
Kara meremas rambutnya saat kepalanya berdenyut memikirkan masalahnya. Setelah memilih melawan, gadis itu tersentak dalam satu hal. Bian adalah manusia yang paling benci penolakan.
Beberapa kali menolak permintaan Bian, Kara selamat. Namun kali ini perasaannya tidak enak. Pikiran buruk mulai memenuhi kepalanya. Bagaimana kalau laki-laki itu marah karena kali ini Kara menolaknya lagi dan akan ada pemberontakkan darinya lagi?
Dan bagaimana jika bunda Rianti tau?
Orangtuanya dan bunda Rianti adalah sosok kuat yang sekali pun tidak dapat Kara lawan.
Tubuh gadis itu melemas, merosot terduduk dilantai. Semua orang tau bahwa Kara adalah gadis terkuat, Teguh pendirian dan tidak cengeng. Tapi kali ini julukan yang banyak dia terima dari orang itu runtuh.
Kara memeluk lututnya, menangis tanpa suara, lebih tepatnya berusaha menahan isakkan itu keluar. Jangan sampai membuat suara yang akan terdengar oleh keluarganya, dia tidak boleh terlihat lemah.
Dalam tangisnya, Kara memikirkan banyak hal. Bagaimana caranya bisa lepas? Bagaimana caranya bisa membuat orangtuanya mengerti? Bagaimana caranya mendapatkan sedikit perhatian orangtuanya selain dengan Baskara?
Sudah ribuan kali kalimat itu bercokol dalam benaknya, namun pada akhirnya dia terdiam dan sadar bahwa tidak ada yang dapat dia lakukan.
Kara, kamu cukup ikuti semuanya seperti biasanya, biarkan semuanya berlalu. Tidak apa-apa kamu menderita, yang penting dengan keluarga Baskara, ayah dan ibumu akan sering memperhatikanmu. Benar bukan? Jalani saja, toh tidak ada ruginya bersama Abian Baskara, seorang pewaris tunggal perusahaan Baskara. Kamu pasti akan bahagia Kara.
Pikiran itu membuat Kara menghela nafas kecil lalu mengusap bekas air matanya. Benar, mengabaikan rasa sesak yang dia rasakan, Kara berusaha kuat dan bermuka tebal mengingat kata-kata itu.
Ikuti alurnya. Ikuti takdirnya.
***
Pagi ini Kara bangun dengan mata bengkak, untung saja tidak ada mata kuliah pagi hari ini. Badannya terasa lemas, entah efek menangis semalam atau efek baru bangun tidur.
Memutuskan untuk mandi, Kara memakai kaus oblong dan celana pendek setelahnya, dia memilih duduk disebrang kasur daripada turun untuk memakan sarapan.
Gadis itu menatap kosong ubin dibawahnya beberapa saat, sebelum mengambil ponsel, menghubungi Bian. Hebatnya, dalam beberapa detik saja panggilan itu langsung diangkat.
"Halo? Bi?"
__ADS_1
Tidak ada jawaban disebrang namun Kara tau Bian mendengar.
Menghela nafas, dia berucap. "Bi, aku minta maaf tentang kemarin, aku hanya kesal, aku juga nggak tau kenapa," Kara menjeda kalimatnya. "Bi, aku udah berfikir panjang malam tadi dan aku putuskan, aku mau melanjutkan rencana Bunda kamu buat tunangan, aku siap."
Ada keheningan panjang disana. "Beneran, kamu serius 'kan, Ra?" tanya suara itu serak. "Ra, nanti malam keluargaku bakal datang, aku akan sabar sampai malam nanti buat ketemu kamu," suara Bian tampak bersemangat.
Kara bergumam pelan. "Ya, aku bakal tunggu. Aku bakal bilangin ke keluargaku juga,"
"Keluarga kamu udah diberi tau bunda kemarin malam, Ra," aku Bian. "Kamu tau 'kan, Ra, aku benar-benar sabar selama ini sama penolakan kamu, jadi sejujurnya kalaupun kamu kemarin nolak, pertunangan kita akan tetap berlangsung, Ra." ucap Bian.
Kara tersenyum tipis. "Ya, aku tau. Yaudah, aku matiin, ya? Aku belum sarapan."
