
"Kalau begitu dua bulan dari sekarang persiapan akan dimulai, untuk biayanya biar kami yang tanggung, karena diacara pertunangan nanti, mungkin tamu undangan kami jauh lebih banyak," ucap Baskara panjang.
Kedua orang didepannya mengangguk, wajah mereka tampak bersemangat. "Ah, kami merasa tidak enak, padahal yang akan bertunangan itu ada Kara dan Bian, Kara anak kami." Wijaya membuat wajah tak enak dibuat-buat.
Rianti tersenyum. "Jangan dipikirkan. Mau bagaimana pun itu hanya masalah sepele, kami hanya ingin yang terbaik untuk acara pertunangan mereka, ini bukan hanya sebagai bukti ikatan anak kita, tapi juga menunjukkan pada orang-orang tentang calon pewaris Baskara," senyumnya anggun. "Kara sudah menjadi bagian penting keluarga kami."
"Ini benar-benar kebahagiaan besar tahun ini," Rima balas tersenyum,khayalannya tentang ikatan keluarganya dan Baskara membuatnya girang dan hal itu dapat ditangkap baik oleh Kara. Wajah rakus wanita itu terlihat ketara.
Rianti meneguk wine miliknya, matanya menatap datar orang-orang itu. Kalau saja ini tidak ada hubungannya dengan Bian, dia lebih memilih untuk tidak pernah mengenal dua orang itu.
"Makanan kamu masih tersisa banyak, kamu nggak habiskan, Ra?" pandangan Rianti berpindah pada sosok gadis yang tengah memandang meja makan itu dengan pandangan kosong.
Kara segera menoleh, menggeleng kecil. "Sebelum acara, Kara terlalu banyak makan, Bun, jadinya kenyang." kilahnya.
Tiba-tiba Bian berdiri, membuat semua perhatian orang tertuju padanya. "Maaf sebelumnya, ada yang mau Bian bicarakan sama Kara, bisakah kami meninggalkan makan malam lebih dulu?"
"Tentu. Tentu saja, silahkan Bian, kalian pasti bosan mendengar percakapan kami." seru Wijaya.
"Pergilah, masih ada yang mau kami bicarakan." kali ini bundanya menjawab.
Bian mengangguk pelan, mengamit tangan Kara, membawa gadis itu keluar rumah. Saat Bian membawanya masuk kedalam mobil, Kara akhirnya sadar dari lamunannya beberapa saat lalu bertanya.
"Kita... Mau kemana?" tanyanya pelan.
"Kesuatu tempat. Kita butuh banyak bicara." Bian menatapnya sekilas, lalu memerintahkan sopirnya untuk melajukan mobil.
Tubuh Kara membeku ditempat. Dia tau laki-laki itu sekarang tengah marah. Dan ia mempersiapkan diri dari segala hal yang akan terjadi nanti.
__ADS_1
"Maaf tuan, mau kemana? Tuan dan nyonya bagaimana?" tanya sang sopir pelan.
"Antarkan saya ketempat yang ingin saya tuju, sopir lain akan menjemput mereka nanti," katanya penuh aura memerintah.
"Baik, tuan." jawab sopir itu saat Bian memperlihatkan alamat tempat yang akan mereka tuju.
Terdengar helaan nafas Bian, laki-laki itu tampak lelah dan dia tidak menoleh sama sekali kearah Kara. Gadis itu hanya diam, menelan salivanya gugup melihat bagaimana Bian yang tampak kacau.
"Kenapa kita kesini?" tanya Kara begitu mobil berhenti disebuah tempat parkir sebuah gedung besar yang tampak megah.
"Aku sudah bilang, kita perlu banyak bicara." katanya. "Pak, mobilnya biar sama saya, ini, balik dengan taxi atau kendaraan umum." Bian menyerahkan beberapa lembar uang pada sopirnya. Lagi, sang sopir itu dengan patuh menurut lalu menjauh darisana.
Akhirnya, Bian kembali menatap Kara, hanya sebentar sebelum tangan gadis itu diambilnya lalu membawa Kara mengikutinya. Salah satu unit apartemen digedung ini adalah milik Bian, apartemen itu kadang dikunjungi laki-laki itu saat sedang bertengkar dengan orang tuanya atau butuh tempat untuk sendiri.
