
"Beng, sebenarnya beberapa hari yang lalu gue ketemu Kara." dengan bisikkan kecil laki-laki itu bicara. "Dia sama Bian, Beng, sangking kagetnya gue nggak bisa ngomong apa-apa saat itu, dia pun keliatan kaget, gue benar-benar nggak ngerti, apa aja yang terjadi beberapa tahun belakangan ini."
Sosok yang dipanggil 'Beng' itu menolehkan kepalanya dari layar televisi yang saat ini dia tonton. "Kara? Cewek itu?!" tanya Bebeng syok.
Jody mengangguk pelan, ia duduk dipinggir kasur, menatap kosong. "Banyak pertanyaan yang sebenarnya pengen gue tanyain sama dia, Beng, tapi gue bener-bener nggak bisa bicara apapun saat itu! Gue juga bingung kenapa Kara bisa sama Bian, mereka... Kayaknya punya hubungan," ucapnya pelan.
Bebeng menatap kakak laki-lakinya, hampir separuh wajah Jody memiliki luka bakar, keluarganya sudah berusaha memperbaiki wajah itu semampu mereka, namun tetap saja luka itu masih melekat disana.
"Gue benar-benar pengen tanya ke Kara, banyak pertanyaan," gumamnya. "Kenapa dia tiba-tiba pergi, bentakbenar pergi, kenapa dia menghilang gitu aja,"
Ekspresi Jody tampak terluka, membuat Bebeng mengepal tangan. Jika memang benar perempuan itu disini, maka dia akan mencarinya untuk Jody dan mempertemukan mereka, membuka beberapa kejadian yang masih menjadi misteri.
***
Kara terbangun saat merasakan seseorang mengusap wajahnya, dia membuka mata perlahan dan menemukan wajah datar Bian tengah menatapnya, dengan tangan yang bergerak mengusap dahi Kara, turun ke pipi.
Gadis itu menggeliat, menjauhkan tangan laki-laki itu. Entah apa yang terjadi, setelah hampir mengabiskan seharian penuh menemani Bian, Kara tidak ingat dia sudah terlelap dikasur laki-laki itu. Pakaiannya masih sama seperti pakaiannya kemarin.
Kara mencari ponselnya, dia melihat tidak ada satupun telfon atau pesan dari orangtuanya. Diam-diam Kara tersenyum kecil. Miris. Apa yang dia harapkan? Orangtua yang mengkhawatirkannya? Konyol.
Kalaupun ada, hanya Sandy, namun laki-laki itu dua hari ini jadwalnya dirumah sakit, terakhir Sandy mengirimnya pesan pagi hari kemarin.
"Hari ini kuliah nggak?" Bian mendekat, memeluk Kara dari belakang dan mengintip ponsel gadis itu.
Kara bergerak menjauh, duduk di ujung kasur dan menggulung rambutnya. "Iya, Bi, aku nggak mau ketinggalan materi," jawabnya bergerak turun.
"Mau kemana?" tanya Bian.
"Mau kekamar mandi kamar tamu, mandi." jawabnya singkat. "Baju aku yang waktu itu ketinggalan masih dilemari ruang tamu 'kan?"
"Masih kok, atau kamu pinjam baju kaka Jessi aja, bajunya banyak dilemari, dia cuma bawa beberapa ke Amerika," beberapa hari yang lalu kakak perempuan Bian kembali ke Amerika melanjutkan kuliahnya.
__ADS_1
Kara menggeleng, terakhir kali mencoba memakai pakaian Jessi, dia sudah seperti badut. Jessi bertubuh tinggi, badan profesional seperti model, sedangkan Kara bertubuh mungil dan termasuk pendek diantara teman-temannya. Dan bisa dibayangkan bagaimana tubuh kecilnya memakai pakaian Jessi.
Kara menuju kamar tamu, sangking seringnya Kara berada dirumah Bian, dia hampir mengira jika rumah ini adalah rumahnya, para pelayan bahkan keluarga Bian sendiri benar-benar sudah biasa melihat keberadaannya yang lalu-lalang disana.
Selesai mandi, Kara membuka tas kecil yang dia bawa, beberapa barang penting. Kara memakai sunscreen, bedak , lipcream dan mascara dibagian akhir.
