BANGKITNYA PEMUDA MISKIN

BANGKITNYA PEMUDA MISKIN
19. menjual emas lagi


__ADS_3

Semua karyawan yang ada di sana pun tidak membantu, malahan Dimas juga melihat semua karyawan itu menatap mereka dengan tatapan meremehkan.


"oh jadi begitu. Ya sudah, lagi pula bukan kantor ini saja yang menjual properti. ayo Don kita cari tempat yang bisa menerima kita apa adanya." setelah Dimas mengatakan hal itu mereka pun langsung meninggalkan kantor properti itu.


Dimas bukannya tidak ingin menunjukkan kebolehannya, tetapi Dimas tidak ingin mengundang banyak masalah yang mungkin akan membuat dia kesusahan sendiri. Karena itulah, ia lebih memilih untuk pergi mencari kantor properti lainnya. dan kebetulan, kantor properti yang lain berada tidak jauh dari kantor tersebut. walaupun kantor itu terlihat tidak sebesar kantor yang pertama.


"kita ke sini saja.. " ujar Dimas lagi kepada temannya. akhirnya Dono kembali memarkirkan motornya ke parkiran yang disediakan oleh kantor itu.


sementara para karyawan yang masih bekerja di kantor properti yang pertama mereka datangi menyaksikan sendiri, kedua pemuda itu memasuki kantor yang ada di seberangnya. Mereka pun Hanya mencibir saja karena menurut mereka kantor kecil itu memang cocok untuk orang-orang miskin seperti mereka.


saat pertama kali mereka memasuki kantor itu, tak ada satpam yang bekerja di sana karena memang pekerjaan itu masih bisa dikelola oleh beberapa orang saja. di sana, mereka langsung disambut dengan baik oleh karyawan karyawan itu, terhitung hanya ada dua karyawan yang melayani dan satunya lagi sedang duduk di tempat yang biasa disebut resepsionis atau kasir.


"selamat datang tuan-tuan. Apa ada yang bisa kami bantu..??" tanya salah satu pegawai itu dengan sopan.


"tentu saja Mbak, kami ke sini ingin mencari tanah atau rumah yang dijual. kira-kira di mana kami bisa mendapatkannya..??" tanya Dimas berbasa-basi. pegawai perempuan itu pun tersenyum.


"kalau begitu silakan tuan-tuan ikut bersama dengan saya untuk melihat gaya bangunan seperti apa yang tuan-tuan butuhkan." akhirnya pegawai itu langsung mengajak Dimas dan Dono untuk melihat miniatur-miniatur kecil yang memang sengaja dipasang untuk sebagai contoh bangunan yang sedang mereka jual.


"silakan tuan-tuan. Ini adalah gaya miniatur bangunan yang sedang kami jual, bangunan di sini bergaya minimalis dan ada juga kediaman yang mewah. tuan-tuan ingin memilih gaya bangunan yang mana..??" tanya karyawan itu lagi dengan sopan. Dimas dan Dono melihat-lihat terlebih dahulu. tiba-tiba, mata Dimas langsung tertuju pada salah satu gaya bangunan yang ada disana.

__ADS_1


"Mbak, Saya menginginkan bangunan rumah yang luas dan juga bertingkat, tidak harus terlalu mewah, namun juga tidak terlalu sederhana dan minimalis.."ujar Dimas bernegosiasi kepada pelayan tersebut.


"apakah bentuk bangunannya seperti ini tuan ..??" tanya pelayan perempuan itu sambil menunjukkan tempat di sebelahnya.


Di sana terlihat sebuah miniatur rumah di dalam kaca, terlihat mewah, namun juga gaya bangunannya tidak terlalu merepotkan, tapi tidak juga bisa dikatakan sederhana.


"Iya. saya menginginkan bangunan yang seperti ini..?? Kira-kira berapa harga bangunan seperti ini..??" tanya Dimas kepada pelayan itu.


