
flashback
"*Kenapa lo segitu perhatian sama dia?"
Gadis berumur tujuh belas itu memutar bola matanya, menatap sosok jangkung didepannya dengan mata menyipit. "Tentu gue harus perhatian, gue manajer di tim basket kita, gue harus peduli sama kalian semua." katanya kembali melanjutkan tugas mengusap rambut Jody yang ada dipangkuannya pelan, lalu meletakkan sedikit minyak angin diujung hidung cowok itu.
Sosok jangkung itu jelas marah. Bian tidak pernah terima cara Kara memperlakukan Jody. "Dia cuma pingsan."
Kara kembali menatap sosok itu, kali ini tampak marah. "Apa maksud lo hah?!" kesalnya. "Dia cuma pingsan? Itu gara-gara lo yang lempar bola ke dia keras banget!"
Bian mendengus. "Itu nggak sengaja. Lagi pula kenapa lo yang ngurus dia? Anak UKS banyak,"
Kali ini Kara tidak membalas. Dia hanya dia sembari tetap melakukan kegiatannya. Bian jelas berang. Benci melihat interaksi dua orang itu. Dia sengaja melempar bola basket ditangannya sekuat tenaga ke kepala cowok itu karena kesal Jody mengambil banyak perhatian Kara.
Bian berharap Jody langsung mati saja saat itu. Namun terlalu berharap besar jika hal itu terjadi karena sebuah bola basket.
Bian masih memperhatikan mereka, memendam rasa terbakar itu dalam kepalan tangan. Dia saat itu tidak dapat berbuat apa-apa, karena Kara belum jadi miliknya.
**end flashback**
**
"Ayam parmigiana satu, Linguine alle Vongole satu, vanilla latte dan Macchiato satu," Kara menutup buku menu. "Pastikan tidak ada sedikit pun campuran udang, ya," ucap Kara seperti biasa saat mereka akan makan.
Pelayan itu mengangguk, lalu pergi.
"Kita setelah ini kerumah sakit, ya?" Bian sejak tadi hanya diam bicara, matanya tidak lepas menatap bekas tamparan dipipi gadis itu. Hatinya masih marah. Bian selalu seperti itu jika berhubungan dengan Kara.
"Ini udah aku kompres dan nggak sakit lagi kok, nggak perlu." katanya tersenyum menenangkan.
__ADS_1
Bian pun hanya menghela nafas mendengar kekerasan kepala Kara.
Beberapa menit kemudian pesanan mereka datang. Mereka menikmati makanan itu dalam diam. Sibuk dengam pikiran masing-masing.
Entah kenapa tiba-tiba pikiran Kara jatuh pada kakak laki-lakinya. Sudah hampir beberapa hari ini tidak ada pesan, tidak ada kabar dari Sandy. Namun gadis itu langsung sadar bahwa hal itu wajar saja mengingat abangnya makin sibuk di sana dan, dia tidak tau apa yang terjadi saat ini pada Kara, mungkin dia berhati-hati untuk mengubunginya setelah rencana kabur mereka.
Tak!
Kara terkejut saat Bian melempar peralatan makan ditangannya dengan kasar. Wajah Bian tampak merah, rahangnya mengetat tampak marah. Gadis itu kebingungan dan linglung. Lalu tanpa bisa Kara cegah, Bian tiba-tiba berdiri, berjalan menuju salah satu meja didekat mereka.
"BIAN!" teriak Kara begitu Bian melayangkan pukulannya pada seorang laki-laki disana. Para pengunjung lagi tampak ketakutan dan terkejut.
Jantung Kara berdetak cepat, tak sanggup melihat betapa buasnya Bian memukul laki-laki itu. "BIAN!" panggilnya lagi.
Bian benar-benar marah sampai menulikan terlinganya. Beberapa pelayan keluar dan petugas keamanan datang.
"SIALAN!!! LO UDAH DARI TADI NGELIATIN CEWEK GUE! INI HADIAH KARENA MELAKUKAN ITU!!!" Bian melayangkan pukulan sekuat tenaga pada perut laki-laki itu.
Nafas Bian masih memburu, amarahnya belum surut. Emosi yang dia tahan akhir-akhir ini meledak karena tidak tahan pembicaraan laki-laki itu dan temannya tentang beberapa bagian tubuh Kara yang menggodanya. Dia begitu marah. Lagi, Bian melupakan janjinya pada Kara agar tidak melukai orang lain lagi.
Sedetik kemudian tubuh Bian membeku, dia menoleh dan nafasnya makin memburu melihat tubuh bergetar Kara disana menatapnya kecewa dan takut.
"Ra, bukan begitu, KARA!" Bian ditahan saat akan mengejar Kara yang sudah pergi dari sana. "KARA!!!"
Suara Bian menggema, namun petugas keamanan jelas tidak akan melepaskan Bian begitu saja. Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Sedangkan Kara berjalan cepat tidak tentu arah. Perasaan bersalah yang begitu dalam menghantuinya. Tangan Kara gemetar. Dia benci melihat mata Bian yang memancarkan kekejaman saat melukai. Dia benci mengingat tatapan itu sama saat kejadian beberapa tahun lalu. Kejadian yang begitu kelam dan membuatnya mimpi buruk bertahun-tahun.
***
__ADS_1
"*Cuman ini yang tersisa atau lo mau ganti sama gue?" Kara menyodorkan jatah nasi kotak Bian pada laki-laki itu. Sejak Bian pindah ke sekolahnya, tidak berapa lama laki-laki itu langsung terpilih menjadi tim basket inti SMA-nya.
Mendekati perlombaan, latihan tim basket makin intens. Beberapa menit lalu jam istirahat, nasi kotak sudah habis diserbu para laki-laki kelaparan dan Bian tentu mendapat jatah sisa karena saat semua sibuk merebutkan lauk mereka, Bian malah diam menunggu yang lain selesai.
Bian menatap makannya dalam diam beberapa saat.
"Gimana? Mau ganti sama-,"
"Nggak, ini aja," Bian lalu mengambil nasi kotak ditangan Kara.
Merasa tugasnya selesai, Kara membawa makanya kearah Jody, makan disamping laki-laki itu sambil sesekali bicara.
Diarah lain, Bian menatap udang saus padang didalam nasi kotaknya. Tampak begitu menggiurkan untuk dimakan. Laki-laki itu menatap makanannya dan Kara bergantian.
Dadanya berdentum keras.
Suapan pertama, Bian memasukkan udang sebanyak yang dia bisa, dia memasukkan semua makanan itu sekuat yang dia bisa. Dan seperti prediksinya, rasa sakit itu datang, nafas Bian tersendat, ia merasa akan mati saat itu juga.
Tubuh laki-laki itu terjatuh, nafasnya tidak beraturan tampak kesulitan menghirup udara.
Orang-orang disana mulai panik dan mendekati Bian, suara-suara disana menyerbu ditelinganya. Namun hanya suara kecemasan Kara yang terdengar.
"Bian! Bian!" gadis itu memanggil namanya berulang kali.
Nafas Bian memang sesak, matanya bahkan mulai mengabur namun dia masih dapat melihat raut pucat cemas yang Kara berikan padanya.
Sebelum tidak sadarkan diri, Bian tersenyum. Akhirnya dia dapat perhatian gadis itu lebih banyak. Walau dengan cara menyiksa, bahkan hampir mati, Bian rela melakukannya lagi jika hadiahnya adalah perhatian dari gadis yang membuatnya tertarik.
Tidak, ini lebih dari tertarik*.
__ADS_1
***