"Yaudah, matiin aja, sarapan dulu."
Dan sambungan dimatikan. Kara beranjak dari kasur, menuju dapur. Dan matanya sedikit melebar melihat keluarganya tampak lengkap di meja dapur.
Dan sesuatu yang selama ini dia harapkan terkabul. Kedua orangtuanya tersenyum hangat menyambut Kara. Ibunya tampak bersemangat membawa Kara duduk disalah satu kursi disana.
Kara yakin ucapan ibunya itu hanya kebohongan. Dia yakin bahwa ibunya bahkan tidak tau apa hal yang dia suka dan tidak. Nasi goreng rendang? Bahkan Kara baru tau makanan itu ada.
Namun bodohnya dia, gadis itu merasakan senang yang meletup.
"Kamu tau, Ra? Ibumu sangking semangatnya masak buat kamu, dia bangun pagi sekali," Ayah melirik Ibunya. "Bahkan, kita disini belum boleh makan sebelum kamu turun." ayahnya terkekeh.
"Makasih-," suara dentingan sendok dan piring yang beradu memutuskan ucapan Kara. Sandy, kakak laki-lakinya yang sejak tadi diam menatap tajam tiga orang dimeja makan itu.
"Kamu bodoh atau terlalu naif, Ra?" ucapan tajam itu menyentak Kara. "Ayah sama Ibu cuma melakukan ini gara-gara kamu akan menjadi calon menantu keluarga Baskara, kalau tidak, kamu nggak akan pernah dilihat sama mereka, Ra!"
"Sandy!" tegur Ayahnya.
Bukannya berhenti, laki-laki itu makin terbakar. "Mau sampai kapan kamu jadi boneka hanya karena menginginkan kasih sayang dari orang yang bahkan tidak pernah peduli sama kami, Ra! Sekarang kamu mengorbankan kebahagiaan kamu, besok mungkin nyawa, tapi kamu harus tau satu hal, apapun yang akan terjadi sama kamu, apapun yang akan kamu korbankan, tidak akan ada yang peduli, Ra!" kalimat itu benar-benar menusuk ulu hatinya. Namun gadis itu masih berusaha tidak mempedulikan fakta itu.
__ADS_1
"SANDY!"
Sandy, mundur dari meja makan, keluar dari rumah itu dengan raut muka kesal. Mobil laki-laki itu terdengar berderum keras dan menghilang secara perlahan.
Kara membeku dimeja makan, ibunya tiba-tiba mendekat, mengusap punggungnya lembut dengan senyum. "Jangan fikirkan omongan abang kamu, ya, dia pasti cuma kesal karena kamu akan terikat sama orang lain," katanya.
Ayahnya pun mengiyakan. "Betul, kamu makan yang banyak, Ra, keluarga Baskara akan datang malam ini untuk membicarakan pertunangan kamu dan anaknya," katanya. "Kamu memang anak pintar,menggaet anaknya, kamu pasti tau laki-laki itu adalah pewaris satu-satunya, pada akhirnya kamu berguna juga untuk keluarga ini." kata Ayahnya yang makin membuat Kara sesak.
"Nanti, kita akan membeli pakaian untuk malam nanti dan nanti ke salon memperbaiki rambut kamu," ucap ibunya.
Sejak dulu Kara ingin seperti teman-temannya, pergi ke mall bersama, memilih baju dan kesalon bersama ibu. Pasti menyenangkan. Namun saat hari itu datang dia merasa semua khayalannya tidak sama. Ini berbeda.
"Ingat, Ra, kamu harus berakhir dengan anak keluarga Baskara itu, terserah kamu melakukan apa, yang penting, tetap bertahan dengan anak itu sampai kalian menikah, mengerti?"
Gadis itu mendongak, menatap wajah-wajah keras orangtuanya dan mengangguk pelan.
***
***Note:
Kalian ngerasain ke frustasian Kara nggak sih? Gue pengen kalian ngerasainnya gitu lho.
Kalau kalian berada diposisi Kara, apa yang bakal kalian lakuin?
A. Bertahan
B. Kabur
C. Berontak
D. Bunuh diri karena nggak kuat (dark ********)
__ADS_1