
Tiga setengah tahun lalu.
"Lo betah banget, ya, jadi manager basket disini." ucap Andi saat Kara menyerahkan jatah makannya.
Gadis itu mendengus. "Bersyukur kali! Nggak ada yang betah ngurusin kalian selain gue." ucap Kara kembali sibuk dengan kegiatan awalnya.
"Yaiyalah betah, buk manager 'kan jatuh cinta sama kapten," celetuk Tobi jahil. Menatap Jody yang membatu dengan mulut penuh nasi. "Minum dong, buk manager, ini laki lo keselek, takutnya mati nanti."
Jody tersedak, wajahnya memerah. Kara buru-buru memberinya air mineral. Beberapa anak basket disana menatap mereka berdua menggoda. Sudah jadi rahasia umum dua orang itu saling tertarik namun masih belum ada yang maju duluan. Jadilah bahan ceng-cengan bagi tim mereka.
"Lo nggak pa-pa?" Kara menepuk-nepuk punggung cowok itu beberapa kali.
Jody menggeleng, sedikit gugup. Mata mereka bertemu. Dan sesuai dugaan, mereka sama-sama membuang muka.
Tobi berdecih melihatnya. Drama receh apa yang saat ini dia tonton.
"Ra, udah duduk lo sana, makan, keliaran mulu!" celetuk salah seorang mereka saat tugas gadis itu sudah selesai namun Kara masih sibuk sendiri.
Kara menggerutu beberapa kali sebelum mengambil jatah makanannya dan duduk di sebelah Jody. "Mau nasinya nggak?" Kara hafal betul bagaimana porsi makanan Jody yang jumbo hingga gadis untuk selalu memberikan setengah nasinya pada Jody.
Laki-laki itu mengangguk. "Mau lah," katanya langsung. Mereka makan dalam diam.
Jody menatap Kara yang menikmati makanannya dalam tenang, dia berdeham pelan, membuat gadis itu menoleh menatapnya bingung. "Kenapa?" tanyanya.
"Hmm... Malam ini ada acara nggak?"
Kara tampak terkejut, namun hanya beberapa saat sebelum tersenyum kecil. "Nggak, kenapa?"
"Hmm a-anu... Mau nonton nggak nanti? Ada film baru yang mau gue tonton—,"
"Boleh, jam berapa?"
Dan Jody tidak bisa menahan senyum girangnya mendengar penerimaan itu.
Mereka sudah kenal sejak kelas sepuluh karena Kara menjadi manager tim basket. Mereka nyaman bersama dan perasaan saling suka itu muncul begitu saja.
Waktu itu keduanya sama-sama masih naif dan polos. Belum benar-benar mengerti. Jadi mereka tidak pernah berani untuk mengikat hubungan lebih dalam.
Hari itu langit kelam, hujan gerimis dengan angin dingin menguar. Kara pulang telat hari ini karena sebentar lagi ada pertandingan yang mau tak mau cukup menghabiskan waktunya di tim basket, apalagi dia satu-satunya manager yang paling diandalkan. Karena rata-rata dari mereka hanya datang saat awal dan akhirnya tidak pernah datang lagi. Sore itu Kara merasa kelaparan dan memilih untuk menikmati mie instan disalah satu mini market.
__ADS_1
Namun rasa mie yang biasanya begitu nikmat baginya kini tidak senikmat biasanya. Kara melirik sosok yang sejak tadi menatapnya. Dia mendelik pada sosok laki-laki yang duduk disampingnya, menatapnya dengan terang-terangan bahkan tidak malu saat ketahuan menatapnya.
Kara melirik seragamnya, melihat logo sekolah swasta terkenal di seragam laki-laki itu.
"Maaf, lo kenapa liatin gue dari tadi?" tanya Kara dengan nada kesal.
Bian namanya, sosok itu hanya tersenyum kecil. Dia mengunyah roti isinya. "Kamu cantik." katanya masih tersenyum.
Bukannya tersipu, Kara malah makin kesal. Dia mengambil cup mie instan miliknya, lalu membuangnya ke tong sampah. Tanpa Kara sadari sosok itu menatap gerak-geriknya yang keluar dari minimarket.
Laki-laki itu terus menatapnya tanpa mengalihkan mata. Dalam keheningan, ada senyum yang muncul dibibir laki-laki itu.
Tepat saat itu Kara menoleh, menatapnya bengis. Dan Bian hanya tersenyum seperti orang *****.
Dia gadis yang paling menarik yang pernah Bian temui.
***
Sosok itu tidak dapat menahan senyumnya saat gadis yang duduk di kursinya saat ini tengah menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
"Nama saya Abian Baskara, pindahan dari JH internasional highschool, salam kenal semua." laki-laki itu tampak percaya diri saat mengeluarkan setiap kalimatnya.
