Bad Heaven

Bad Heaven
bagian dua puluh dua


__ADS_3

Bebeng melirik dari kaca, bagaimana gadis yang ia yang beberapa saat lalu dia culik sejak tadi hanya diam, tenang, dengan pandangan mata kosong. Ini jelas bukan sikap seseorang yang baru saja di culik. Bahkan gadis itu sama sekali tidak bertanya alasan Bebeng menculiknya


"Lo bisa turun dan ikutin gue 'kan? Atau perlu gue paksa dan seret lo kedalam?" ucap Bebeng saat dia sampai didepan rumahnya.


Kara menoleh, lalu hanya menghela nafas, mengikuti penculiknya yang sudah keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumah.


Kara mengikuti langkah Bebeng yang menuntunnya ke lantai atas, lalu memasuki sebuah kamar bernuansa hitam-putih. Untuk beberapa saat Bebeng menoleh, menatap Kara yang tampaknya pikirannya entah dimana.


Laki-laki menepuk pundak gadis itu, membuat Kara sempat terkejut. Ia menatap Bebeng penuh tanya. Dan laki-laki itu memutar bola matanya, menolehkan ke arah balkon.


Disana ada sosok laki-laki yang tengah duduk di balkon, walau Kara hanya melihat punggungnya, dia jelas mengenal siapa laki-laki itu.


Sesuatu yang menyesakkan hadir di dadanya. Dia menatap Bebeng, lalu laki-laki itu mengangguk kecil.


"Gue cuma pengen lo selesaiin masalah lo sama abang gue," kata Bebeng pelan. "Gue nggak mau dia terus-menerus kepikiran masa lalu kalian. Gue cuma minta itu dari lo, setelah itu lo bisa kembali ke kehidupan lo." akhirnya laki-laki itu meninggalkan ruangan.


Disana sekarang hanya ada Kara dan laki-laki yang banyak menciptakan warna di masa lalunya.


Perlahan, Kara mendekat. Beberapa detik dia hanya diam tidak bicara dan laki-laki itu sepertinya tidak menyadari kehadirannya.


"Jody," panggilnya pelan setelah berusaha beberapa kali menelan saliva.


Tubuh laki-laki itu menegang. Dia segera menoleh dan seketika Kara tidak dapat menyembunyikan raut kesedihannya. Saat pertama kali mereka bertemu di rumah sakit, dia melihat luka bakar itu disana. Namun kali ini dia dapat melihat dengan dekat, seberapa besar luka yang dia ciptakan pada Jody.

__ADS_1


Laki-laki itu tersadar, lalu buru-buru menutup wajahnya.


Kara merasakan dadanya sesak. Tiba-tiba rasa bersalah itu kembali menusuknya. Kara luruh kebawah, tangisnya meledak tanpa bisa dia kontrol. "G-gue minta maaf," isaknya. "Maafin gue." dia tidak tau akan seperti apa wajahnya, namun gadis itu melepaskan semua rasa bersalahnya dihadapan laki-laki itu.


Kara merasakan tangan itu menyentuh bahunya. Gadis itu mendongak, menemukan Jody memposisikan dirinya didepan Kara, menatap gadis itu tak kalah sedih. "Kenapa lo minta maaf?" tanyanya dengan suara tercekat.


Tangis Kara makin kuat. Dia meraih tangan laki-laki itu, menggenggamnya. "M-maaf karena gue nggak pernah ada saat lo berusaha bertahan dari kebakaran itu, maaf gue nggak pernah sekalipun berusaha buat ketemu," Kara menahan tangisnya, menggenggam makin kuat tangan itu. "Maaf karena gue lo jadi begini." Lalu bahunya bergetar, suara isakkan itu terdengar keras memenuhi ruangan.


***


Bian mengepalkan tangannya, berusaha agar tidak merusak apapun yang berada dihadapannya. Dia menatap ponselnya disana, terdapat panggilan terjawab. Kara mengangkatnya.


