi," ucapnya sedikit risih.
Bian kini tampak asik menyentuh anting Kara dengan ujung jarinya. "Masih Wangi," katanya.
Kara menghela nafas, menarik bahu Bian agar menjauh darinya, lalu memasukkan satu sendok nasi lainnya. "Oh, ya, kata bunda besok kita cari baju buat acara pertunangan," kata Bian santai sambil terus mengunyah makanan dimulutnya.
Gadis berambut coklat itu menghentikan gerakannya dipiring, menatap Bian tak yakin. "Besok?"
Kara diam, kebingungan membalas ucapan itu, akhirnya dia hanya bergumam. "Oh, iya." katanya pelan.
Bian memperhatikan bagaimana raut wajah gadis itu yang perlahan berubah. Matanya menatap datar.
"Kamu nggak kepikiran untuk menolak atau kabur lagi 'kan, Ra?" tanya Bian dengan nada yang tidak enak didengar.
Kara mendongak. "Nggak, kenapa kamu berfikir begitu?"
Mata Bian datar, seperti tidak memiliki emosi, namun suaranya begitu mengintimidasi. "Mana tau, laki-laki aneh yang kamu temui tadi membuat kamu berubah pikiran dan melakukan tindakan yang akan kamu sesali nanti."
***
__ADS_1
Setelah menyelesaikan makan malam dan menonton dua judul film, dua manusia itu akhirnya terdampar di kasur. Mereka tidak tidur, sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Belum ngantuk?" Bian bertanya pelan, sambil mengeratkan pelukannya.
Kara menggeleng, mengubah posisinya agar lebih nyaman dipelukan laki-laki itu. "Belum."
"Main, yuk?"
Kara mengernyit. "Jangan aneh-aneh deh, udah jam satu," ucapnya tak habis pikir.
Bian melepaskan pelukannya, mengubah posisi menjadi duduk. Laki-laki itu membuka ponselnya dan menyodorkannya ke wajag Kara. "Main ular tangga, yuk, kalau kamu menang, aku bakal menuruti tiga permintaan kamu tanpa terkecuali," katanya. "Dan yah, begitu juga kalau aku menang, kamu harus menuruti permintaan aku, apapun itu tanpa terkecuali, deal?"
Kara masih menatap Bian tidak habis pikir, namun kata-kata yang diucapkan Bian cukup mempengaruhinya entah kenapa merasa seolah ada angin segar disana. Pikirannya mendadak melayang pada abangnya Sandy. Yang tidak pernah memberinya kabar sejak terkahir.
Dia berfikir untuk menyusul Sandy beberapa hari, setidaknya memastikan keadaan abangnya saat ini. Namun orangtuanya tidak akan pernah mengizinkan. Walau mereka tidak pernah peduli, namun mereka tidak akan melepaskan Kara untuk bertemu Sandy.
Orangtuanya akan berfikir bisa saja dia tidak akan kembali. Merusak rencana mereka untuk menjadikannya menantu keluarga Baskara.
Namun jika Bian yang langsung meminta izin untuk memperbolehkannya menemui Sandy, sudah pasti dia akan mendapatkan persetujuan dari orangtuanya tanpa hambatan apapun.
"Deal, oke ayo," ucapnya bersemangat. Kara merasa konyol saat dia dengan serius memainkan permainan itu.
Dalam diam, Bian memperhatikan wajah gadis itu sebelum tersenyum kecil, seolah dapat membaca setiap isi kepala gadis itu.
Kara, terkadang kamu terlalu naif.
***
__ADS_1