
Kara terkejut saat pintu kamarnya diketuk. Hanya satu orang yang selalu mengetuk pintu kamarnya, Sandy abangnya. Gadis itu segera berlari kearah pintu.
Dan dia makin terkejut melihat sosok Ayah-nya disana menatapnya datar. "Bian dibawah, dia ingin bertemu kamu," kata pria itu. "Ayah ingatkan, kalau kalian ada masalah, kamu seharusnya lebih sabar dan mengalah. Jangan bertindak dan bertingkah macam-macam!" peringat Ayahnya sebelum pergi.
Kara mematung beberapa menit didepan pintunya sebelum melangkah dengan pelan menuju lantai bawah. Namun baru satu langkah menuruni anak tangga, Bian sudah berdiri didepannya.
Mata Bian tampak berkaca-kaca seperti anak anjing yang ditinggalkan sendirian oleh majikannya. Tampak begitu menyedihkan.
"Aku mau bicara dan jelaskan semuanya dikamar kamu, kita butuh privasi." katanya yang dituruti Kara. Toh selama ada orang tuanya dia tidak akan pernah diizinkan membuat pilihan sendiri. Dia tetap menurut pada Bian, walau hatinya saat ini tengah marah dan kesal dengan laki-laki itu.
"Ra, aku salah. Aku tau aku salah, aku nggak bisa mengendalikan diri aku, Ra," ucap Bian langsung begitu pintu kamar ditutup Kara. "A-aku minta maaf, Ra, aku minta maaf, jangan pergi, ya?" mata Bian berkaca-kaca memohon.
Kara memilih duduk diujung kasur, menghela nafas kasar. "Bi, aku sebenarnya muak sama semua ini. Kamu selalu janji tapi kamu juga selalu mengingkari, aku capek, Bi. Aku nggak mau ada orang yang terluka gara-gara aku," ucapnya serak.
Bian berjongkok didepan Kara, menatap gadis itu sedih. "Tapi kamu juga, kamu janji nggak akan pergi dari aku, tapi beberapa kali sudah mencoba pergi dari aku," katanya.
"Tapi kamu yang memulai semuanya, kamu tau aku paling benci lihat kamu menyakiti orang lain, Bi, aku benci." Kara tidak dapat menahannya tangannya bergetar hebat, dia menangis. "Kadang aku berfikir, cara apa lagi yang harus aku lakukan untuk membuat kamu berhenti melukai orang lain? Aku tersiksa melihatnya, apalagi kalau alasannya karena aku, aku merasa bersalah, Bi!" tangis Kara, mengeluarkan semua bebannya saat ini.
Bian terpaku beberapa saat, lalu dia memeluk pinggang gadis itu, menenggelamkan kepalanya di perut Kara. "Maaf, maafin aku, Ra, aku tau aku salah, aku kadang kehilangan kontrol sama hal yang berhubungan sama kamu."
"Setelah ini, aku mau konsultasi kamu lebih sering, aku mohon." ucap Kara lirih.
Bian mengangguk, tambah menenggelamkan kepalanya. "Jangan pernah kabur lagi, Ra, aku mohon, kamu tau? Aku hampir mati jantungan lihat kamu pergi begitu saja tadi, aku berfikir kamu benar-benar kecewa dan memutuskan kabur lagi."
"Aku memang kecewa sama kamu, aku nggak suka lihat kamu yang seakan mau membunuh orang tadi... Aku nggak suka." karena tatapan membunuh Bian sama saat dia hendak melenyapkan seseorang beberapa tahun lalu. Memori paling menakutkan Kara.
"Aku janji bakal jadi laki-laki terbaik buat kamu, aku bakal nurut sama kamu dan aku benar-benar bakal usaha meredan emosi," ucapnya. "Tapi, Ra, itu tergantung kamu juga. Kamu duniaku, kamu kebahagiaan aku dan kamu pula sumber emosi aku." ucapnya pelan.
"Semua tindakan kamu, akan menghasilkan sesuatu. Entah baik atau buruk. Semua bergantung sama kamu."
Kara menegang, mata Bian menatapnya tajam beberapa saat. Laki-laki itu mengancamnya.
***
__ADS_1
Hari ini jadwal konsultasi Bian, Kara menemani. Ditengah-tengah pembicaraan Bian dan dokternya, Kara minta izin untuk pergi ke kamar mandi.
Dan saat dia kembali, ada keheningan yang menegangkan disana, hingga membuat Kara mau tak mau menatap Bian bertanya. "Kenapa, Bi?"
Laki-laki itu tampak memikirkan sesuatu. Lalu tersenyum tipis. "Nggak ada, konsultasi hari ini udah selesai," ucapnya.
Gadis itu menatap jam di pergelangan tangannya. "Biasanya satu jam, ini baru dua puluh menit—,"
"Sudah selesai 'kan dokter?" kini Bian seolah mencari penegasan. Dokter itu menatap Kara dan Bian bergantian sebelum mengangguk. "Ya, hari ini cukup sampai disini,"
"Terimakasih dokter," ucap Kara lalu dia ditarik Bian keluar dari ruangan itu. Kata mengernyit menatap Bian yang diam dengan pandangan kosong.
