
Setelah hampir seharian berada di apartemen, mulai dari menonton film, sekedar membaca novel di sofa dengan Bian di pangkuannya dan memasak, Kara mulai merasa bosan.
"Bi, kita keluar yuk?" Kara menggerakkan tubuhnya, menjauh dari pelukkan erat Bian. Mereka tengah tidur-tiduran di sofa ruang tamu. Benar-benar tidak memiliki aktivitas hari ini.
Bian mengerang, tidak melepaskan Kara. Laki-laki itu menggesekkan ujung hidungnya beberapa kali dipunggung kecil milik Kara.
"Aku nggak pengen keluar, Ra, maunya malas-malasan sama kamu terus." ucap Bian dengan mata terpejam.
Mata Kara berputar beberapa derajat. Gadis itu terbiasa melakukan sesuatu daripada bersantai-santai tanpa kegiatan.
"Bi, aku bosan dan aku mau keluar," katanya masih berusaha melepaskan diri dari tubuh itu. "Kamu mau aku pergi sendiri atau kita pergi bareng?"
Dan kalimat terakhir Kara membuat laki-laki itu terduduk, menatap gadis itu tajam. "Oke, kita pergi keluar." ucapnya malas.
Kara menatap kepergian Bian sambil merapikan ikatan rambutnya yang berantakan. Dia membersihkan beberapa sampah dan benda yang berserakan sebelum mulai mengganti baju yang semalam dia pakai dengan kaus Bian yang paling kecil dan dipadukan dengan jeans miliknya yang tinggal waktu itu di apartemen Bian.
Gadis itu berdandan seadanya sambil menunggu Bian yang saat ini berada di kamar mandi.
"Udah?" tanyanya melihat Bian yang sudah berganti baju dan mencuci muka. Laki-laki itu bergumam, masih kesal karena Kara mengancamnya beberapa saat lalu. Gadis itu tau Bian tidak akan membiarkannya pergi kemana-mana sendiri setelah apa yang terjadi.
Saat Bian memperbaiki rambutnya di depan cermin, Kara berjalan mendekat, lalu dia memeluk tubuh besar Bian dari belakang, membuat laki-laki itu membeku beberapa saat.
Dari cermin didepannya, terlihat betapa mungilnya tubuh gadis itu dibanding tubuh Bian. Lagi, keterikatan Bian pada Kara semakin kuat saat rasa nyaman itu kembali hadir dalam dadanya melihat Kara yang memejamkan matanya saat menghirup aroma khas Bian.
__ADS_1
Tangan lentik Kara melingkupi tangan besar Bian, untuk beberapa saat keduanya hanyut dalam dunia yang mereka ciptakan.
Beberapa kali tangan Bian menyelinap melalui sela-sela jari Kara, lalu menggenggamnya lembut, berkali-kali sebelum mengecup tangan itu.
"Tanganku pasti bakal bau nanti," canda Kara. Dan Bian langsung menghisap salah satu jari gadis itu.
"Bian!" Kara menarik tangannya, memandang kesal Bian yang saat ini terkekeh. "Jadi benaran bau, Bi!"
Bian memeluk Kara hingga helaan nafas leganya terdengar, secara tiba-tiba laki-laki itu menaikkan tubuh Kara pada meja rias, lalu tanpa aba-aba Bian duduk dikursi, mulai menciumi bibir Kara.
Gadis itu awalnya menolak, mendorong dada Bian, namun laki-laki itu sedang tidak ingin ditolak. Akhirnya hanya pasrah saat Bian menggerakkan bibirnya ******* lembut bibir Kara.
"Bi, stop! No, Bi!" pekik Kara mendorong Bian saat laki-laki itu hampir memasukkan tangannya kedalam kaus Kara, mulai kehilangan kendali. "Itu diluar batas," ucap Kara dengan nafas menderu.
Bagaimana bisa hanya Kara yang membuat seperti ini? Bian mungkin sudah gila atau bunuh diri jika gadis itu benar-benar pergi dari hidupnya.
Untuk beberapa saat mereka bertahan dalam posisi itu sebelum akhirnya Kara memaksa Bian bangkit, kembali pada rencana awal untuk keluar.
***
Seperti pasangan umumnya, mereka menonton film, bermain di time zone sebelum menikmati makanan-makanan yang ada disetiap lantai mall. Untuk beberapa waktu Kara merasa bebannya menghilang. Untuk sejenak merasa hidup yang dia jalani normal, sama seperti orang lain.
"Kamu disini sebentar, ya, Ra, aku ke toilet sebentar," ucap Bian sebelum berlalu cepat meninggalkan Kara yang berdiri didepan pagar pembatas, melihat ramainya pengunjung dilantai dasar.
__ADS_1
Sambil menikmati donat yang tadi dia beli bersama Bian, Kara hanyut dalam pikirannya.
"Kara! Lo kara 'kan?!"
Tubuh Kara tersentak, terkejut hingga donat ditangannya jatuh ke lantai. Dia menatap asing seorang laki-laki didepannya. Untuk beberapa saat wajah itu mengingatkan Kara pada sosok yang ia kenal.
"S-siapa, ya?" tanya Kara tak nyaman dipandang sedemikian rupa oleh orang di depannya.
Laki-laki itu seolah sadar akan sesuatu lalu menatap serius Kara. "Akhirnya gue bisa ketemu lo langsung dan bicara," ucapnya. "Bisa bantu gue? Bisa ikut gue sebentar? Ada sesuatu yang ingin gue jelasin dan ada seseorang yang saat ini nunggu lo buat menjelaskan beberapa hal-,"
Sebelum laki-laki itu menyelesaikan ucapannya, Kara terlebih dahulu pergi begitu melihat Bian yang sudah keluar dari toilet. Dia tidak mau ada masalah setelah ada sosok laki-laki asing mendekatinya.
Bian saat ini sedang berada dalam masa sensitifnya. Apalagi menyangkut Kara.
"Bi!" Kara mendekat, dia tau laki-laki dibelakangnya masih melihatnya namun syukurnya dia tidak mengejar.
Entah siapa atau entah apa yang sebenarnya akan disampaikan laki-laki itu, Kara tidak ingin tau saat ini. Tidak saat kondisi sedang tidak memungkinkan.
Apa lagi melihat wajahnya yang mirip seseorang Kara seorang tersentak. Apa ada hubungannya dengan Jody?
Namun Kara berusaha mengelak itu dan berpura-pura tidak peduli.
***
__ADS_1