"untuk harga bangunan seperti ini, itu sekitar 5 sampai 6 miliar, karena walaupun rumah ini luas, tetapi dia tidak menggunakan lift atau barang mewah lainnya. tapi tenang saja, bahan baku pembangunan rumah dibuat dengan bahan yang kokoh dan bagus." ujar pelayan itu lagi.


Dono yang mendengar harga rumah yang ingin dibeli oleh Dimas itu langsung membulatkan matanya. Ia berpikir, alangkah baiknya membeli dan mencari tanah sendiri kemudian membangun sendiri kemungkinan harganya tidak akan sama hal ini. Dimas sengaja membeli rumah yang harganya di bawah 10 miliar, karena ia tahu bahwa dirinya hanya akan tinggal sendirian di rumah itu.


"Ya sudah kalau begitu, bisakah saya membayar uang di muka dulu untuk mengikat bangunan tersebut. karena saat ini, kami masih belum membawa surat-surat lengkap. dan besok kami akan kembali lagi." ujar Dimas lagi.


" oh tentu saja tuan. uang mukanya bisa dibayar satu miliar terlebih dahulu," ujar pelayan itu lagi Dimas pun langsung menundukkan kepalanya.


"kalau begitu, Saya menginginkan dua rumah yang bentukannya seperti ini." kedua pelayan itu pun langsung tersenyum.


"baik Tuan, silakan ke sana dulu dan silakan duduk kami akan menyiapkan beberapa prosedur yang harus dipenuhi agar rumah itu menjadi hak milik Tuan." ujar pelayan itu lagi.

__ADS_1


 akhirnya Dimas dan Dono pun dituntun untuk duduk di sebuah sofa panjang sambil menunggu para karyawan karyawan itu menyiapkan hal-hal yang mereka butuhkan. tak lupa, karyawan-karyawan itu juga menyiapkan minuman untuk kedua tamu mereka.


"dim, kamu kok beli rumah banyak banget..?? Jangan boros-boros lah.."ujar Dono kepada sahabatnya. namun Dimas hanya menanggapi ucapan Dono dengan senyuman.


tak lama karyawan itu pun datang dengan membawa beberapa berkas yang harus mereka tanda tangani terlebih dahulu. setelah itu, Dimas langsung membayar uang di muka sebanyak 2 miliar terlebih dahulu, nanti sisanya akan mereka selesaikan besok.


setelah selesai, Mereka pun berpamitan. tak lupa Setelah dari kantor properti mereka langsung pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli kasur sementara, dan juga dengan bantal selimutnya. tak lupa mereka juga membeli beberapa bahan pangan untuk persediaan. tak hanya untuk Dimas, tetapi juga untuk keluarga Dono.


"Don, siap ini kamu temenin aku lagi ke toko emas. Aku ingin menjual beberapa emas lagi untuk menebus rumah itu. " tutur Dimas kepada sahabatnya.


"oh !!! oke Dim... " setelah belanja kebutuhan mereka selesai, Mereka pun langsung meluncur ke tempat penjualan emas.


dan kini Dono memutuskan untuk menunggu di luar saja. dia tidak ingin terkejut mendengar harga-harga emas yang akan dijual oleh Dimas. lagi pula, dirinya harus menjaga barang-barang atau sembako yang baru saja mereka beli itu.


"kamu saja yang masuk ya Dim. Aku tunggu di sini saja. lagi pula ada banyak barang yang harus dijaga." ujar Dono dengan masuk akal.


"okelah kalau begitu." akhirnya Dimas langsung berlalu masuk ke dalam toko emas dan kembali menjual emasnya.


namun, yang tidak Ia sangka-sangka adalah, Di sana ia bertemu dengan Sarah dan Dion yang tampaknya sedang memilih-milih cincin dan kalung emas yang ada di sana. namun Dimas tak menghiraukan mereka, Ia malah berlalu begitu saja dan melanjutkan niatnya datang ke toko emas ini. tapi tidak dengan kedua orang tersebut.

__ADS_1


"permisi mbak. saya ingin menjual emas lagi.." ujar Dimas kepada karyawan yang sama melayaninya beberapa hari yang lalu.


__ADS_2