
Kara terkejut saat melihat cahaya terang yang memasuki celah gorden. Gadis itu melirik jam weker di atas nakas dan makin terkejut saat melihat jarum jam menunjukkan pukul dua belas siang.
Astaga! Gadis itu mengumpat pelan. Dia benar-benar kesiangan hari ini gara-gara begadang bermain ular tangga dengan Bian.
Kara melepaskan tangan Bian yang memeluk perutnya dengan pelan, hendak segera kedapur dan mandi. Hari ini dia ada jadwal kuliah pukul satu. Dan itu berarti waktunya tak banyak.
Namun saat tangan Bian berhasil dia singkirkan, laki-laki itu terjaga dan langsung meraup kembali tubuhnya dalam pelukan.
Kara berdecak, mengacak rambut Bian yang mulai panjang. "Bi, aku ada jadwal kuliah jam satu nanti," katanya.
"Kita bolos," ucapnya dengan suara serak.
"Tapi—,"
"Kamu lupa yang aku bilang semalam? Kita mau ke butik nanti, siapin baju," kali ini Bian mendongak, dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya.
"Yaudah kalau gitu, lepas, aku mau bikinin sarapan buat kita,"
Bian menggeleng. "Nggak mau,"
"Bi," ucap Kara memperingati.
Bian makin mempererat pelukannya. "Bentar, Ra, masih mau malas-malasan," kini kaki Bian ikut-ikutan melilit tubuhnya.
Kara mendengus pelan. "Bi, kita udah kesiangan sarapan—,"
"Delivery aja, Ra,"
"Tapi —,"
"Oke, nggak punya cara lain lagi," ucapnya. "Permintaan pertama, satu jam malas-malasan, kita delivery, oke?"
Dan ucapan Bian membuat Kara cemberut. Kesal mengingat laki-laki itu berhasil memenangkan permainan malam tadi dan sekarang laki-laki itu punya tiga permintaan yang harus dia turuti.
__ADS_1
"Oke, Ra?" tanya Bian sekali lagi dengan nada yang menyebalkan.
"Oke, tuan, apapun keinginanmu!" dengus Kara sebal. Laki-laki itu terkekeh, makin mengeratkan pelukannya.
Lengan Bian menyentuh bibir Kara dan dengan kesal, gadis itu mengigit lengan laki-laki itu hingga Bian memekik kaget.
Kara tersenyum dalam hati, setidaknya rasa sebalnya sedikit terobati.
***
Setelah sarapan—makan siang dengan bubur kacang hijau dan roti bakar—Bian sebenarnya menginginkan soto panas untuk makanannya, namun Kara mengomelinya tentang mereka yang telat makan dan tak seharusnya langsung diisi dengan makanan berat— akhirnya mereka segera berkemas menuju butik yang dipilihkan Bunda Bian.
Kara memilih pakaian yang mudah dia buka karena pasti nanti akan ada beberapa potong pakaian yang doa coba. Gadis itu hanya memakai tanktop bertali spaghetti, dilapisi kardigan rajut milo dan dipadukan dengan rok panjang. Selain mudah untuk dilepas, hanya pakaian ini yang menurut pas yang dia temukan di lemari baju Bian—yang berisi baju-baju Kara saat menginap disana.
Bian juga hanya memakai baju kaus polos dan dilampisi kemeja flanel merah dan dipadukan dengan celana diatas lutut bewarna coklat muda.
"Nggak pa-pa nih, pakai baju sesantai ini?" tanya Kara sedikit ragu.
"Ya, terus pakai baju apa lagi, Ra? Pakai baju bagus nanti pasti jadi kusut, kita 'kan nanti gonta-ganti baju,"
Mobil Bian melaju dengan kecepatan normal, membelah jalan yang tidak ramai hari ini. Begitu sampai di depan butik yang Bunda Rianti maksud, mata Kara jelas tampak kagum melihat nama butik itu.
Kara cukup familiar dengan namanya. Butik itu terkenal karena hasil tangan sang desainer sering dipakai orang-orang penting.
