
Hari pernikahan sudah semakin dekat,Amara mengabari Novi dan Ibunya bahwa ia akan menikah.
"Nov aku akan menikah"
"hah,kau yang benar saja"
"benar ini hanya perjodohan"
"lalu laki-laki apa yang dijodohkan dengamu?"
"dia orang kampung ku,lulusan S2 dan sedang bekerja di kedinasan"
"wauuuu bukan main-main ya calon suami temanku,tampan kan?"
"tampan,tapi tetap saja hanya dijodohkan,mungkin ia juga terpaksa menikahiku"
"lama-kelamaan juga akan menjadi cinta"
"beri tahu ibumu,aku udah dulu ya,aku akan mengabari Naila dan Nadia juga,jangan lupa datang minggu depan,dan kau harus janji jangan ada yang tau tentang pernikahanku ini di kampus"
"siap bawell"
Amara juga mengabari Naila dan Nadia,mereka ikut senang jika akhirnya sahabat mereka itu akan segera menikah.
Hari pernikahanpun datang,Amara yang cantik dengan kebaya yang dikenakannya,begitupun dengan Syarif,setelah selesai akad,malamnya Amara masuk kekamar pengantin dengan Syarif.
Tapi tak seindah yang dibayangkan,Amara sedikit menerima masalah dari pernikahannya itu.
"Amara sebenarnya aku tidak menyukai pernikahan ini,jadi aku harap berlaku lah sepatutnya dan jangan berlebihan padaku"
"Apa maksud abang,kita ini sah menurut agama dan negara"
"biarlah,aku hanya patuh pada ibuku dan tidak mencintaimu"
"baiklah aku juga seperti itu,aku juga patuh pada ibuku"
"tidurlah kau disini,biar aku tidur dikamar adikku,dan aku mohon bersikaplah selayaknya suamiku,didepan kedua orangtu kita masing-masing ,aku tidak ingin mereka tersakiti dengan pernikahan palsu ini".
"baik"
Amara meninggalkan Syarif dan tidur dikamarnya,ia tidur dikamar adiknya.
Esok hari adalah resepsi dirumah Syarif.Amara sangat cantik mengenakan pakaian adat,duduk bersanding di pelaminan,dengan suami yang tidak mencintainya itu.
"Cantik sekali istrimu Syarif dan jauh lebih muda"
"Hahaha kau ini becanda saja"
__ADS_1
dua hari usai pernikahan,Syarif berniat untuk tinggal dirumah perumnas yang telah ia beli,mereka berdua pindah kesana.
"itu kamarmu"
"iya"
Setiap pagi Amara melakukan pekerjaan rumah selayaknya seorang istri,ia slalu menunggu Syarif pulang bekerja yang selalu larut malam,kadang ia lelah dengan semua itu menikah tapi hanya sebatas status,bagaikan babu yang bekerja pada tuannya yang menghuni rumah itu.
Saat Amara keluar rumah ia melihat tetangganya ,pasangan yang bahagia,ia merasa iri dan sakit menyadari hidupnya yang semakin hari semakin terluka.
Pada suatu malam Syarif tak kunjung pulang,Amara menunggu nya di sofa ruang tamu hingga tertidur,saat Syarif pulang ia lansung masuk kamar tampa memperdulikan istrinya yang tertidur di sofa,padahal saat itu tengah turun hujan.
tak lama Amara terbangun,dan melihat keluar rumah,sudah ada mobil Syarif yang terparkir,Amara yang kesal ia memasuki kamar Syarif.Ternyata Syarif masih bangun.
"kau memang keterlaluan ya,aku telah menunggu dari tadi,dan kau tidak membangunkan aku"
"aku tidak menyuruhmu menungguku,
"kau sadar kau pulang jam berapa,dan kau membiarkan aku sendiri dikamar ini"
"siapa yang menyuruhmu menjadi istriku"
"ibuku.....ibuku yang memaksaku,kau juga mengapa mau menikahiku,karna kau tidak laku dan terpaksa menikahiku karna malu dengan teman-teman ditempat kerjamu"
Syarif yang mendengar ucapan Amara sangat marah dan merasa terhina ia menampar Amara dengan keras
"ini yang kau mau"
Amara menangis,dan merasakan sakit dari tamparan itu"
"pulangkan aku pada orangtuaku,Ayahku saja tak pernah menamparku"
"baik,kau mau malam ini ayo,akanku antarkan"
Syarif menarik tangan Amara dan menyeretnya keluar dari rumah itu,diluar hujan semakin deras.Amara yang merasa kesakitan berusaha melepaskan tarikan Syarif dari tangannya,sampai diteras rumah Syarif yang kasar lansung mendorong Amara hingga terjatuh Amara yang basah kuyup,sejadi-jadinya menangis.
