Bad Heaven

Bad Heaven
bagian enam belas


__ADS_3

Mata Kara tidak mampu berkedip saat rasa sakit itu mulai muncul di pipinya. Nafas ayahnya tampak memburu, begitu marah. Tidak beda jauh dari ayahnya, Ibunya juga menatapnya tak kalah kesal.


"ANAK SIALAN! KAMU HAMPIR SAJA MEMPERMALUKAN KELUARGA INI!" berang Wijaya setelah melayangkan satu tamparan keras.


Kara lagi-lagi tidak dapat berbuat apa-apa. Dia tidak melawan ataupun membantah, hanya diam dimaki-maki oleh orangtuanya.


"KAMU MAU KABUR SAMA KAKAKMU ITU?! KAMU MAU JADI ANAK YANG TIDAK BERGUNA SETELAH APA YANG SUDAH KAMI BERIKAN KEPADA KAMU?! DASAR ANAK TIDAK TAU TERIMAKASIH!"


Wijaya menjauh dengan langkah berdebum, Ibunya yang masih disana hanya begumam tajam sebelum mengikuti suaminya. "Kami kecewa, Kara."


Gadis itu terdiam beberapa menit sebelum tersenyum miris sambil mengusap pipinya yang terasa panas dan mulai membengkak. Kara menaiki anak tangga, berjalan dengan langkah pelan menuju kamarnya. Beberapa menit lalu dia masih tersenyum saat diantar oleh Bian sebelum hal ini terjadi.


Kara mengunci pintu kamarnya, lalu terduduk diujung kasur. Dia mengambil air panas dan handuk lalu mengompres pipinya. Tangisnya yang sejak tadi dia tahan pecah. Air matanya mengalir deras, namun isakkannya begitu kecil, Kara menahannya.


Dalam keheningan Kara kembali menangis sendiri sebelum akhirnya tertidur karena kelelahan.


***


Kara terbangun saat merasa hawa dikamarnya mulai panas. Dia terkejut saat melihat matahari sudah sangat terang dan jam di nakas menunjukkan pukul satu siang. Astaga, dia tidak pernah bangun sesiang ini. Jangan dipertanyakan lagi tentang orang tuanya yang tidak peduli.


Kara ingin segera bangun dan bergegas berkemas karena tiga puluh menit lagi ada jadwal kuliah, namun mendadak dia urungkan saat badannya terasa tidak nyaman untuk bergerak.


Seperti yang ia prediksi, panggilan dari Bian masuk. Kara mengangkatnya.


"Kamu sudah siap-siap, Ra?" tanya Bian disebrang.


Kara menghela nafas sebentar. "Aku... Nggak bisa masuk kayaknya hari ini,"

__ADS_1


"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Bian langsung mendengar nada aneh dari Kara. "Apa orang tua kamu kemarin marah?" ucapnya pelan dikalimat terakhir. Bian jelas sangat paham bagaimana kehidupan keluarga gadis itu selama ini.


Kara hanya tersenyum kecil. "Hmm, aku mau mandi dan sarapan-makan siang maksudnya aku bangun kesiangan hari ini."


Ada keheningan panjang beberapa saat. "Gimana kalau aku jemput kamu? Kita makan diluar?"


"Tapi bukannya kamu ada kuliah?"


"Jangan pikirin itu, kamu siap-siap aja dulu, Ra, kita makan diluar."


Kara menyetujuinya saja. Toh, ada bagusnya. Dia jadi tidak berdiam diri merenungi masalahnya dirumah.


Beberapa menit kemudian Kara selesai berkemas dan saat itu juga mobil Bian menderu didepan halaman rumahnya.


"Kenapa pakai masker?" tanya Bian melihat Kara mengenakan masker hitam miliknya.


"Aku lagi nggak enak badan," ucapnya masuk kedalam mobil.


Terdiam beberapa saat, mata Bian membesar dan rahang laki-laki itu mengetat marah. "SIAPA YANG MELAKUKAN INI?! ORANG TUA KAMU?!" teriak Bian melihat ada lebam dipip gadis itu. "JAWAB, RA!" Bian tidak dapat mengendalikan diri, emosinya mendadak meletup-letup, perasaan tidak terima yang begitu dalam.


"KARA!!!" teriak Bian tidak kunjung mendapatkan jawaban.


"BIAN!" Kara ikut membentak. "Ini cuma satu tamparan, nggak masalah, lagi pula aku emang salah," gadis itu sedikit menunduk.


"Nggak! Nggak ada yang boleh melakukan itu sama kamu!" Kara menyadari perubahan intonasi suara laki-laki itu. "Walaupun itu orang tua kamu!"


"Bi, tenang!" Kara mengambil salah satu tangan Bian yag berada di stir mobil. "Aku baik-baik aja, oke?"

__ADS_1


Mata Bian masih tampak marah, tajam dan Kara sedikit gemetar, teringat lagi satu kejadian beberapa tahun lalu. Jangan lagi, Ra, jangan lagi.


"Aku nggak apa-apa, Bi, itu wajar karena aku memang salah, aku hampir mempermalukan keluarga karena kabur dari acara makan malam kemarin-,"


"TAPI BUKAN BEGITU CARANYA! BUKAN DENGAN MELUKAI KAMU!" teriaknya.


"Hei, tenang, aku nggak apa-apa," buru-buru Kara menarik tubuh Bian kepelukannya, menenangkan emosi laki-laki itu. "Aku nggak apa-apa."


Bian menghela nafas berat, dagunya masih mengeras, marah, namun ikut membalas pelukan Kara kuat.


Mereka terdiam beberapa saat dalam keadaan itu. Setelah merasa Bian tenang, Kara menjauhkan sedikit kepalanya. "Kapan jadwal konsulnya?"


"Besok, jam tiga sore."


Kara mengangguk. "Aku bakal temanin."


Bian mengangguk, lalu kembali menarik Kara kedalam pelukannya. Mencium aroma gadis itu.


"Bi, apapun yang kamu pikirkan saat ini, aku nggak mau k-kalau kamu sampai berfikir untuk melakukan sesuatu sama orangtua aku, mau bagaimana pun mereka orangtuaku, kamu paham 'kan?" bisik Kara pelan dan ragu.


Mata Bian yang terpejam terbuka. Dia terdiam beberapa saat sebelum bergumam kecil.


Kara menjauhkan tubuh mereka, lalu menatap Bian tepat dimata. "Aku serius, kamu tau aku senekat apa 'kan?"


Dan tubuh Bian menegang mendengar ancaman tersirat itu. Matanya menatap Kara tajam. "Kara!" lalu dia kembali menarik gadis itu kepelukkannya.


"Kamu harus janji!"

__ADS_1


"Iya, aku janji, asal kamu jangan merealisasikan ancaman kamu."


***


__ADS_2