
Hari yang terang di siang hari Amara dan Novi kini mulai memasuki kelas untuk memulai perkuliahan,
Amara menceritakan apa yang terjadi pada dirinya dari ulah perbuatan Mulyadi mantan kekasihnya itu,ia merasa risih jika tiap hari harus bertemu dengan Mulyadi,ia juga takut jika sewaktu-waktu Mulyadi akan membongakar dan memberi tahu seluruh mahasiswa jika dirinya telah menikah.
Ia dan Novi berencana menemui Mulyadi ingin membuat kesepakatan agar Mulyadi tidak membocorkan jika dirinya telah berumah tangga,tapi Mulyadi yang masih mencintai Amara ,ia malah memiliki rencana lain bahkan ia berniat menceraikan istrinya dan membuat Amara bercerai dari suaminya,agar Mulyadi bisa menikahi Amara.
Novi yang telah membuat janji dengan Mulyadi agar menemui Amara dan dirinya segera mengabari Mulyadi dan memberikan alamat tempat dirinya dan Amara menunggu Mulyadi.
Setelah mereka bertemu,Amara memohon kepada Mulyadi agar Mulyadi tidak memberi tahu Amara tentang kejadian yang telah diluhatnya dirumah Amara,tapi Mulyadi malah mengajukan syarat yang membuat Amara semakin jengkel dan memaki Mulyadi.
"maff jika saya memberi pesan kepada bapak,saya hanya mohon kepada bapak agar bapak tidak memberi tahu teman-teman saya dikampus bahwa saya telah menikah"
"iya kalau bisa bapak bersikap sewajarnya saja pada Amara dikampus,karna jika mereka tahu ,pasti Amara akan dihujat"
"itu semua bisa saya atur,kecuali...."
"kecuali apa pak?"
"kecuali kita menjalani hubungan seperti dulu lagi"
"maksudnya?"
"iya kita harus menjalani hubungan,sewaktu kita masih saling mencintai di belakang pasangan kita masing-masing"
"kau memang sudah gila Mulyadi,aku mencintai suamiku,dan tidak akan mungkin menjalani sesuatu hal yang gila macam ini"
"tidak aku tidak gila,aku hanya tengila-gila padamu Amara"
"cukup Mulyadi,aku benar-benar sudah jijik dengan sikapmu"
"bapak memang tidak punya hati,bapak telah meninggalkan Amara dan kini mulai mau merusak kebahagiaan nya,bapak tidak punya harga diri didepan mahasiswa sendiri berbicara seperti itu"
"itu terserah kalian ingin bicara apa,jika Amara tidak mau terpaksa dengan berat hati saya akan membongkarnya"
"silahkan lakukan semaumu Mulyadi,ayo Nov kita pergi dari sini aku suda muak melihat bajingan ini"
Amara menarik tangan Novi keluar dari tempat itu.
"pikirkan ucapanku Amara,kalau tidak kau akan menanggung resikonya"
Mulyadi telah merasa menang dengan ucapannya,ia berpikir jika Amara akan memikirkan kembali tawarannya,Amara yang telah mendapat ancaman dari Mulyadi mulai merasa resah dan takut,jika semua orang tau maka dirinya akan malu.Ia juga tak berani menceritakan pada suaminya,ia takut jika nanti suaminya tau akan menjadi masalah yang baru.
__ADS_1
Benar saja Mulyadi akan membongkar semuanya ketika perkuliahan,Mulyadi yang berwawasan tinggi kini hatinya telah tertutup nafsu cintanya terhadap Amara,ia bahkan juga berniat membalas dendam ketika Amara mengusirnya saat bertamu secara tidak hormat.
Saat mengajar Mulyadi slalu membahas hal-hal tentang pernikahan yang membuat Amara menjadi takut dan merasa was-was,sesekali ia juga memberikan pertanyaan pada Amara,hal itu membuat Amara kehilangan kefokusan dalam belajar.
"tuhan apa yang harus aku lakukan,sibrengsek ini terus menanyakan hal-hal yang aneh padaku"guman Amara dalam hatinya.
sepulang dari kuliah,dengan rasa yang tidak malu,Mulyadi malah menawarkan agar ia mengantarkan Amara untuk pulang,Amara bahkan bungkam tak menjawab sepatah katapun darinya,
"tetaplah berlalu dariku Amara,aku lebih mencintaimu dari suamimu itu"
Amara terus berjalan,dengan rasa cemas ia takut jika ada orang yang mendengar perkataan Mulyadi.