"Kamu kenapa? Apa hasil pemeriksaan tadi? Buruk? Kamu berfikir macam-macam lagi, ya? Kalau aku bakal pergi saat tau?" tanya Kara hati-hati.
Bian menatapnya beberapa saat sebelum tersenyum kecil. "Nggak, malah kebalikannya, aku mulai agak baik dari sebelumnya, kata dokter supaya lebih efektif harus sering konsultasi lagi."
Kara mengangguk paham. "Kapan jadwal selanjutnya?"
"Belum tau," katanya. "Setelah ini kita makan siang di restoran biasa, ya?"
Bian hanya mengangguk patuh. Mereka berhenti disalah satu mall, membeli beberapa bahan makanan dan camilan disana. Gadis itu berfikir mungkin dia butuh menginap beberapa hari di apartemen Bian,mengingat kondisi rumahnya begitu tidak nyaman akhir-akhir ini.
"Bi, kamu ambil buah-buahan, ya, aku mau cari beberapa camilan sebentar disana," ucap Kara menunjuk tempat makanan ringan. Laki-laki itu mengangguk. "Oke, nanti kalau udah selesai aku kesana."
Mereka pun berpisah. Kara mengambil beberapa camilan kesukaannya dan Bian lalu memasukkannya kedalam troli. Ditengah aktivitasnya, sebuah tangan menahan lengannya yang hendak menjangkau snack coklat.
"Kamu—,"
"Akhirnya kita ketemu lagi, gue udah nunggu lo di mall ini berhari-hari berharap kita ketemu," sosok itu tampak lega. "Kara, bisa ikut gue sebentar? Jody nunggu lo, dia butuh banyak penjelasan dari lo." kali ini laki-laki itu tidak basa-basi lagi, dia berbicara lugas.
Kara melirik cemas kearah Bian berada. "Jody?" tanyanya. "G-gue ngerti, tapi gue benar-benar minta maaf, gue nggak bisa ngelakuin itu saat ini, gue beneran nggak bisa," jika dikaji lebih lanjut, Kara juga ingin bertemu Jody, banyak yang ingin dia bicarakan, namun kondisinya saat ini tidak memungkinkan. "Gue minta maaf." ucap Kara menyesal.
Semenjak bersama Bian, lingkaran kehidupan sosial Kara makin menyempit. Gadis itu hanya berteman dan berinteraksi dengan orang yang dianggap Bian tidak mengancam dirinya.
__ADS_1
Kegiatannya pun Bian yang mengatur segalanya. Kara tidak pernah keluar jika tidak bersama Bian, dia tidak pernah berani pergi tanpa seizin Bian. Karena dia tau segila apa Bian.
Dari semua kegilaan itu, Kara pun yakin, mungkin saja saat ini laki-laki itu sedang mendengarkan pembicaraannya. Bian dan kegilaannya pada Kara.
Laki-laki didepan Kara tampak marah. "Tapi lo harus menjelaskan banyak hal sama dia! Dia tersiksa bertahun-tahun dan lo cuma bisa minta maaf?! Gue cuma minta lo nemuin dia dan bicara!" ucap laki-laki itu berang.
Kara menggeleng kecil. "Lo nggak akan ngerti kalau gue jelasin, tapi maaf gue nggak bisa untuk ketemu Jody."
"Tapi—,"
Bian tiba-tiba datang menghadang, mendorong jauh laki-laki itu dari tubuh Kara. Laki-laki itu hampir saja memukul kuat kepala sosok didepannya jika Kara tidak menyentuh tangannya yang lain.
Ya, janji sialannya agar tidak melukai orang lain. Bian menurunkan tangannya menatap tajam sosok itu.
"Gue harap lo segera pergi, sebelum gue kehilangan kesabaran." ucap Bian dingin, matanya menajam.
Laki-laki itu terdiam beberapa saat, menyadari sosok didepannya bukan lawan yang pantas untuknya, dia pun memilih pergi, namun sebelum itu dia menatap Kara yang bersembunyi dibalik tubuh Bian dengan marah.
Begitu sosok itu pergi, Bian memutar tubuhnya, menatap Kara. "Dia siapa?" katanya pelan namun tajam.
Kara menggeleng kuat. "Aku nggak tau dan aku juga nggak ngerti," katanya pelan. "Udah, ya? Lupain masalah ini, dia cuma cowok aneh yang tadi tiba-tiba datang," Kara mengusap pelan tangan Bian.
Laki-laki itu jelas masih tampak marah.
"Bi," bisik Kara. "Please? Aku nggak mau ada pertengkaran hari ini."
Bian mengalah, dia menghela nafas. "Oke," putusnya. "Kamu jadi nginap di apartemen 'kan?"
Kara mengangguk kecil. "Ya, aku mau habisin waktu beberapa hari ini sama kamu, kita terlalu banyak masalah akhir-akhir ini."
Bian akhirnya tersenyum. Lalu mengecup jemari gadis itu, menyempatkan mengecup leher Kara menghirup aroma kesukaannya.
Hanya Kara yang dapat membuatnya seperti orang gila.
__ADS_1
***