BANGKITNYA PEMUDA MISKIN

BANGKITNYA PEMUDA MISKIN
10. rencana kedepannya


__ADS_3

"Apa !!! gila kamu Dim... Bagaimana nanti kamu salah melakukannya.. bisa berakibat fatal itu.."!!"seru Dono lagi. Sementara Dimas sendiri hanya menggarut Garut kepalanya.


"Tapi dia nggak papa kan ?? Dia baik-baik saja. Ya sudahlah, ayo. Aku harus membahas beberapa rencana kepadamu kedepannya. Tapi sebelum itu, kita singgah di rumah makan padang dulu deh. Kita beli nasi bungkus dulu biar nanti sampai di kosan bisa makan." Ujar Dimas lagi kepada temannya itu.


Akhirnya Dono tak lagi bertanya. jujur saja, selama seharian ini, Dono dibuat takjub dengan perubahan Dimas. namun juga sekaligus dibikin deg-degan olehnya. Akhirnya Dono kembali melajukan motornya menuju rumah makan Padang. Sesampainya di sana Dimas langsung membeli 2 bungkus. Setelah selesai membayar Dimas kembali mengajak Dono pulang ke kontrakannya.


***


Kini mereka berdua telah sampai di kontrakan dan telah selesai makan nasi padang yang mereka bungkus itu. Keduanya saat ini sedang menikmati minuman teh yang sederhana itu. karena dikosan Dimas, ada gula dan teh yang ditinggalkan oleh sang pemilik tubuh dan hanya ada itu satu-satunya di dalam kontrakannya itu.


"Don. Kamu kan tahu, aku sudah punya uang, kira-kira uang ini aku apakan ya..?? Jujur saja don, aku bingung biasanya kan uang hasil kerja kerasku selama ini aku berikan pada Sarah sampai-sampai aku sendiri lupa dengan kebutuhanku. Kira-kira, kamu bisa kasih solusi apa Don..??" Tanya Dimas kepada Dono.


ia ingin mendengar pendapat sahabat nya itu. Karena inilah yang ingin dibahas oleh Dimas kepada temannya ini. sebenarnya, Dimas bingung karena, kalau ingin membeli rumah, sudah pasti dia sendiri yang akan tinggal.


Dono yang mendengar penuturan Dimas langsung menepuk jidatnya dengan kuat.


"Jadi ini alasannya..?? Mmm... Gini saja, uang itu kamu belikan sebidang tanah untuk membangun rumah milikmu. Atau kamu buka usaha kecil-kecilan gitu..??" Ujar Dono memberikan solusi.

__ADS_1


Sementara Dimas mengganggu anggukkan kepalanya. namun ia sama sekali tak tertarik untuk membuka usaha atau semacamnya. namun Ia juga tertarik dengan usul Dono yang mengatakan untuk membeli sebidang tanah. Atau rumah yang dijual. Dimas Barata Tak sampai ke sana pemikirannya, karena di dunia persilatan dulu, mereka tidak harus membeli lahan asalkan ada modal untuk membangun rumah, mereka akan menggunakan lahan kosong dengan bebas.


"Kalau untuk usaha aku belum memikirkannya Don. Tapi kalau rencana membeli rumah, Sepertinya itu ide yang bagus. Aku akan membeli rumah yang akan dijual. Ya, ibaratnya rumah yang sudah tidak layak lah biar nanti aku renovasi." Ujar Dimas lagi Dengan bodohnya. Padahal harta benda dalam ruang penyimpanan begitu banyak. Dono yang mendengar penuturan dari Dimas kembali menepuk jidatnya.


"Kalau begitu, kamu ngapain beli rumah yang rusak bodoh. Lebih baik kamu beli sebidang tanah kemudian kamu bangun rumah di atas tanah itu..!!" Seru Dono lagi kepada Dimas.


 tampak wajah Dono terlihat gemas sekali ingin sekali mencubit-cubit Dimas. Dimas yang mengerti dengan tatapan temannya yang merasa gemas kepadanya langsung terkekeh. bukan tidak memikirkan untung ruginya, hanya saja Ia ingin melihat respon temannya itu.