Kara beberapa kali pernah kesini, jika Bian sedang malas pergi keluar dan ingin menikmati kencan mereka berdua.
Begitu membuka pintunya, Bian terlebih dulu masuk, meninggalkan Kara yang tampak sulit melepas sepatu berhak tingginya. Gadis itu berjalan pelan menuju sofa yang sudah diduduki laki-laki itu.
"Apa kamu punya pembelaan tentang rencana melarikan diri kamu, Ra?" suara Bian tenang, namun matanya menatap tajam tubuh Kara yang berdiri didepannya dengan kepala tertunduk.
Kara hanya menggeleng pelan, mendongak menatap tepat dimata tajam itu sebelum kembali menunduk.
Terdengar suara bantingan kaca dari tempat Bian berada, membuat Kara kembali mendongak dengan wajah kaget. Bian sudah berdiri dengan dada yang bergerak turun naik, wajah laki-laki itu memerah. Pecahan vas bunga didekat Bian berserakan di bawah kakinya.
"Kamu nggak tau seberapa takutnya aku saat melihat tangga itu! Kamu nggak tau seberapa besar keinginan aku pun segera mati saat kamu ternyata memilih buat ninggalin aku, Ra! Aku sudah bilang bukan, kamu itu duniaku, Ra, jika kamu pilih pergi, aku nggak punya lagi duniaku, Ra!" Bian mulai berteriak keras sebelum mengeluarkan air matanya, nafasnya tidak beraturan.
"Bian!" Kara berteriak saat Bian berjalan mendekatinya, menginjak serpihan kaca dibawahnya.
__ADS_1
"Jangan mencoba pergi lagi, aku benar-benar akan mati jika hal itu terjadi," Bian merengkuh Kara kedalam pelukannya. "Jangan tinggalin aku lagi, Ra, aku mohon," diakhir kalimatnya Bian melirih. Tangannya makin memeluk tubuh gadis itu erat.
Kara mematung, merasa tubuhnya gemetar, tangannya ikut bergerak memeluk tubuh laki-laki itu. Bian menangis tersedu-sedu, kepalanya bergerak kearah leher Kara, tempat favoritnya dan mencium aroma menenangkan gadis itu.
Darah Bian tampak mengotori karpet dibawah mereka, Kara memeluk tubuh laki-laki itu makin erat, mengusap punggung kokoh Bian yang saat ini tampak rapuh.
Demi apapun, walau keinginannya untuk kabur dari Bian itu sering muncul dikepalanya, namun melihat kerapuhan laki-laki itu akan dirinya membuat Kara tersentak akan suatu hal. Bagaimana bisa dia pergi dari sisi Bian jika laki-laki itu begitu bergantung sebesar ini padanya?
Sisi kemanusiaan Kara menyeruak.
"Jangan tinggalin aku, Ra," lirih Bian.
Kara menjauhkan wajah mereka, menatap sendu wajah Bian yang basah lalu mengusap air mata laki-laki itu pelan. Mereka bertatapan cukup lama sebelum kedua tangan Kara merengkuh pipi Bian, membawa bibir laki-laki itu menempel ke bibirnya.
Bian menyambutnya, tangannya yang berada di pinggang gadis itu naik keleher Kara, menahan ciuman mereka.
Bibir Bian mulai bergerak menyesap bibir mungil itu yang dibalas Kara dengan melakukan hal yang sama. Ciuman itu pelan, namun limpahan emosi begitu ketara terasa.
Kara memiringkan kepalanya saat ciuman mereka terasa makin dalam. Detak jantung Bian bertalu-talu keras, menghisap bergantian bibir gadisnya.
Dalam ciuman mereka, Kara berusaha mencari sesuatu. Dia mencari sebuah jawaban apakah pilihannya untuk bertahan bersama Bian itu benar?
Dan saat lengan Bian makin mengerat ditubuhnya, gadis itu mendapat jawabannya. Dia ikut merengkuh Bian, meletakkan tangannya dileher laki-laki itu.
"Aku cinta kamu Kara, lebih dari batas kewarasanku." bisiknya saat menjauhkan diri mengambil nafas sebelum kembali ******* bibir Kara, kali ini dengan percikkan gairah.
***
__ADS_1