Kara sebenarnya tidak perlu terkejut lagi, mengingat bagaimana keluarga Baskara, namun tetap saja rasa kagum itu sedikit ada.
Mereka memasuki butik, Bunda Rianti sedang berbicara diruangan tertutup bersama sang desainer. Dua orang itu dibimbing karyawan disana untuk masuk.
"Ini anak saya dan calon menantu saya, kamu jelas tau apa yang luar biasa untuk mereka 'kan?" ucap Bunda Rianti begitu Kara dan Bian mendekatinya.
Sang desainer hanya tersenyum tipis. "Ya, tentu. Saya tau bagaimana kualitas keluarga Baskara. Tenang saja," dan selanjutnya baik Bian dan Kara menuju ruang ganti.
***
__ADS_1
Potongan kebaya itu tampak sederhana, namun jika diteliti lagi modelnya unik dan seolah memperlihatkan keindahan dari tubuh Kara. Saat karyawan yang membantunya memakaikan pakaian itu bersorak kecil melihatnya. Kara menatap cermin besar yang ada disampingnya.
Tiba-tiba saja ada perasaan kosong yang muncul, namun dia buru-buru menggeleng. "Tirainya saya, buka, ya,mbak," ucap sang karyawan.
Tirai terbuka, Bunda Rianti tampak kagum. Dia melirik ruang ganti sebelah yang juga terbuka pelan, laki-laki itu hanya mengenakkan kemeja batik biasa dengan celana bahan hitam, namun auranya tampak lebih dewasa.
Bian tidak dapat menyembunyikan senyumannya. Jantungnya berdetak. Gadis itu akan makin terikat dengannya dan hanya bersabar beberapa tahun lagi, dia benar-benar memiliki Kara sepenuhnya. Pemikiran itu membuat Bian makin tersenyum lebar.
Laki-laki itu mendekat dan meletakkan tangannya di pinggul gadis itu. "Kamu cantik," bisiknya pelan. "Sebelum-sebelumnya juga cantik."
Kara yang tersenyum kecil mendengar rayuan konyol itu.
Mata Bian kini menatap tubuh gadis itu teliti. Lalu tatapan kagum itu berubah marah. "Maaf, bajunya apa bisa tertutup dari ini?" katanya.
Sang desainer menaikkan satu alisnya tampak bingung.
Bian menyipitkan mata. "Anda lihat pacar saya? Tubuhnya hampir dapat dibaca lewat tatapan mata," katanya tajam. "Dan ini terlalu terbuka, terlalu mengekspos tubuhnya! Saya nggak mau tau, saya mau kebaya yang lebih tertutup!"
Beberapa detik orang-orang terdiam.
Bunda Rianti berdehem, lalu tertawa canggung. "Bian memang sedikit posesif dengan Kara, jadi tolong anda maklumi," katanya pelan. "Seperti kata anak saya, saya mau kebayanya dibuat lebih tertutup."
Kara menatap dua wanita didepannya. Sedikit tidak habis pikir dengan Bian, menurutnya kebaya ini biasa saja walau memang sedikit terbuka namun masih dibilang wajar. Dan ibu laki-laki ini malah menuruti perintah anak kesayangannya.
Kara cukup paham bagaimana posisi Bian bagi Bunda Rianti—bahkan wanita itu pernah mengatakan secara blak-blakan tentang hal itu.
Bian anak laki-laki satu-satunya di keluarga Baskara.
Jika merasa marah karena hal kecil, Bian berikutnya akan meledak-ledak tidak dapat mengendalikan emosi. Maka dari itu, Kara Buru menarik lengan Bian, menatap laki-laki itu.
"Hei, jangan marah, kebaya ini 'kan bisa diperbaiki," kini tangan Kara menarik Bian agar mendekat. Lalu memeluknya. "Jangan marah." bisiknya bagaikan sihir.
Bian mengangguk, membalas pelukan gadis itu, emosinya menguap begitu saja.
__ADS_1
Interaksi mereka itu diperhatikan Rianti dengan tatapan datar, tidak terbaca.
***