Bad Heaven

Bad Heaven
bagian dua belas


__ADS_3

Wijaya, ayah Kara kembali ke meja makan saat makanan pembuka baru saja disajikan pelayan. Lewat mata Rima bertanya tentang pencarian pria itu. Dan Wijaya tampak menggeleng pelan, membuat wajah Rima pucat pasi.


Tiga puluh menit sebelum keluarga Baskara datang, Kara menghilang dari kamarnya dan mereka menemukan sebuah tangga dijendela kamar gadis itu. Segera saja mereka heboh dan Wijaya segera menaiki mobilnya dan menyuruh sopir dan beberapa pelayan mereka mencari gadis itu.


Kedua orang itu benar-benar mengumpati anaknya yang dengan kurang ajarnya melawan mereka.


Rima melirik cemas kearah anak tangga, belum ada kemunculan Bian sejak lima belas menit yang lalu, hal ini mulai membuatnya khawatir. Apa Bian sudah mengetahuinya? Tangannya saling meremas, menatap sang suami yang tak kalah kalutnya.


Sepuluh menit kemudian, makanan pembuka mereka habis. Tampak dari raut Baskara dan Rianti merasa ada keanehan. "Mana Bian dan Kara? Kenapa mereka belum turun, ya? Sebentar lagi hidangan utama dan pembicaraan selanjutnya akan membahas dua orang itu, apa yang mereka lakukan diatas?" wanita anggun itu melirik anak tangga tertarik.


"Mana anak laki-laki kalian, siapa namanya? Sandy?" Baskara membuka suara tiba-tiba. Kedua orang itu kembali dilanda gugup.


"A-ah dia saat ini ada dinas luar kota," jawab wijaya. "Dia selalu sibuk, maklumlah dia seorang dokter, dia sebenarnya ingin ikut makan malam tapi tidak bisa." kilahnya.


Baskara mengangguk, menyesap airnya pelan.


Lima menit kemudian hidangan utama datang, steak daging yang tampak menggoda tersaji. Baik Wijaya dan Rima sudah pasrah jika ketahuan. Namun sesuatu tidak terduga terjadi.


Bian menggandeng seorang gadis dengan gaun Indah yang sudah tampak sedikit kusut dan kotor, namun tidak mengurangi sedikitpun kecantikannya. Laki-laki itu tersenyum saat orang-orang di meja makan menatapnya.


"Kalian kenapa baru datang? Apa yang kalian lakukan disana?" tanya Rianti dengan alis naik, mata menggoda meminta penjelasan.


Sedangkan kedua orangtua gadis yang dibawa Bian sudah membeku, matanya menyorot tajam penuh peringatan pada Kara yang menunduk sejak tadi. Namun tak ayal kedatangan gadis itu membuat lega mereka.


"Kita membicarakan sesuatu Bun, banyak yang kita bicarakan sampai lupa waktu," Bian membimbing tubuh Kara duduk dikursi sebelahnya. Gadis itu menurut. "Iya, 'kan, Ra?"

__ADS_1


Kara diam beberapa saat, sebelum menoleh menatap Bian seperkian detik sebelum mengangguk pelan, menjawab dengan suara kecil. "Ya, banyak yang kita bahas."


Bian menelan salivanya, masih belum bisa menghilangkan detak kecang di dadanya. Tangannya yang berada dibawah meja menjalar ketangan Kara dan meremas tangan gadis itu sedikit kuat, menyadarkan dirinya sendiri bahwa gadis itu sekarang masih bersamanya.


Beberapa saat yang lalu...


Mata Bian menajam marah melihat tangga itu, dadanya sesak. Tangannya terkepal kuat, menahan diri agar tidak mulai merusak benda-benda disekitarnya. Kebiasan buruk Bian ketika marah.


Matanya menunduk menatap nyalang tanah dibawah tangga itu, kamar Kara menghadap halaman belakang, disana ada gudang yang selalu gelap tidak pernah diberi lampu.


