Bad Heaven

Bad Heaven
bagian dua puluh tiga


__ADS_3

Sudah hampir tiga puluh menit berlalu. Mereka hanya diam, menenangkan diri masing-masing. Walau masih belum ada sebuah kejelasan, tetap saja perasaan mereka lebih baik.


Kara menatap Jody yang saat ini menatap langit yang mulai menggelap. Mereka duduk di kursi balkon. Walau sudah lebih tenang, rasa bersalah selalu muncul setiap melihat luka bakar di wajah itu.


Gadis itu menghela nafas panjang, merasa dadanya kembali sesak.


"Udah tenang?" Kara menoleh, menatap Jody yang tersenyum tipis menatapnya.


Kara hanya diam, tidak bereaksi. Lalu matanya menatap kaki. "Gue... Nggak tau harus bicara dari mana."


"Nggak usah buru-buru, gue bakal tunggu sampai lo bisa nyaman buat cerita," katanya pelan. "Gimana kita makan dulu? Udah mau masuk makan malam." Jody berdiri, menatap Kara dengan ragu.


"Atau lo mau pulang dulu?"


Gadis itu mengigit bibirnya. Lalu mendongak menatap Jody. "Maaf sebelumnya, apa untuk beberapa hari gue boleh... Tinggal disini?" tanya Kara hati-hati.


Jelas ada keterkejutan dari wajah laki-laki itu, namun berikutnya dia tampak bertanya-tanya apa yang terjadi pada gadis itu, namun memilih diam dan mengangguk kecil. "Tentu, gue nggak tau apa yang terjadi sama lo saat ini, Ra, tapi gue siap nolong lo dalam kondisi apapun." ucapnya berjalan kearah pintu.


"Ayo, Ra, makan dulu, Bebeng nggak suka makan kemalaman," ucapnya disana yang di angguki Kara. Dia mengikuti langkah Jody.


Dimeja makan, sudah penuh dengan makanan. Disana Bebeng duduk sambil memakan apel. "Bang, makan buah dulu," kata cowok itu melemparkan satu buah apel yang disambut Jody.


Bebeng menatap Kara yang tampak tak nyaman disana. "Ayo makan dulu," ucapnya pelan dan Kara mengangguk.


Meja makan itu penuh akan kecanggungan. Kara memasukkan sesendok nasi ke mulutnya tanpa nafsu. Pikirannya melayang kemana-mana.


Sedangkan Jody beberapa kali menatap Kara, masih tidak percaya bisa bertemu gadis itu akhirnya. Berbagai pertanyaan dikepalanya seolah mengepul melihat gadis itu disana. Seolah, dengan kehadiran Kara sudah cukup membalas penantiannya bertahun-tahun.


Bebeng menatap semuanya dan cukup lega. Walau sepertinya permasalahan mereka belum selesai, namun dia tidak bisa memungkiri kehadiran gadis itu membuat saudara laki-lakinya lebih baik. Bebeng selalu tidak tenang melihat wajah menyedihkan Jody yang menatap beberapa foto gadis itu—yang disimpannya diam-diam dalam laptop.


Bebeng tidak tau sampai kapan, namun tindakannya cukup berbahaya. Baik baginya maupun gadis itu sendiri. Dia membawa Kara secara paksa. Bebeng tidak punya pilihan lain. Laki-laki yang bersama gadis itu seolah memberikan pagar besar pada Kara, tidak ada yang dapat menyentuhnya.


Dan beberapa kali mendengar cerita Jody, dia tau seberapa mengerikannya keluarga Kara. Keluarga gadis itu tidak pernah peduli dengannya.

__ADS_1


Maka bisa dipastikan, masalah terbesar yang akan datang adalah laki-laki itu. Laki-laki yang selalu bersama gadis itu setiap Bebeng mengintai mereka.


"Beng, Kara akan tinggal beberapa hari disini, nggak apa-apa 'kan?" tiba-tiba Jody bertanya. Membuat baik Kara, menatap laki-laki itu.


Bebeng hanya mengangguk. "Ya, terserah." katanya tidak tau harus membalas apa.


Setelah menyelesaikan makan malam yang penuh kecanggungan itu, Kara dan Jody berjalan menuju taman belakang. Duduk disalah satu gazebo disana.


"Orang tua kalian dimana?" tanya Kara pelan.


Jody menoleh. "Mereka di singapore, mereka pulang dua atau tiga kali setahun karena mereka benar-benar sibuk," ucapnya pelan.


Gadis itu menghela nafas pelan. Menatap langit yang begitu kelam. Matanya menatap bunga-bunga disana yang tidak terawat. Seolah tidak pernah disentuh.


"Hari itu," Kara menelan salivanya beberapa kali. "Semuanya, karena gue. Gue yang salah." nafas gadis itu mulai tersendat.


