
Setelah tinggal bersama keluarga Novi,Amara semakin menjadi senang dan bahagia,ia bisa pulang dan pergi bersama Novi,
Setiap hari-setiap semester pun berlalu,kini Amara telah di semester empat,ia semakin serius dalam menjalani kuliah,tapi Mulyadi mulai berubah padanya ia mulai sibuk dengan kerjanya,jarang berkomunikasi dan bertatap muka.
Tapi Amara tak pernah merasa marah dan lelah karna ia paham sekali jika kekasihnya itu tidak mungkin bermain api dibelakang nya.
Tidak sesuai dengan dugaan Amara,kekasihnya telah mulai menyukai wanita lain,yang sama-sama telah menjadi dosen sepertinya,ia tega membohongi Amara yang malang.
Hal itu tak pernah diketahui Amara,hingga pada suatu hari para mahasiswa lain menerima undangan pernikahan,
"Gayss ada undangan ni buat angkatan kita,undangan pernikahan pak Mulyadi dan istrinya"
Amara terkejut mendengar namanya,ia terduduk.
"Undangan dari siapa,tidak mungkin lah,jangan bercanda"
"Lihatlah"
Novi membacanya dan benar itu adalah undangan pernikahan Mulyadi.
"Amara..."
"Nov aku ingin pulang,dan sendiri kau tinggallah disini"
Novi berlari dan menangis,ia berpapasan dengan Mulyadi dan tidak sengaja menabraknya.
"Kau....puas kau sekarang,apa salahku?kau tega mempermainkan aku,setelah dua tahun ini!
"Amara kau tidak mengerti apa yang tengah terjadi denganku"
"ibuku terus saja mendesakku,dan tidak mungkin aku memperistri dirimu"
__ADS_1
"lalu apa yang kau ucap dulu padaku?hanya omong kosong,semua laki-laki sama"
"kau yang terlalu egois Amara,kau hanya butuh dunia ini mendengarmu,tampa kau peduli bagaimana orang lain disekitarmu"
"iya aku teramat egois,pak Mulyadi yang terhormat,lalu apakah caramu ini tidak menyakitiku?
"jawab?"
"jawab Mulyadi"Amira terisak
Mulyadi hanya diam,melihat Amara yang telah menangis ,Amara berlari dan keluar dari kampus itu,semua telah menyakitinya,tak ada bahagia dalam hidupnya.Ia menaiki angkot kerumah Novi,dan bergegas pulang mengemasi barang-barangnya,
ibu Novi juga panik melihatnya.
"Kenapa nak,ada apa?
"Tidak bu,Amara hanya ingin pulang kampung bu"
"Apa Amara bertengkar dengan Novi?"
"Terimakasih bu,ibu dan Novi telah baik pada Amara,Amara tidak akan melupakan ibu dan Novi"
Novi yang datang dan masuk kekamar itu juga mulai menangis
"Sudahlah Amara jagan seperti ini"
"Kau lihat kan,apa yang telah terjadi,Nov aku ingin tenang,dan tidak disini tempatku untuk tenang,ini sungguh benar-benar melukai aku"
"Tapi kuliahmu?"
"Kau yang harus melanjutkan kuliah mu,kau tenang saja aku akan baik-baik saja,titip salam pada teman-teman,aku pamit,terimakasih untuk semuanya"
__ADS_1
Amara memeluk sahabatnya,dan lansung pulang ke kampungnya.
Sampai dirumah,Amara menceritakan semuanya pada ibunya,ia akan berhenti kuliah dan akan mencari kerja,ibunya tidak apa-apa,asalkan anaknya memiliki pemikiran yang tenang.
hari-hari berlalu,badannya semakin kurus,tak ada kerjaan dan hanya merenungi nasibnya,ia tak mau makan.Dari kecil ia tak di sukai keluarga ayah dan ibunya,banyak ujian yang ia hadapi dalam hidupnya,dimasa kuliah ia hidup dengan adik ayahnya yang kejam,ditinggalkan kekasihnya,lalu sekarang Mulyadi yang berjanji akan slalu bersamanya juga mengkhianati nya.
Ia hampir tak memiliki harapan hidup,ibunya mulai cemas dengan Amara,ia berniat ingin menjodohkan Amara,siapa tau dengan jodohnya nanti ia bisa memiliki hidup yang layak dan bahagia.
"Amara ibu ingin menjodohkanmu dengan Syarif,ia masih muda belum menikah,dan sudah S2 kini ia bekerja di kedinasan"
"ia tak akan mau dengan kita yang miskin bu,lagi pula aku belum siap untuk menikah"
"Amara sudahlah,apa yang kau pikirkan,lihatlah dirimu,kau seperti ini sudah sepantasnya kau menerima orang kaya seperti Syarif,lagipula ibunya juga mencarikannya calon istri bahkan tidak memilih-milih menantu,ibu dengar dia juga mendapat penyakit,makanya tidak laku-laku"
"Apa yang ibu bicarakan,jangan membicarakan orang seperti itu bu"
"sudahlah kau mau saja ya ibu jodohkan,agar hidup mu jelas"
"terserah ibu saja"
Ibu Amara benar-benar telah menjodohkannya dengan Syarif,orang kampung Amara yang terpaut 10 tahun lebih tua dari Amara,Syarif yang ibunya juga terdesak mau menikahkan Amara dengan anaknya,tapi tidak dengan Syarif yang meragukannya.
"Bagaimana ibu bisa menjodohkan aku dengan wanita itu"
"lalu kau punya wanita yang ingin menikah denganmu?"
"bu dia saja seperti itu,mana mungkin aku betah dengannya"
"dia seperti nya baik,hanya nasibnya mungkin yang buruk,wajah nya bisa kau rubah,tapi jika kau tidak mau,terpaksa kau harus menanggung malu,karna belum menikah"
"terserah ibu saja"
__ADS_1
"kau mau kan?"
Perjodohan itu berjalan semestinya,Amara kini telah menjadi calon istri dari Syarif pria yang tidak menyukainya.