" ibu...... lihat perlakuanya padaku,aku hanya sebatas boneka baginya,aku miskin dan buruk rupa,Tuhan.... kenapa kau mempertemukan aku dengan nya,hidupku sudah sakit dan hari ini semakin sakit"lirih Amara ,ia terisak.
Syarif yang kesal melampiaskan kemarahannya,dengan memukul pintu dengan kepalan tangannya,lama Amara terduduk ditengah hujan dan menangis,tapi Syarif hanya membiarkannya ia tak memperdulikan Amara dan ia lansung masuk kedalam kamarnya.
"kenapa ia begitu menghinaku,ia tak pantas untukku,ia hanya wanita miskin yang menumpang hidup padaku"
Amara yang telah basah kuyup berusaha,mengalahkan egonya dan kembali kedalam rumah,ia menutup pintu rumah dan masuk kekamarnya,ia yang telah basah kuyup tergeletak dikamarnya sambil menangis.
"jika kau tak mengkhendakiku bahagia,lalu kenapa kau tidak membawa aku saja tuhan"
Pagi hari Amara tak keluar kamar dan hanya berdiam dikamarnya,dia tak melakukan pekerjaan apapun,tak ada makanan saat Syarif akan pergi bekerja,begitu juga saat ia pulang tengah malam,rumah masih sama seperti keadaan kemarin,ia melihat dapur sama saja seperti seperti semalam,tak ada tanda-tanda orang yang memasak didapur dan sisa makananpun tak ada.
__ADS_1
"apa ia tidak keluar dari kamarnya"
Amara yang telah disakiti oleh Syarif ia terus menangis tampa mengerjakan apa-apa,ia masih tertidur ditempat yang sama.
Pagi harinya Syarif mencoba melihat whatsapp Amara,dan ternyata whatsapp nya tidak aktif.
"apa yang terjadi dengannya dikamar"
Syarif mengetuk pintu kamar Amara dan tidak ada jawaban apapun
"Amara...Amara.... buka pintunya".
"Amara".....
tetap tak ada jawaban
Syarif yang mulai takut mendobrak pintu kamar Amara,ternyata ia melihat Amara telah tergeletak dilantai kamarnya.
"Amara......"
dia tak menjawab Syarif,saat syarif menyentuhnya,badannya mengigil dan suhu badannya sangat panas,Amara tak sadar diri,Syarif yang panik lansung membawa Amara kerumah sakit,ia memperhatikan pipi Amara yang memerah karna bekas tamparannya.
Saat Amara sadar,Syarif berniat untuk menghubungi ibunya agar Amara bisa dijaga oleh ibunya,tapi Amara melarangnya.
"Aku akan mengabari ibuku agar ibuku bisa menjagamu disini"
"tidak perlu,aku bisa mengurus diriku sendiri,jika ada apa-apa aku bisa memanggil perawat"
"baiklah aku akan pergi bekerja"
sepeninggalan suaminya,Amara sangat sedih bahkan suaminya tak memperdulikannya,malam harinya Syarif juga nemberinya pesan jika ia tak bisa menjaga Amara,yang membuat Amara semakin tertekan.
Keesokan harinya Amara meminta pulang kerumah,walaupun keadannya belum stabil.
Sampai dirumah Amara berniat untuk kembali berkuliah dan hanya akan pulang sekali dalam seminggu.
"aku akan kembali berkuliah,dan akan kembali seminggu sekali"
"baguslah dan kau memang harus memperbaiki harga dirimu,dengan tujuan awalmu menumpang hidup denganku"
"aku memang miskin tapi tak pernah berniat seperti itu,aku juga akan siap jika kau ingin menceraikan aku"
"itu yang aku tunggu-tunggu darimu,tunggulah setahun ini agar ibu ku tak curiga kau akan ku ceraikan,kau nikmati saja uangku terlebih dahulu"
"tidak perlu aku akan membiayai hidupku sendiri"
Amara lansung berdiri dari tempat duduknya dan masuk kekamarnya.
__ADS_1