"Amara..........,beritahu aku jika kau masih mencintaiku,dan kembalilah dan kita akan memperbaiki semuanya"
"Amara......."
Amara terus berlari hingga ia sampai ditempat ia menaiki angkot,ia tidak tenang,hingga dijalan menuju rumahnya,ia takut jika nanti Mulyadi mengikutinya.
Sesampai dirumah ia segera memasuki rumahnya dan mengabari suaminya,jika ia ingin suaminya cepat pulang.
Setelah isya,tapi suaminya juga belum pulang,ia sangat merasa ketakutan,saat jam 10 malam barulah suaminya sampai dirumah karna ia merasa takut jika nanti Mulyadi datang kerumahnya.
"kenapa baru pulang sekarang"
"kerjaan terus yang dipikiran,sesekali pikirkanlah aku"
"kok jadi marah-marah,aku baru sampai rumah,harusnya kamu menawari suami makan dan minum dulu"
"aku takut dirumah sendirian,yasudah aku siapkan makanan dan minuman dulu"
"iya,aku juga mau mandi"
Syarif mulai mencurigai istrinya,biasanya Amara tak bersikap seperti ini,kali ini benar-benar agak sedikit aneh ia seperti seseorang yang ketakutan,setelah mandi dan makan Syarif bertanya pada istrinya.
"sayang ada yang kamu sembunyikan dari aku?"
"astagaa pertanyaan gila apalagi ini"
"aku melihatmu lain hari ini,seperti seseorang yang dalam ketakutan"
"tidak,aku seperti biasanya mana mungkin aku ketakutan tampa sebab"
__ADS_1
Syarif duduk lebih mendekat pada istrinya,menatap dan juga memeluk istrinya.
"katakanlah apa yang terjadi,aku yakin ada yang tengah istri kecilku ini sembunyikan dari aku"
Amara yang berniat tak menceritakan kejadian itu malah luluh untuk menceritakan kejadian itu pada suaminya,ia malah meminta jika ia ingin duduk di atas pangkuan suaminya.
"aku ingin duduk dipangkuan dulu,baru menceritakannya"
"kemarilah sayang,aku benar-benar mencintaimu"
Amara merangkul suaminya dan mendekap pada pelukannya.
"sayang sebenarnya begini,aku tidak menceritakan jika aku telah menikah pada teman-temanku"
"kenapa?"
"aku malu"
"malu karna menikah dengan lelaki yang lebih tua?"
"sayanggg.....bukan itu tapi aku malu jika mereka berpikiran aku menikah untuk menyaingi Mulyadi"
"bukan karna aku lebih tua"
"iya itu iya juga hahhahah"
"kau mulai nakal ya"
Mulyadi mengangkat istrinya hingga kekamar,sesampai dikamar mulyadi memeluk istrinya dan bertanya kembali sebenarnya apa yang ditakuti istrinya itu.
"lalu kenapa kamu seperti orang yang ketakutan"
"Mulyadi mengancamku,ia akan mengatakannya pada semua teman-temanku jika aku telah menikah"
"biarkan saja,memang sudah kenyataan bukan!"
"aku trauma dengan ucapan teman-temanku,mereka menghinaku,aku hanya orang miskin nanti mereka mengiraku mengincar hartamu"
"tidak ada yang perlu kamu takuti,aku akan bersamamu,lambat laun semuanya juga akan terungkap jadi biarlah mereka tahu,dan jangan sembunyikan lagi semuanya dariku,aku ini suamimu"
"iya tentu saja,sudah ayo tidur sudah malam,besok abang akan kembali bekerja "
__ADS_1
"peluk aku lebih erat ,agar tidurku lebih nyaman malam ini"
Amara dan Syarif berpeluka hingga terlelap,mereka berdua memang benar-benar saling mencintai tak seperti dulu lagi.Bahkan Syarif yang sangat merasa lelah tak pernah mengeluh lelahnya pada istrinya,ia berharap suatu saat nanti istrinya mau kembali kerumahnya.