Bad Heaven

Bad Heaven
bagian dua puluh satu


__ADS_3

"Ada beberapa gosip bilang lo sama Bian mau tunangan, ya?"


Kara menoleh cepat kearah gadis disampingnya. Alisnya terangkat. Setahunnya, kabar pertunangan mereka belum di umumkan, kalaupun orang-orang tau karena keluarga Baskara yang kehidupannya sering tersorot, itu masih tidak mungkin. Karena pertunangan mereka masih disembunyikan.


"Dari mana lo tau?" tanya Kara dengan mata menyipit.


Yona hanya menaikkan bahu santai. "Yah, beberapa orang gosip begitu dan gue cuma dengar."


Kara hanya bergumam kecil. Walau diantara seluruh teman kelasnya dia paling dekat dengan Yona, tetap saja tidak begitu dekat seperti sahabat. Entahlah, cukup rumit untuk dijelaskan. Dia dekat tapi tidak terikat dengan hal yang berbau persahabatan. Ada sesuatu yang seolah menghalangi mereka.


Terkadang juga Kara sedikit tidak nyaman bersama gadis itu, entah karena alasan apa.


Jam kuliahnya hari ini selesai, Kara membereskan bukunya, memasukkannya ke dalam tas sandangnya.


"Ra?"


"Ya?"


"Boleh pulang bareng nggak? Kendaraan gue di bengkel, lagi di service."


Tanpa berfikir panjang, Kara langsung menyanggupi. "Oke."


Bian hari ini tidak ada jam kuliah. Tapi dia tetap menjemput. Laki-laki itu tampak menunggu di mobilnya, tempat parkir mahasiswa.


"Hei—," Bian sudah tersenyum hendak menyapa Kara lalu berhenti saat menatap seorang gadis lain dibelakang pacarnya. "Oh, hai, Yon." katanya basa-basi.


Yona tersenyum. "Hai, Bian, gue boleh nebeng, ya?" mereka jarang bicara, namun tetap saja mereka basa-basi itu perlu. Bian hanya mengangguk kecil.


Kara duduk disamping pengemudi sedangkan Yona duduk dibelakang.


"Bi, hari ini kita jadi—,"


"Aku udah pergi tadi sama Bunda." jawab Bian cepat saat tau Kara akan menanyakan jadwalnya untuk konsultasi hari ini.


Kara merasa heran. Padahal laki-laki itu kemarin-kemarin tidak mau pergi tanpa dirinya namun gadis itu hanya mengangguk, setidaknya sekarang lebih baik. Bian bisa mengurangi ketergantungannya dengan Kara.


"Mau ke apartemen?" tanya Bian.


Kara mengerjap beberapa saat, lewat kaca dia melihat gadis di belakangnya tengah melihat mereka. "Hmm, ke mini market dulu, ya? Mau beli ice cream,"


"Boleh, mau sekalian nanti makan diluar nggak?"


Kara menghela nafas panjang. "Belum lapar,"


Mobil berhenti ditempat Yona berhenti. Gadis itu tersenyum tipis, mengucapkan terimakasih sebelum pamit.

__ADS_1


Bian menatap Yona yang menyebrangi jalan. Kara melihatnya dengan tenang. "Kenapa?" tanyanya.


Bian menatap gadis itu. "Dia aneh." ucap Bian serius.


Kara hanya diam. Tidak membalas.


***


flashback


*Mata Bian menatap kedekatan dua orang itu dengan datar. Hatinya panas. Kepalanya seolah siap meledak kapan saja karena emosi yang mengepul disana.


Bian tersenyum miris.


Dunia tidak adil. Disaat dia akhirnya tertarik pada seseorang, kenapa dia mendapatkan pengabaian? Ini tidak adil. Bian baru kali ini merasa begitu menginginkan seseorang namun orang yang dia inginkan tidak mengharapkannya.


Bahkan orang itu malah menginginkan orang lain. Bukan Bian.


Ditengah lapangan, Kara tampak tertawa bebas bersama laki-laki pujaannya. Jody, cowok itu beberapa kali memegang lengan dan bahu Kara, mengajari gadis itu untuk melemparkan bola pada ring.


Bian merasa nafasnya mulai sesak. Dia tidak kuat lagi. Akhirnya laki-laki itu buru-buru keluar dari gedung olahraga dan melihat sebuah mobil familiar yang berdiri di parkiran sekolahnya.


Dia masuk kedalam mobil itu dan menemukan Bundanya yang menatap Bian cemas. "Kenapa lama, sih, Bi? Bunda nungguin kamu."


Bian tidak menjawab. Wajahnya datar, namun mata anak itu terlihat menakutkan. Wanita itu menyadari ada yang aneh dari putranya. "Kenapa, Bi?" tanyanya cemas.


"AKU CUMA INGIN DIA!!! TAPI DIA SAMA SEKALI NGGAK MENGINGINKAN BIAN, BUN!" pekik Bian. "DUNIA TIDAK ADIL! SEHARUSNYA DIA MEMILIH AKU! AKU YANG PANTAS! TAPI DIA BAHKAN NGGAK PERNAH MAU MENATAP BIAN!!!"


