BANGKITNYA PEMUDA MISKIN

BANGKITNYA PEMUDA MISKIN
11. museum


__ADS_3

"Begitupun aku don, aku juga sudah menganggap kamu seperti saudara dan keluarga aku sendiri. karena itu, rezeki yang aku miliki juga pantas untuk kamu cicipi. bukankah selama ini kamu dan keluarga juga menerimaku dengan baik dan memperlakukanku layaknya keluarga kalian ??tanpa memandang bahwa diriku yang malam ini akan merepotkan atau membebani kalian. Dan karena aku juga menganggap kalian keluarga, jika aku memiliki rezeki maka rasanya pantas bagiku Untuk memberikannya kepada keluargamu. Jadi ambillah dan besok tolong temani aku lagi keliling mencari tempat. Sudah sana pulang Ibu pasti udah menungguin kamu tuh.." ujar Dimas lagi.


Dimas mengatakan hal itu sambil menepuk pundak temannya. sementara Dono yang mendengar penuturan Dimas langsung menyeka air matanya. jujur saja, dia sangat terharu dengan perlakuan ini.


Ternyata, persahabatan yang mereka jalin begitu sangat erat dan bahkan saling mengasihi satu sama lain.


"Okelah kalau begitu. Makasih ya uangnya dim.. kalau begini kan aku bisa mampir dulu ke pasar untuk beli beras atau ke minimarket. Sekali lagi ya makasih ya Dim. kalau begitu aku pulang dulu.." Dono pun langsung mengambil uang tersebut dan menyimpannya ke dalam tasnya.


 kemudian ia bangkit dan berniat keluar dari dalam kontrakan Dimas. namun sebelum Dono mencapai ambang pintu, ia kembali menoleh karena teringat sesuatu.


"Oh iya, besok jam berapa bos...??" Tanya Dono yang kini sudah mulai kondusif lagi.


"Bass bos bas bos. Jam 09.00-an lah.. sebelum OTW, kamu juga wajib hubungin aku. mana tahu aku lagi tidur. udah sana pulang, hati-hati di jalan ya.." ujar Dimas lagi kini sudah berada tepat di depan pintu bersama dengan Dono.


"Oh oke...!!"setelah itu Dono pun langsung bergegas menghampiri motornya dan meninggalkan kontrakan Dimas.


Namun sebelum itu, Dono seperti biasa, Karena telah dikasih uang oleh Dimas, ia akan pergi ke minimarket untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga terlebih dahulu. Karena biasanya, setiap ia balik ngojek, dirinya selalu membeli beras kiloan untuk makanan besok keluarganya.

__ADS_1


Sementara itu, Dimas sendiri selepas kepergian Dono langsung masuk ke dalam rumah dan membersihkan dirinya terlebih dahulu. Tak lama setelah itu ia selesai dan berniat nanti malam ingin keluar.


"Aku harus segera melatih kekuatanku lagi. Walaupun energi di dunia ini tidak sepadat di dunia persilatan, tapi setidaknya tubuhku bisa menyerap dan terisi energi spiritual." Ujar Dimas lagi.


Akhirnya Dimas naik ke atas tempat tidurnya yang tipis itu dan mulai mengambil posisi Lotus. Dia mulai memusatkan pikirannya dan bermeditasi dalam beberapa saat. sehingga terlihat beberapa unsur alam mulai menyatu dalam dirinya dan membentuk satu kolam spiritual atau tenaga dalam. Setelah itu Dimas menghentikan aksinya.


"Huf... Walaupun energi spiritual yang terserap sangat sedikit. Tapi aku tidak boleh menyerah. Aku yakin, pasti di tempat ini ada tempat yang dipadati dengan energi unsur bumi. Sebaiknya aku siap-siap keluar saja dulu." Ujar Dimas lagi.


 karena tak terasa, ia sudah melakukan meditasi selama 3 jam. sehingga hari telah berganti malam. Setelah selesai bersiap-siap, Dimas pun langsung berjalan meninggalkan kontrakan.