Bian berteriak marah, melempar ponsel itu kesegala arah. Laki-laki itu menghancurkan apapun yang dia sentuh. Menghasilkan kehebohan dirumah besar itu. Para pelayan disana yang khawatir akan tuan mudanya itu menelfon nyonya mereka. Dan benar saja, wanita itu langsung datang dengan terpogoh-pogoh menuju kamar putranya.


"Bian!" panggil bundanya menyadarkan. "Bian, berhenti!" paniknya saat laki-laki itu tidak peduli dan tetap melampiaskan amarahnya, melempar barang-barang disana, lalu bergerak mencari benda lain. Beberapa kaca pecah menusuk permukaan kaki Bian, namun laki-laki itu terlalu larut dalam amarah sampai tidak merasakan apapun.


Kembali dari toilet, dia tidak menemukan Kara di meja mereka. Laki-laki itu bertanya pada salah satu pekerja disana dan mereka bilang Kara keluar dari restoran. Bian langsung mengambil ponselnya, berniat untuk menelfon gadis itu.


Namun tubuhnya membeku melihat panggilan terjawab disana. Kara tau. Berarti... Kara akan meninggalkannya.


Pikiran itu membuat Bian buru-buru keluar dari restoran, mencari gadis itu dengan panik disekitar sana, namun tidak dapat menemukan jejak apapun.


Beberapa orang dia perintahkan untuk mencari gadis itu. Namun dia tidak ada dimana-mana, bahkan di rumahnya sekalipun. Kara pernah mencoba kabur, tapi tidak sampai kabur dari rumah. Bahkan gadis itu pergi tanpa persiapan. Bajunya masih utuh dilemari.

__ADS_1


"Bian! BIAN!!!" Bunda Rianti memegang bahu laki-laki menyadarkan anaknya. Mata Bian akhirnya menatap wanita itu. Tubuh laki-laki itu melemah, tiba-tiba merasa lelah. Hal yang selalu dia rasakan setelah meledakkan emosinya.


"Dia pergi, Bun. Dia meninggalkan Bian. Apa yang harus aku lakukan? Apa, bun?" tatapan Bian sayu, raut wajahnya tidak karuan. "D-dia pergi, aku harus bagaimana?!" lalu tubuh Bian jatuh kebawah, membuat Rianti ikut jatuh karena berusaha menahan tubuh itu.


Bunda Rianti menangis, tidak tega melihat Bian yang hilang akal. Laki-laki itu terdiam beberapa saat sebelum menangis kecil.


"Kara pergi, Bun, aku harus bagaimana? Aku nggak bisa tanpa Kara!" Bian memukul kepalanya. "Dasar bodoh! *****!" berkali-kali ia pukul.


Rianti menahan tangan itu. "Bian, jangan seperti ini, nak," wanita itu tidak dapat melakukan apapun lagi selain mengiba agar anaknya itu sadar.


"Aku butuh Kara! Aku cuma butuh dia, Bun! Cari dia! CARI DIA!!!" pekik Bian.


"Bian, kenapa harus Kara? Masih banyak perempuan lain yang—," wanita itu tidak tahan lagi. Sudah cukup lama dia merasa muak akan ketergantungan Bian terhadap gadis itu. Apa yang anaknya harapkan dari gadis seperti Kara? Dia hanya gadis biasa yang tidak memiliki sesuatu yang spesial dalam dirinya.


"KARENA AKU CUMA MAU KARA! AKU CUMA BUTUH DIA!!!" teriak Bian. "CARI DIA BUN! CARI DIA!!!"


"Baik, bunda akan cari dia, tapi kamu harus tenang, oke?" wanita itu mengusap wajah Bian yang mulai memucat.


Bian tidak menjawab lagi, pandangannya kosong.


Jika menyakiti dirinya tidak akan membuat Kara kembali padanya, maka dia akan melenyapkan satu persatu orang yang Kara sayangi, hingga gadis itu tidak punya tempat bergantung selain dirinya.


***

__ADS_1


__ADS_2