
Setelah lima hari di rumah akhirnya Amara pulang ke rumah tantenya,
Benar saja Amara akan di ajak oleh tantenya untuk berlibur,bahkan pamannya,adik dari ayahnya yang bungsu juga akan ikut.
Lumayan untuk melupakan masalah setelah berpisah dari Angga,hari berlibur pun datang,mereka berencana akan pergi ke salah satu tempat wisata di Bukittinggi.
Yang pergi adalah Amara,tantenya,Sinta,Rey dan Rio,lalu paman Amara,dan satu supirnya.
Paman Amara adalah sosok yang lumayan terkenal di kotanya karna ia adalah seorang pengusaha muda yang sukses dan belum menikah,baik hati walaupun perkataannya terkadang agak sombong,yabg memang sudah bawaan dari keluarganya,karna memang keluarga besar ayah dan ibu Amara adalah orang yang sangat kaya,tapi tidak dengan orang tuanya,orang tua Amara hidup sederhana,bahkan rumah yang ditempati Amara dan keluarganya adalah pemberian kakek Amara,ayang dari ibunya.
Perjalanan hidup orang tua Amara sangatlah panjang,dan sangat rumit,orang tua Amara dulunya di jodohkan,awalnya ibu Amara menolak tapi orangtuanya tetap saja memaksa,berharap kekayaan besannya akan membawa bahagia pada anak dan cucunya,tapi faktanya malah berbalik.Tapi ibu Amara tetap sabar dan terus menjalani kehidupan walaupun dalam keadaan susah.
Diperjalanan menuju Bukittinggi tante Amara meminta agar berhenti dulu di salah satu supermarket,tante Amara dan anak-anaknya turun dan bergegas memasuki supermarket untuk belanja,tidak dengan Amara ia hanya duduk di kursi belakang,tidak ikut turun dan masuk supermarket karna Amara tidak punya uang.
"Mara kau tak ikut belanja" tanya paman Amara
"Tidak paman,Mara disini saja"
"pergilah beli yang kau mau"memberikan uang pada Amara
tapi Amara menolak uang pemberian pamannya itu,
" Tidak paman,tidak ada yang mau di beli"
__ADS_1
pamannya kembali memasukkan uangnya dalam kantong,melihat ponakannya yang menolak uangnya,paman Amara jadi berpikir apakah Amara mendapatkan perlakuan yang sama dengan dirinya pada waktu dulu,dulu paman Amara juga tinggal bersama tante Amara,tentu saja perlakuan tante Amara sama kasarnya,tapi Amara jauh lebih sakit dari pada pamannya,paman Amara dulu sering diberi uang lebih dan kerap menerima hadiah,lain dengan Amara pamannya sangat mengetahui sifat Amara,Amara sangat sopam bahkan ia tidak akan mengemis untuk meminta apa yang ia inginkan,karna memang ajaran dari ibu Amara.
"Bagaimana kuliah kau,lancar?"
"Alhamdulillah paman,kuliahpun hanya dua kali dalam seminggu"
"Syukurlah,nanti akan paman berikan janji paman waktu awal kau mendaftar kuliah"
paman Amara pernah berjanji memberikan uang untuk ponakannya itu untuk membeli keperluan kuliah,sayang pada saat itu paman Amara ditimpa musibah,ia pada saat itu ditipu teman kerjanya dan uangnya di bawa kabur.
Setelah tante Amara kembali lagi ke mobil mereka melanjutkan perjalanan,sampai di tempat tujuan mereka berkeliling,Amara sambil mengawasi dan bergandengan dengan Rio,bak seperti baby sister nya Rio,Amara disuruh tantenya untuk menjadi tukang foto mereka.
Amara terus dibelakang mengikuti tante Amara dan anak-anaknya,ia tak menikmati liburnya kali ini.
"lihat ma wanita itu,mirip dengan Amara"
"mama juga sepemikiran dengan kamu,memang sama sekali dengannya" mereka tertawa terbahak-bahak.
Amara nampaknya mendengar dan mengetahui ucapan itu,ia hanya merunduk saja,sampai akhirnya Sinta menghinanya.
"kembaran kakak tu,mirip sekali,yang mana kakak dan mana ni yang adik?hahahaha,"
Sinta terus saja meledeknya sedangkan Amara tidak menggubrisnya.Setelah puas bermain akhirnya mereka pulang kerumah.
__ADS_1
Sampai dirumah pada malam hari Amara masih saja diledek Sinta dengan kejadian tadi siang.
"hahahaha tidak bisa aku lupakan,kembaran kakak tadi siang"
"kenapa tidak sama saja dan kakak ikut dengannya"
"Sinta jangan seperti itu" jawab Amara
"tapi itu memang kenyataan bukan,kakak memang sangat mirip dengannya" balas Sinta
"keterlaluan sekali kamu,bahkan kau telah menghina orang yang memiliki kekurangan"ucap Amara dengan nada tinggi
"lalu?aku harus iba padanya,seperti ibuku yang iba padamu,dan membawamu kemari"
"berani sekali kau memarahiku,apa kau tidak sadar kau itu menumpang tinggal dengan keluargaku" tambah Sinta
mata Amara lansung sembab dan meneteskan air mata,betapa rendahnya ia di mata Sinta.
"alah menangis terus,biar apa?biar mamaku kasihan padamu,lalu memarahiku iya?"
"makanya kalau menumpang kau harus tau diri,kalau tidak suka ya tidur saja diluar,kalau tidak diruang lepas dekat kamar mandi sana" ucap sinta sambil tertawa dan melihat hp nya.
Sinta memang memiliki sifat yang jelek,ia kerap kali merendahkan Amara yang menumpang tinggal dengan ibunya.
__ADS_1