Bian menyambutnya saat dia membuka pintu, laki-laki itu juga sudah berkemas. Tampak segar dengan baju kaus hitam yang dilapisi kemeja garis-garis berwarna merah dan celana semata kaki. Rambutnya masih basah.
"Nih, kamu 'kan nggak bawa buku, pakai ini, nggak usah pulang lagi," Bian menyerahkan totebag putih yang terasa berat saat Kara mengambilnya.
"Aku berasa anak SD yang disiapin perlengkapannya sama orangtua," gumam gadis itu melihat isi totebagnya adalah dua buku kosong, buku tebal mata kuliahnya hari ini dan satu kotak alat tulis.
Bian terkekeh. "Yuk sarapan dibawah, menu hari ini sarden, tahu sama sayur wortel kesukaan kamu." mood laki-laki itu sepertinya baik hari ini, terlihat normal. Kara melihat sosok Bian yang pertama kali dia kenal.
Kara hanya mengikuti Bian dari belakang, sampai di dapur ada Bunda Rianti yang tampak menunggu mereka. Wanita itu tersenyum menyambut mereka.
"Makan yang banyak, ya, Kara, subuh-subuh tadi Bian bangun dan nyuruh pelayan masak ini, katanya kesukaan kamu," kata bunda Rianti.
flashback
"*Lah, kok gue dapatnya sarden, sih? Mana sayurnya wortel, gila, ini nggak enak semua," dengus kesal Jody.
"Ya salah lo sendiri ogeb! Orang bagi-bagi makanan, lo malah seliweran," jawab yang lain tampak rakus memakan nasi kotak mereka.
Hari ini tim basket Garuda selesai latihan, nasi kotak dibagikan satu-persatu pada orang-orang kelaparan itu, mereka tanpa basa-basi memakannya dengan lahap.
Jody orang terakhir yang datang, mendaptkan kotak terakhir.
"Ganti punya gue aja, nih," Kara mendekat kearah laki-laki yang berwajah kecewa itu. "Gue ayam bakar sama sayur kangkung," katanya.
Mata Jody berbinar, ia bertukar kotak makanan. "Lo nggak apa-apa nih, ganti ama gue?"
__ADS_1
Kara mengangguk. "Iya, sarden, tahu ama sayur wortel ini makanan favorit gue, malah gue seneng kalu tukaran,"
Jody langsung sumringah, menarik Kara duduk bersama anggota tim lain, mereka menikmati makanan itu dengan heboh. Kara sudah hampir dua tahun ini menjadi manajer tim basket.
"Nih, makan," tiba-tiba wortel dan tahu goreng masuk kedalam kotak Kara. Dia menoleh, menatap Bian bingung.
"Gue nggak suka wortel sama tahu, lo makan aja," katanya.
Kara tau itu kebohongan. Karena tadi dia melihat Bian melahap makanan itu. "Makasih," ucapnya pelan, lalu memakan wortel dan tahu yang tersisa.
Kara sama sekali tidak pernah suka menu makannya. Dia berbohong*.
Wortel? Bahkan itu sayur yang Kara benci.
Dalam diam, Kara berusaha mengunyah makanan itu.
"Enak nggak?"
Kara menoleh, menatap Bian, lalu mengangguk. "Enak, selalu enak," katanya.
"Kalau gitu tambah dong, Ra, nggak sia-sia Bian nyuruh pelayan masak ini, ya, makan kamu lahap banget." kata Bunda Riantu terkekeh melihat piring Kara kosong.
"Pengen nambah, Bun, tapi takut gendut, udah banyak yang masuk," katanya tersenyum.
"Gendut apaan, Ra, badan kamu kecil begitu," potong Bian langsung. "Kalau nambah, ayo tambah," Bian malah mengambilkan satu sendok nasi lagi, memasukkan lauknya. "Ayo makan, lagi,"
Kecil apanya, badannya kecil tapi pipinya bulat. Mau tak mau Kara makan kembali, tak mau menyisakan makanan. Bian menatap itu, lalu mengusap pipi Kara seperti mengusap kucing. Dia terkekeh sendiri.
Bunda Rianti yang melihat itu menatapnya datar, jika Kara adalah hal yang membuat anaknya bahagia, dia akan melakukan segala cara untuk membuat gadis itu tetap bersama anaknya.
***
__ADS_1