Bunda Rianti terlihat panik. "Pak, kita ke rumah dokter Rudi!" ucap wanita itu pada sang sopir. Pria dikemudi itu tanpa banyak bicara segera menjalankan mobil tidak mau mencari masalah. Sekat di pasangkan oleh wanita itu.


Dan sang sopir mendengar ada suara berdebum dimana-mana, namun tidak berani menoleh*.


flashback end


***


Mereka akhirnya singgah di sebuah restoran. Biasanya Kara akan menolak saat Bian memilih ruangan khusus, namun kali ini gadis itu menyetujuinya. Masih agak cemas dengan kejadian beberapa hari yang lalu. Setidaknya jika mereka berdua, tidak ada orang lain yang akan menyulut emosinya.


"Nanti kamu mau nonton?" tanya Bian mengecup beberapa kali tangan Kara.


Gadis itu terkekeh kecil, mengusap rambut Bian. "Nonton apa?"


"Frozen 2?"


"Serius, Bi?" tanya Kara tak percaya.

__ADS_1


Bian malah memberikan tatapan seperti anak kucing yang menyedihkan. "Emang kenapa?"


Kara memutar bola matanya. "Oke, terserah kamu."


Bian tersenyum mendekatkan tubuh mereka, Kara menahan nafas saat Bian tepat didepan wajahnya, laki-laki itu menatap bibirnya dengan tatapan liar dan Kara tau apa yang diinginkan Bian, namun dia hanya diam melihat aksi laki-laki itu.


"Ini," jari Bian menekan bibir bawahnya. "Punya Bian," katanya. "Ini juga punya Bian,"laki-laki itu menggerakkan jarinya kehidung kecil gadis itu, sebelum tangan besarnya menangkup pipi Kara, mengusap pipi itu lembut. "Kamu adalah milik Bian." lalu gadis itu memejamkan mata saat Bian mulai mencium bibirnya, melumatnya pelan.


Kara meletakkan kedua tangannya di leher laki-laki itu, Bian makin menekan kepala gadis itu agar bibirnya masih dapat dia cium.


Bian tidak akan berhenti sebelum puas, namun sepertinya laki-laki itu terpaksa berhenti saat seseorang mengetuk ruangan mereka, beberapa pelayan membawa makanan.


Bian mendesah panjang. "Aku ke toilet bentar, ya, Ra," pamit laki-laki itu. Kara hanya terkekeh melihatnya.


Baru dua menit Bian pergi, ponsel diatas meja berbunyi keras. Ponsel Bian. Kara tidak mengangkat, takut itu adalah masalah Bian yang tidak seharusnya dia tau. Namun beberapa kali ponsel itu masih berdering keras setelah dia abaikan.


Membuat Kara berfikir mungkin itu benar-benar masalah penting. Dan mau tidak mau Kara mengangkatmu meski ragu.


"Maaf, kalau saya mengganggu tapi ini benar-benar penting."


Kara belum sempat mengucapkan salam namun si penelfon sudah berbicara. Dan entah kenapa dia mendengarkan tanpa bicara lagi..


"Bos, dia sudah sadar, apa yang selanjutnya kita lakukan, Bos? Apa kita harus membunuhnya atau melepaskannya? Dia pagi tadi sadar, Sandy Wijaya sadar, Bos."


Tubuh Kara membeku. Tubuhnya hampir limbung.


"Bos?"


Tepat saat itu, Kara mematikan percakapan itu. Sandy wijaya? Kakaknya? Ada apa? Membunuh? Pikirannya kacau. Nafas Kara mulai memburu.


Dengan sekuat tenaga, Kara berusaha berdiri. Lalu buru-buru keluar dari restoran. Otaknya hanya terfikir untuk segera pergi ketempat abangnya, memastikan kondisi laki-laki itu.


Beberapa pelayan menatap gadis itu dengan heran. Dia baru saja masuk beberapa menit yang lalu dan sudah keluar.


Entah memang benar atau karena kekacauan yang dia alami, Kara tidak menemukan satupun taksi. Dia juga tidak dapat berfikir memesan taksi.


Gadis itu pun berjalan tidak tentu arah, merasa kebingungan dan cemas. Dia kacau.


Kara tidak tau tepatnya dimana, namun secara tiba-tiba tubuhnya ditarik kuat oleh seseorang. Dia belum sempat berteriak saat tangan lain membekap mulutnya kuat.


"Hmmmp!"


"Diam! Gue nggak bakal apa-apain lo kalau lo diam!"


Kara memilih menurut saat tubuhnya didorong kedalam mobil. Seseorang masuk dan duduk di kursi pengemudi. "Gue nggak punya pilihan lain, maaf." kata sosok itu.

__ADS_1


Kara menatap wajah penculiknya dan memilih bungkam begitu mengetahui siapa orang itu. Tepat saat mobil itu mulai bergerak, Kara melihat Bian yang berlari keluar dari restoran dengan wajah panik.


***


__ADS_2