"Kamu memang nggak akan bisa pergi." senyum Bian melebar saat melihat ada cahaya kecil yang berpijar di dalam gudang, benar-benar cahaya kecil dan butuh kejelian melihatnya.


Disisi lain, Kara saat ini berusaha menghubungi Sandy dengan gematar. Seharusnya dia keluar dari rumah dan menemui abangnya di gang sepi yang tak jauh dari rumahnya. Namun rencana diubah karena penjaga didepan rumahnya berjaga denga mata mengawasi tajam dan Kara tidak punya alasan kuat untuk keluar dari rumahnya.


Kara segera menghubungi Sandy. "Bang, rumah udah lumayan kosong-," ucapannya berhenti saat mendengar mobil lain memasuki perkarangan rumah. "Keluarga Baskara datang!" katanya mulai panik mengigit bibir bawahnya ketakutan.


Kara sangat-sangat takut! Dia dikenal gadis pemberani dan keras, namun tidak sekarang. Dia tidak pernah membantah orang tuanya, tidak pernah melakukan pemberontakkan dan aksi pertamanya ini membuatnya ketakutan setengah mati.


"Tenang dulu, abang udah hampir dekat dengan rumah, Ra, kamu tetap sembunyi saat ini, saat abang bilang kamu pergi, kamu harus melompat ke pagar belakang, mobil akan disana."


Kara berkeringat, hanya cahata redup ponselnya yang meneranginya. "A-aku nggak tau ini akan jadi pilihan baik." gumamnya.


"Seperti yang abang bilang, setiap pilihan membawa pada jalannya masing-masing, dan nggak ada satupun pilihan yanh benar-benar menguntungkan, mereka sama-sama punya konsekuensi, Ra."


Kara meringis, mengigit makin kuat bibir bawahnya. "Aku masih ragu."

__ADS_1


"Setelah membuat pilihan, kamu nggak boleh ragu, Ra, sekarang kamu harus jalani pilihan yang sudah kamu buat."


Tubuh Kara membeku. Dia menatap ponselnya yang masih terhubung dengan Sandy. "Bang, kalau dalam sepuluh menit aku nggak menghubungi abang lagi, berarti aku gagal. Aku nggak bisa kabur. Dan aku harap jika itu benar-benar terjadi, abang tetap harus pergi ke Kalimantan sendiri. Dan abamg harus janji." belum sempat Sandy menjawab, telepon terputus.


Kara makin meringkuk, menutupi tubuhnya saat terdengar sebuah langkah kaki yang pelan mendekat kearah gudang. Langkah itu seolah dari sengaja dibuat selambat mungkin agar Kara merasa tersiksa tidak dapat berbuat apa-apa.


Dan Kara merasa nyawanya terbang begitu pintu gudang terbuka, memperlihatkan sosok laki-laki dengan sorot mata menakutkan disana.


"B-bian...,"


Bian, laki-laki itu hanya diam dengan pandangan datar. Namun Kara sudah mengenal laki-laki itu bertahun-tahun yang lalu, dia sadar tatapan itu adalah tatapan marah, kecewa dan kesedihan Bian yang paling dalam.


"Keluar, keluarga kita menunggu." dan hanya itu yang diucapkan Bian sebelum laki-laki itu membawanya keluar dari gudang.


Mereka berdua tidak masuk melalui pintu, mereka masuk dengan cara menaiki tangga menuju kamar Kara dan baru kemeja makan.


Tidak ada pembicaraan diantara mereka setelah itu, bahkan saat Kara dan Bian bergabung dimeja makan, soror tajam dari kedua orangtuanya tidak dipedulikan Kara.


Saat tangannya diremas kuat Bian, gadis itu menoleh dan melihat tatatpan Bian yang seolah berbicara banyak padanya.


***


***Note:


Bagaimana***?????

__ADS_1


__ADS_2