Bad Heaven

Bad Heaven
bagian sebelas


__ADS_3

Rima, ibu Kara benar-benar bersemangat mengikuti proses Kara dari ketempat spa, menata rambut, hingga memilih pakaian dan sepatu. Wanita berumur empat puluhan itu benar-benar ingin mempersiapkan segalanya sebaik mungkin.


Seperti Kara yang keluarganya tau, gadis itu hanya patuh mengikuti setiap prosesnya. Apapun perintah ibunya dia turuti, walau dalam hati Kara bergumam bahwa ibunya terlalu berlebihan dalam hal ini.


Namun tidak ada yang berlebihan jika menyangkut keluarga Baskara, bagi keluarganya yang mengagungkan mereka.


Satu jam sebelum acara berlangsung, Kara baru siap dengan segalanya. Mereka kembali saat langit sudah menggelap. Dirumah, keluarganya menyewa beberapa orang mendekorasi dan memesan makanan untuk kedatangan keluarga Baskara.


Kara yang sampai dikamarnya mematut dirinya sendiri dikaca dan sedikit terkejut melihat sosok disana bukanlah seperti dirinya. Tampak cantik, anggun dan lebih menarik entah untuk karena perawatan yang berjam-jam lamanya ataupun bajunya yang tampak mewah dan elegan.


Gadis itu tidak tau kenapa pikirannya seolah terpecah memikirkan bahwa mimpi buruknya makin nyata. Terikat bersama sosok laki-laki yang sudah banyak menghilangkan cahaya harapan dihidupnya. Terikat bersama seorang laki-laki yang terobsesi dengannya.


Ada perasaan kosong yang tak nyaman yang tiba-tiba menghampiri Kara, namun gadis itu menggeleng keras.


Dia juga membutuhkan Bian! Bentaknya dalam. Dia butuh laki-laki itu, apapun kejahatan yang Bian lakukan padanya, dia tetap butuh Bian untuk dirinya.


Ponsel Kara berbunyi, gadis itu membesarkan matanya melihat nama saudara laki-lakinya disana. Kara buru-buru mengangkatnya. "Bang? Abang dimana? Abang nanti datang 'kan?" tanyanya bertubi-tubi.


Terdengar helaan nafas dari sebrang. "Ra, abang udah memutuskan untuk nggak akan pernah lagi kembali kerumah itu."


Tubuh Kara membeku. "M-maksud abang apa? Bang... Kara mohon jangan kayak begini, jangan pergi, cuma abang yang bisa Kara harapkan...," cicit Kara.


"Kamu dengar baik-baik, mungkin abang memang anak kurang ajar, tapi abang merasa sesak dirumah, Ra, orangtua kita mulai keterlaluan, abang tau mereka bagaimana, tapi ini mulai kelewatan," katanya pelan. "Abang nggak akan pernah ninggalin kamu sendiri. Ra, terkadang kita harus sadar bahwa nggak semua yang kita mau dapat terwujud, kamu nggak usah mengharapkan mereka lagi, Ra, ayah dan Ibu nggak akan pernah sadar perjuangan kamu untuk mendapatkan mereka, kamu nggak usah mengorbankan diri dengan terikat besama orang yang bukan kamu inginkan,"


"Bang, aku...,"


"Ra, minggu depan abang dipindah tugaskan ke Kalimantan, dua hari lagi abang akan pergi kesana, kamu harus buat pilihan dalam satu menit ini," suara itu tegas. "Abang akan bawa kamu ke Kalimantan, kita pindah kesana, meninggalkan rasa sesak yang kamu rasakan disana, lalu kita mulai hidup yang lebih baik atau kamu tetap disana menjalani peran kamu yang diataur orang tua kita dan keluarga Baskara."


Jantung Kara berdetak kencang. Tangannya berkeringat, bergetar. "Bang...,"

__ADS_1


"Semua keputusan kamu, akan menghasilkan jalannya sendiri."


Kara benci dihadapkan pada sebuah pilihan.


***


Bian tersenyum mematut dirinya yang dibalut kemeja putih dengan celana bahan, rambutnya ditata rapi. Laki-laki itu tertawa kecil melihat betapa bodohnya dia terlihat.


Semua orang akan mengatakan Bian tidak waras bila tau betapa tergila-gilanya laki-laki itu pada Kara. Seorang gadis kuat dan membuatnya nyaman dengan caranya sendiri. Selama bersama Kara, gadis itu memang jarang bersikap manis seperti gadis kebanyakan, namun entah kenapa Bian merasa bahwa Kara memberikan rasa nyaman, bersikap manis yang tidak dibuat-buat padanya dan terasa alami serta pas.