Jody menoleh, menatap gadis itu dalam. Mata mereka bertemu. "Kenapa lo mendikte diri lo yang salah? Atas dasar apa, Ra?"


Jody membuang pandangannya. "Ra, sebenarnya gue nggak pernah ingin tau alasan kenapa hal itu terjadi, gue nggak pernah mikirin itu. Gue cuma ingin tau, apa yang gue lewatkan sampai-sampai keadaan kita benar-benar berubah? Ada apa, Ra? Gue benar-benar nggak paham."


Kara menatap Jody dengan tatapan kosong. Dadanya sesak. "Ceritanya panjang," katanya pelan. "Sampai gue bingung ngejelasinnya darimana."


Mereka bertatapan beberapa saat sebelum Kara membuka mulut, mulai bercerita.


***


Akhirnya yang ditakutkan Rianti terjadi. Bahwa suaminya mengetahui keadaan anak mereka. Bahwa Bian kembali berulah. Membuat pria itu marah besar.


Bian di rawat ketat di rumah mereka, setiap beberapa jam dokter akan mendatangi laki-laki itu itu, memastikan emosi Bian yang tidak stabil dan meledak-ledak.


Bahkan beberapa kali, mereka terpaksa memberikan laki-laki itulah obat penenang karena terlihat agresif.


Rianti merasakan kepalanya berdenyut hebat. Bian adalah salahnya. Dia tidak bisa membantu Bian dari tekanan yang dia dapat sejak kecil. Karena satu-satunya ahli waris Baskara, anaknya diberikan tekanan yang tidak seharusnya dia dapatkan.

__ADS_1


Bian tidak pernah mengeluh. Dia selalu mengiyakan setiap perintah ayahnya. Dan saat Bian menginginkan Kara, Rianti memberikannya pada sang putra. Walau dia sendiri tidak pernah menyetujui itu. Dari beribu alasan dia membenci Kara, tetap terkalahkan dengan permintaan pertama Bian.


Dan Rianti hanya dapat memberikan itu. Setidaknya membuat Bian merasakan kebahagiaan di tengah tekanan yang dia rasakan. Namun, itu tidak lebih baik. Bian makin tertekan karena keterikatannya yang terlalu dalam pada gadis itu.


Rianti sejak awal tau bahwa Kara sebenarnya tidak pernah benar-benar menginginkan Bian seperti laki-laki itu menginginkannya, namun tetap saja gadis itu adalah seseorang yang membuat anaknya bahagia. Maka Rianti menggunakan segala cara mengikat gadis itu. Walau harus mengikat keluarganya dengan keluarga gadis itu yang begitu menjengkelkan. Mereka menatapnya dengan mata kerakusan yang begitu nyata.


Rianti begitu membenci mereka. Dari hal yang paling dia benci, salah satunya adalah kebenciannya pada sosok Kara karena membuat Bian lebih terikat pada gadis itu daripada dirinya, wanita yang berjuang melindungi laki-laki itu.


"AKU MUAK DENGAN ANAKMU ITU!" murka Baskara dikamar mereka. Pria itu baru pulang dari kantornya dan mengetahui apa yang terjadi pada anaknya. "Kalau dia bukan anakku, ahli warisku, aku sudah membunuhnya!"


Mata Rianti membelalak, menatap suaminya tidak percaya. "ITU SEMUA JUGA SALAHMU DAN AYAHMU!" teriaknya sesak. "Kalian terlalu menekan anakku! Dia hanya anak kecil saat itu dan kalian terlalu menekannya karena obsesi kalian pada bisnis sialan kalian!!!" pekiknya tak kalah marah.


"JANGAN LANCANG KAMU BICARA!" teriak Baskara didepan wajah Rianti. "KENAPA KAMU HANYA MELIMPAHKAN KESALAHAN ITU PADAKU?! KAMU BAHKAN DULU HANYA DIAM TANPA BERANI BICARA LANGSUNG! SEKARANG KAMU BARU PROTES?!"


Rianti mulai menangis. Membuat sang suami menghela nafas kasar.


Ya, dia memang salah. Dia selalu marah pada tindakkan itu. Namun tidak pernah berani bicara karena takut akan dibuang keluarga Baskara. Takut kehilangan apa yang dia miliki. Dan akhirnya dia mengorbankan anaknya. Membiarkan anak itu tertekan sendirian.


Ya, dia bahkan tidak lebih baik dari keluarga Kara.


****


**Note:


mulai rumit teman-teman?


karena agak terlambat update, gue bakal double up hari ini, yay!!!


mungkin part selanjutnya bakal dipost jam 8-9 jadi kalian tunggu okee.


dukung cerita ini dengan di like+add fav+ kasih tip, ya 💛


jaga kesehatan terus semua. jangan bandel keluar rumah**.

__ADS_1


__ADS_2