Di perjalanan terlihat sangat ramai, karena sepertinya memang kontrakan yang disewa oleh Dimas ini berada di tengah-tengah kota. Saat sedang berjalan sedikit, tiba-tiba dari jarak yang tidak jauh ia merasakan kepadatan energi spiritual di sana.


Ia berjalan dan terus berjalan, sampai akhirnya ia tiba di sebuah museum yang menyimpan berbagai benda-benda bersejarah di sana. Tampak museum itu juga cukup ramai dikunjungi para pengunjung walaupun kondisinya di malam hari.


"Aku merasakannya di sini." ujar Dimas dan kemudian ia langsung mendongak dan melihat tulisan yang terpampang di atas gedung tersebut.


melihat itu, Dimas pun tersenyum sinis dan tanpa pikir panjang lagi, ia mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam sana. Kate tempat yang dikunjungi nya adalah tempat umum, karena itu sebelum masuk, ia diperiksa terlebih dahulu oleh para petugas untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Dimas sendiri pun tidak menghindar.

__ADS_1


Setelah selesai diperiksa, Dimas pun akhirnya dipersilakan masuk ke dalam. dan benar saja. sesampainya di sana, semua benda-benda kuno bersejarah berjajar rapi di sana memancarkan aura dan energi yang tak biasa. Ia pun melihat dan mengamati benda-benda tersebut. Dimas juga merasakan di setiap benda memiliki aura spiritual yang berbeda-beda.


"Apakah semuanya memiliki aura spiritual yang berbeda-beda ya.. " ujar Dimas sambil mengelus beberapa benda peninggalan itu.


Hanya dirinya yang merasakan kekuatan spiritual di sana. karena semua pengunjung yang ada di sana, rata-rata hanyalah manusia biasa yang hidup dengan akal sehat dan logika. mereka tidak memikirkan bahwa ada satu hal yang menarik di dunia ini.


misalnya menjadi seorang pendekar yang berilmu tinggi. Tetapi, pada akhirnya cerita mengenai pendekar itu hanyalah sebuah dongeng belaka bagi masyarakat modern ini. Menyadari bahwa berbagai macam kekuatan spiritual di dalam museum itu membuat senyum di bibir Dimas terbit.


"Kalau begitu, aku tidak akan sungkan lagi." Dimas pun langsung berjalan mencari lorong yang sedikit sepi dari para pengunjung sehingga tidak memecahkan konsentrasinya.


Akhirnya setelah mendapatkan tempat yang lumayan lengah dari para pengunjung di sana, Dimas mulai konsentrasi walaupun tanpa mengambil posisi Lotus.


Dan benar saja, berbagai warna mulai masuk menyerap ke dalam tubuh Dimas ia berdiri menopangkan dirinya pada sebuah dinding dan menggunakan penutup kepala agar dikira, dirinya mungkin sedang mengamati padahal Ia sedang menyerap kekuatan spiritual. Tak terasa 3 jam lamanya Dimas melakukan hal itu sampai kolam spiritualnya benar-benar padat dan terbentuk.


"Huf... Akhirnya aku bisa membentuk kembali kolam spiritualku, kalau seperti ini aku bisa kembali di masa kejayaan menjadi seorang pendekar yang hebat. tapi tetap saja, harus mengkondisikan tempat. Baiklah, aku rasa juga sudah cukup jika aku berlama-lama di sini tidak baik juga rasanya." Ujar Dimas sambil celingak celinguk melihat ke kanan dan ke kiri.


 takutnya, nanti ada yang menatap heran dan curiga ke arahnya. Namun, ternyata tak ada satu orang pun yang memperhatikan dirinya sehingga hal itu membuat Dimas menjadi legah. Dimas pun langsung buru-buru keluar dari museum tersebut dan berniat ingin mencoba kekuatannya di tempat yang sepi.

__ADS_1


Namun, naasnya. di tengah jalan, karena Dimas keluar hanya mengandalkan kakinya saja sehingga dirinya dikepung oleh beberapa preman yang ingin mamanya. Hal ini sudah lumrah terjadi jika berada di kota.


"Eh, ada mangsa ini bos... Hei cepat serahkan semua harta benda yang kamu punya atau kamu akan mati hari ini." Ujar salah satu komplotan preman itu.


__ADS_2