Namun sepertinya tuhan menginginkan takdir lain. Bian terpilih dengan mudahnya sebagai tim inti basket, padahal pertandingan hanya beberapa hari lagi.
Mau tidak mau Kara harus bertemu lagi dengan Bian. Seolah takdir itu telah dibuat sedemikian rupa, Bian duduk dipasangkan dengan Kara. Membuat hari-harinya penuh dengan seorang Bian yang aneh.
Laki-laki itu sering—bahkan setiap hari menatapnya dengan senyuman bodoh. Mau itu saat dikelas, kantin ataupun saat di lapangan indoor bersama tim basket lainnya. Bian sering menatapnya dengan tatapan yang membuat Kara tidak nyaman.
Namun Kara pura-pura tidak tau, terlalu malas mencari masalah. Toh, Bian tidak menganggu terlalu jauh.
Hari itu latihan mereka, jam pelajaran terpaksa diambil karena pertandingan makin dekat. Kara yang datang pertama di lapangan dan diikuti Jody. Mereka duduk disalah satu bangku penonton.
"Main yuk, Ra," kata Jody ketika melihat bola-bola oranye disana tergeletak dalam keranjang.
Kara mendelik. "Kalah dong gue,"
"Gue ajarin, deh, dulu, nanti kalau lo bisa masukkin bola sampai sepuluh kali gue traktir mekdi."
"Cuman mekdi?"
__ADS_1
"Ya terus lo berharap anak SMA kere kayak gue traktir lo di restoran?" tanya cowok itu gemas.
Kara terkekeh, lalu berdiri. "Ayo! Paket komplit, ya, nggak mau makanannya doang."
"Iya, ayo!" Jody ikut berdiri mengambil salah satu bola, mulai mengajari gadis itu. Kontak fisik antara mereka terbilang cukup wajar, namun tidak dimata Bian.
Bian baru datang dan pemandangan itu menyambutnya. Laki-laki itu merasa marah. Emosinya seolah akan meledak. Dengan marah, Bian mengambil salah satu bola di keranjang.
Dia menatap kepala Jody seolah itu ada ring basket. Lalu, dengan penuh amarah, dia melempar benda itu ke kepala cowok itu. Membuat Jody terkejut dan jatuh pingsan begitu saja.
Tubuh Kara membeku. Tampak panik. "Jody?!" dengan susah payah, dia menahan tubuh Jody agar tidak terhempas keras dilantai. Di pangkunya laki-laki itu. Membuat seseorang disana tampak makin murka.
Bian berjalan kearah mereka dengan langkah berderap, membuat Kara menyadari keberadaannya. "Kenapa lo lempar dia?!" marahnya langsung.
"Kenapa lo segitu perhatian sama dia?"
Kara menatap Bian kesal.
Gadis berumur tujuh belas itu memutar bola matanya, menatap sosok jangkung didepannya dengan mata menyipit. "Tentu gue harus perhatian, gue manajer di tim basket kita, gue harus peduli sama kalian semua." katanya kembali melanjutkan tugas mengusap rambut Jody yang ada dipangkuannya pelan, lalu meletakkan sedikit minyak angin yang dia bawa dalam tas selempangnya diujung hidung cowok itu.
Sosok jangkung itu jelas marah. Bian tidak pernah terima cara Kara memperlakukan Jody. "Dia cuma pingsan."
Kara kembali menatap sosok itu, kali ini tampak marah. "Apa maksud lo hah?!" kesalnya. "Dia cuma pingsan? Itu gara-gara lo yang lempar bola ke dia keras banget!"
Bian mendengus. "Itu nggak sengaja. Lagi pula kenapa lo yang ngurus dia? Anak UKS banyak,"
Kali ini Kara tidak membalas. Dia hanya dia sembari tetap melakukan kegiatannya. Bian jelas berang. Benci melihat interaksi dua orang itu. Dia sengaja melempar bola basket ditangannya sekuat tenaga ke kepala cowok itu karena kesal Jody mengambil banyak perhatian Kara.
Bian berharap Jody langsung mati saja saat itu. Namun terlalu berharap besar jika hal itu terjadi karena sebuah bola basket.
Bian masih memperhatikan mereka, memendam rasa terbakar itu dalam kepalan tangan. Dia saat itu tidak dapat berbuat apa-apa, karena Kara belum jadi miliknya.
***
**note:
mungkin untuk beberapa part kedepan bakal menceritakan flashback mereka, rahasia-rahasia yang selama ini kalian pertanyakan.
dukung dengan di like+add fav+tip okee**
__ADS_1