"Ya sudah kalau begitu, nanti kalau kamu sudah ketemu sebidang tanah yang cocok.. kamu jangan lupa kasih tahu aku ya. Oh ya, berhubung aku adalah teman yang baik, Bagaimana kalau kita buka usaha berjualan makanan atau obat-obatan. Dan aku minta tolong kepadamu untuk membantuku, daripada kamu jadi tukang ojek yang pekerjaan yang cukup berbahaya. Bagaimana kamu mau tidak..??" Tanya Dimas lagi kepada Dono.


Dono yang mendengarkan usulan itu langsung menganggukkan kepalanya, tentu saja ia sangat mau bekerja apalagi nanti bisa membantu perekonomian keluarganya.


"Ya sudah kalau begitu, tapi ya aku cari peluang bisnis dulu ya." Ujar Dimas sambil tersenyum sum ringan.


"Ya... katanya mau bisnis kuliner... Tinggal cari tempat kemudian rencanakan mau buka apa.. misalnya ayam bakar kek, ikan bakar, lele bakar atau yang rendang atau semacamnya.. gitu.. ini malah memikirkan dulu gimana sih.." ujar Dono lagi memanyunkan bibirnya seperti perempuan yang mengabek. Dimas yang melihat ekspresi sahabatnya seperti itu langsung terkekeh.


"Sudahlah, jangan ngambek seperti itu. Kamu itu seperti anak perempuan aja tau enggak..." Ujarnya memprotes sifat Dono itu.

__ADS_1


Akhirnya Dono sendiri kembali menyeruput tehnya itu.


"Ya udah, besok kamu temenin aku untuk mencari lokasi strategis. kita akan buka usaha kuliner. Dan sekaligus juga aku ingin membuka apotek pengobatan sekaligus." Ujar Dimas lagi kepada temannya.


Sisa uang penjualan HP tadi, Dimas rasa masih sangat cukup untuk mencari tempat atau membeli tanah dan membangun tempat penjualan sesuai dengan yang mereka rencanakan.


"Oke kalau begitu. lagian besok kan kita tidak punya jadwal kuliah lagi. Oh iya, ini sudah sangat sore aku pulang ya." Ujar Dono kepada temannya.


Dimas pun langsung menganggukkan kepalanya. namun Dimas juga tak lupa memberikan segepok uang untuk Dono. Karena Dimas tahu, biasanya setelah pulang kuliah Dono akan nangkring dan bekerja untuk menjadi tukang ojek, tapi karena menemaninya hari ini Dono tidak melakukan kesehariannya.


"Oh ya Don. ini buat kamu. Ambil dan gunakan sebagaimana mestinya." Ujar Dimas dengan mutlak karena Dimas tahu pasti Dono akan menolak pemberiannya. Dono sendiri masih dibuat terkejut dengan apa yang dilakukan dinas.


"Apa-apaan lu.. lu mau beli jasa gue ya... berarti kamu nggak pernah nganggap aku temen dong.." ujar Dono agak tersinggung dengan apa yang dilakukan Dimas.


 padahal dirinya sangat tulus membantu sahabatnya itu. Dimas yang menyadari bahwa Dono menyalah artikan uang pemberiannya langsung tersenyum simpul dan menjelaskan.


"Jangan marah dulu don. Aku memberikan uang ini bukan karena membeli jasa kamu atau tidak menghargai persahabatan kita. Tapi, aku tahu setiap kita selesai kuliah kamu pasti akan bekerja menjadi tukang ojek dan uang itu akan kamu gunakan untuk membeli beras dan keperluan keluarga lainnya. Tapi karena hari ini demi menemaniku kamu tidak bekerja aku yakin di rumah juga sudah tidak ada beras. Jadi aku memberikan uang ini khusus buat kamu. karena kita adalah sahabat. bukan karena aku membeli jasa kamu.. paham nggak. Tapi kalau kamu nggak mau menerima bantuan atau pemberian aku, besok-besok Aku tidak akan minta tolong lagi kepadamu." Ujar Dimas dengan mutlak lagi.

__ADS_1


Dono yang menyadari akan hal itu pun langsung duduk kembali, padahal tadi ia sudah berdiri karena berniat segera pulang ke rumah.


"Maaf Dim. Aku bukannya tidak mau menerima pemberian kamu. Tetapi karena aku sudah menganggap kamu seperti keluarga sendiri jadi aku tulus melakukannya." Ujar Dono lagi.


__ADS_2