Kara. Gadis itu adalah candu Bian yang lain selain susu vanila, atau bisa dibilang Bian ketergantungan?


Bian turun kelantai dasar saat Bundanya memanggil. Seluruh keluarganya selain Jessy, akan pergi kerumah Kara untuk membicarakan masalah pertunangan mereka.


Bian sedikit tersenyum miring mengingat itu. Jika mereka terikat dengan hubungan yang lebih dalam, jelas saja itu menguntungkannya dalam segi apapun. Dia akan semakin berkuasa akan gadis itu, dia akan semakin punya hak pada Kara dan status mereka jelas akan berpengaruh pada orang-orang yang mugkin saja tertarik pada gadis itu.


Kalau saja Kara tidak mengancam akan meninggalkannya, Wafi sudah dia bunuh tanpa jejak. Memikirkan itu membuat Bian menyeringai, merasa lucu.


"Bian, ayo, mobil sudah siap," bundanya tersenyum pada Bian, menggandengan laki-laki itu menuju mobil mereka. Sedangkan ayahnya sendiri hanya diam dengan wajah kaku mengikuti dari belakang.


Bian tidak menjawab, hanya diam dibimbing Bundanya. Namun Rianti tau bagaimana bahagianya laki-laki itu saat ini. Wanita itu mau tak mau tersenyum.


***


Begitu sampai dirumah berwarna putih gading itu, Rima, ibu dari Kara itu menyambut mereka dengan senyum, namun Bian tidak bodoh melihat bahwa senyum wanita itu adalah senyum kaku.


Ada sesuatu yang salah disini.


"Bu Rianti, pak Baskara sama nak Bian sudah sampai, tepat sekali makanan lima menit lagi selesai dimasak para koki," senyum wanita itu. "Ayo kemeja makan, duduk dulu." Rima membimbing Keluarga Baskara itu memasuki rumahnya.

__ADS_1


Mata Bian menyipit melihat dimeja makan itu tidak ada Kara.


"Wah, makanannya banyak sekali," Rianti tersenyum, membuka pembicaraan. "Dimana pak Wijaya, Kara dan Sandy?" tanyanya.


Rima, wanita itu tersenyum gugup, hingga membuat tangan Bian terkepal. Hal-hal buruk yang mungkin saja terjadi sekarang berputar dikepalanya, membuat jantung Bian berdetak berlebihan. Kata 'bagaimana jika' menghantuinya saat ini.


"Duduk dulu, sebentar lagi mereka akan datang, suamiku dan Kara antusias mempersiapkan diri mereka," kelakar Rima yang sebenarnya sama sekali tidak lucu.


"Ah, begitu," Rianti tersenyum. Dia melirik suaminya yang larut dalam keheningan dengan wajah kaku. Begitu pula dengan anaknya, laki-laki itu tampak mengeraskan rahangnya. Sadar akan sesuatu, Rianti merasa hatinya tertohok, sadar bahwa Bian pasti mulai berspekulasi buruk tentang terlambatnya gadis pujaannya.


Rianti ibunya dan cukup mengerti bagaimana anak itu.


"Kara mana? Kenapa lama sekali? Bisakah aku cek kamarnya, tante?" Bian berucap setelah merasa tak mampu menahan rasa gemuruh didadanya.


"T-tapi Kara sedang bersiap-,"


"Aku akan mengetuk lebih dahulu, aku janji segera turun," wajah Bian tampak tegas, tidak ingin ditolak.


Rima tidak punya alasan lagi, dia dengan ragu mengangguk. "Y-yasudah, pergilah kesana." katanya pelan.


Bian tanpa basa-basi berjalan menuju lantai dua tempat kamar Kara berada. Jantungnya makin berdetak saat semakin dekat dengan pintu berpelitur putih itu.


Mengindahkan janjinya pada Rima, Bian membuka kamar Kara tanpa permisi. Dan kata 'bagaimana jika' yang sejak tadi berputar dikepalanya hilang.


Terputus begitu saja ketika menemukan kamar itu kosong dengan jendela kamarnya yang terbuka lebar. Dengan amarah yang mulai menggerogoti hatinya, Bian berlari mendekati jendela dan melihat ada tangga disana.


Kamu membuat keputusan yang salah Kara. Kamu membuat keputusan yang salah.


***

__ADS_1


__ADS_2