
"Aku ngantuk, Ra." gumam Bian pelan saat Kara selesai menutup luka ditelapak kakinya dengan kain kasa. Kotak 3K itu selalu disiapkannya untuk berjaga-jaga.
"Yaudah, tidur." kata Kara sembari membereskan peralatannya.
Bian menurut, naik ke ranjangnya, namun tidak menutup matanya, dia menatap setiap pergerakkan gadis itu disana. Dan saat Kara menatapnya, laki-laki itu menatap Kara dengan mata memelas membuat gadis itu mendengus pelan.
"Aku tidur di sofa aja."
Bian buru-buru bangkit, menarik Kara hingga gadis itu terjerembab kekasur. "Kenapa? Biasanya kita tidur di kasur yang sama," ucap Bian.
"Tapi, aku-,"
Sebelum Kara sempat memberi alasan, Bian sudah mengubah posisi Kara untuk tidur disampingnya, memeluk tubuh gadis itu erat. Benar-benar belum dapat menghilangkan bayangan Kara yang mencoba kabur darinya. Sejujurnya Bian masih ketakutan dengan itu, namun berpura-pura tidak peduli lagi karena Kara sudah berada dengannya saat ini.
Akhirnya Kara menyerah. Dia tidak menolak. Namun malam itu mata Kara sulit tertidur. Walau saat ini mereka terlihat baik-baik saja, namun dia bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang berubah diantara mereka, ada sesuatu yang mereka mulai sembunyikan.
Kara diam, menatap dada Bian yang berada didepannya. Pikirannya melayang. Sama halnya dengan Bian, laki-laki itu pun sejujurnya tidak dapat memejamkan mata, walau beberapa menit lalu ia merasa begitu mengantuk. Bian juga sejujurnya Kara belum memejamkan matanya, hanya menatap kosong.
Bian menghela nafas lelah. Mata tajamnya menatap tubuh kecil Kara yang berada dalam pelukannya. Ketakutan itu kembali hadir secara mendadak. Tangan Bian bergetar, namun dia menyembunyikannya dibawah selimut.
Kara mulai memberontak. Kara mulai mencoba pergi dirinya.
Beberapa kali gadis itu gagal. Namun siapa yang akan menjamin hal itu akan terjadi lagi pada percobaan selanjutnya?
Bian makin ketergantungan dengan kehadiran gadis itu sedangkan Kara sendiri mulai mencoba mencari celah meninggalkannya.
__ADS_1
Jantung Bian mulai berdetak capat, kecemasan dan ketakutan itu menghantui kepalanya. Menelan saliva dengan sulit, Bian mendekatkan hidungnya kepuncak kepala Kara, menghirup aroma itu dalam-dalam.
Memerintahkan untuk seluruh tubuhnya agar kembali rileks karena Kara masih berada didekatnya, masih bersamanya.
"Ra," panggil Bian lirih.
Kara tersentak dari lamunannya. Mengerti apa yang saat ini terjadi dengan Bian, gadis itu mengulurkan tangan memeluk Bian. Tangannya mengusap pelan punggung laki-laki itu. Yang serta merta membuat Bian akhirnya menghela nafas panjang, tenang.
Dan tidak butuh waktu lama, Bian tertidur dengan tangannya yang masih memeluk erat tubuh gadis itu. Memastikan bahwa sampai pagi ini Kara masih bersamanya.
Disisi lain, Kara sulit tidur. Tidak ada rasa kantuk. Semalaman itu dia hanya termenung dengan pikiran yang berkeliaran kemana-mana.
***
"Ra!" Bian mulai berteriak panik melihat sosok itu tidak ada di dapur ataupun kamar mandi. "Kara!" teriaknya.
"Kara!!!" kepanikan mulai menyerang Bian. Dia mencari Kara keseluruh sudut apartemennya, namun tangannya tanpa sadar membanting setiap barang yang ia sentuh. Kebiasaan buruknya saat emosi.
Bian tidak dapat berfikir jernih. Dengan wajah kusut sehabis bangun tidur dan pakaian kaus dan celana pendeknya, Bian keluar dari apartemennya.
Beberapa penghuni lain yang berada diluar menatap laki-laki itu aneh.
Bian melangkah menuju lift dan mencari pada setiap lantai. Hasilnya tetap sama. Kara tidak dapat dia temukan.
Mata laki-laki itu mulai memerah, siap meledakkan setiap emosi yang dia rasakan. Namun begitu ia menginjak lobby utama, tubuh Bian hampir meluruh melihat Kara yang baru masuk kedalam gedung sambil membawa dua kantung plastik.
__ADS_1
Gadis itu menatap Bian yang tampak berantakan. Bahkan laki-laki itu tidak menggunakan sendal.
"Bi," Kara memanggil, namun Bian sudah berlari memeluknya kuat. Tidak peduli pada penjaga disana. Tubuh laki-laki itu bergetar hebat.
"Bi, kenapa?" gadis itu mengenggam satu tangan Bian yang terasa dingin. "Sebaiknya kita masuk ke apartemen." ucap Kara melihat makin banyak orang yang memperhatikan mereka.
Kara membimbing Bian memasuki lift dan laki-laki itu diam dengan kepala tertunduk, namun kedua tangannya memeluk Kara. Gadis itu diam, mengerti jika ada sesuatu yang salah.
"Kamu kenapa?" kata Kara sepalan mungkin pada sosok Bian yang sudah duduk lemas di sofa. Gadis itu memberikan segelas air hangat pada Bian dan laki-laki itu meneguknya perlahan.
Bian mendongak, tangannya terulur menyentuh wajah Kara yang berada didepannya. "Aku pikir kamu pergi." bisiknya serak.
"Aku cuma beli beberapa bahan dan sarapan, aku lihat kulkas kamu kosong, lagi pula aku udah buat note didekat lampu tidur, kamu nggak lihat?" kata Kara, matanya melihat apartemen itu sudah berantakan.
Bian menggeleng pelan. "Aku pikir kamu pergi, kamu nggak ada dimana-mana, Ra, aku pikir kamu kabur dari aku. Aku-,"
Kara buru-buru memeluk Bian yang sudah bergetar hebat. "Tenang, oke. Aku disini sekarang." bisiknya mengusap punggung besar Bian.
Bian balas memeluk, mencium aroma Kara di leher gadis itu. "Ya, kamu disini sekarang." perlahan tubuh Bian mulai tenang.
"Minggu ini udah jadwal konsul kamu 'kan, Bi? Aku harap kamu nggak lupa, aku bakal nemanin kamu kesana, oke?" Kara mulai khawatir dengan kondisi mental Bian yang makin memburuk.
Bian mengeratkan pelukan mereka. "Ya, terserah kamu."
***
__ADS_1