
Dono pun langsung membukakan pintu dan melihat pemandangan yang tersaji di depannya. di mana, Di sana ia melihat seorang wanita paruh baya yang mungkin seumuran dengan ibunya dengan penampilan yang acak-acakan dan sedang memeluk erat kaki Dimas dengan sorot mata yang penuh kewaspadaan. Dono sendiri Langsung melangkah masuk sambil mengerutkan keningnya.
"Dim, ada apa..?? Siapa wanita paruh baya ini..??" tanya Dono kepada sahabatnya sambil mengerutkan keningnya.
"nanti aku ceritakan Don. oh ya, mana pesanan baju yang aku minta tadi..??" tanya Dimas kembali kepada sahabatnya.
Dono pun dengan segera mengeluarkan dan memberikan baju titipan atau pesanan dari Dimas. baju-baju itu pun juga sudah lengkap dengan pakaian dalam wanita.
"oh iya. Don Aku ingin memandikan Ibu ini, tapi aku adalah seorang laki-laki begitu pula denganmu. terus bagaimana cara kita membersihkan dirinya..??" ujar Dimas lagi yang baru kepikiran mengenai hal itu.
sementara Dono juga yang tidak tahu harus melakukan apa, dirinya hanya bisa menggarut-garut kepalanya saja. Nyonya Larasati memandang kedua pemuda itu yang sepertinya bersahabat dengan baik kemudian tersenyum. Ia juga mulai melonggarkan rangkulannya di kaki Dimas.
"nak, Mama tidak gila. mama bisa membersihkan diri Mama sendiri.. cukup kamu tunjukkan saja di mana kamar mandinya... Mama akan mandi sendiri nak." ujar Nyonya Larasati yang langsung membuat Dono yang mendengar penuturan wanita paruh baya itu kembali terkejut.
" eh dia...??" tanya Dono sambil menunjuk ke arah Nyonya Larasati, namun matanya malah menetap ke arah Dimas.
"nanti kita urus masalah itu Don. aku masih harus minta tolong kepadamu untuk membeli makanan di luar sana. beli 3 untuk kita makan di sini. lagi pula kamu tidak harus kembali mangkal hari ini, Karena sepertinya aku membutuhkanmu." ujar Dimas lagi kepada sahabatnya itu. Dono yang mendengarkan penuturan Dimas pun mengerti dan kemudian menganggukkan kepalanya.
"baiklah kalau begitu. aku juga masih penasaran, kalau begitu aku beli makanan dulu ya.." ujar Dono lagi.
Dono tidak perlu pusing memikirkan masalah uang. karena ia masih memiliki beberapa gepok uang yang diberikan oleh dimas secara cuma-cuma.
"Ya sudah sana.. hati-hati.." ujar Dimas lagi. selepas kepergian Dono, Dimas kemudian langsung mengarahkan perhatiannya kembali ke arah wanita paruh baya itu yang tak lain adalah nyonya Larasati.
__ADS_1
"jadi kalau begitu, Ibu bisa mandi sendiri..??" tanya Dimas lagi dengan pelan. Nyonya Larasati yang mendengar penuturan pemuda yang ia anggap sebagai putranya itu langsung menganggukkan kepalanya.
"tentu saja nak. tunjukkan saja di mana kamar mandinya." ujar Nyonya Larasati lagi.
Dimas yang mendengar penuturan dan sorot mata yakin dari perempuan itu langsung menerbitkan senyum terbaiknya membuat Nyonya Larasati juga ikut tersenyum.
"baiklah kalau begitu. Ayo Dimas tunjukkan kamar mandinya." ujar Dimas lagi.
Dimas pun segera membantu wanita paruh baya itu berdiri dan memapanya menuju kamar mandi yang ada di kontrakannya itu. karena terlihat perempuan itu berjalan masih tertatih tatih.
"nah, ibu mandi dulu ya. nanti kalau butuh apa-apa teriak saja, Dimas menunggu di ruang tamu." ujar Dimas sambil menyerahkan baju yang dibeli oleh Dono sekaligus dengan baju mandinya. pokoknya lengkap lah.
"ya nak terima kasih banyak." akhirnya Nyonya Larasati pun langsung masuk ke dalam kamar mandi kecil itu dan mulai membersihkan dirinya.
sementara Dimas, sambil menunggu wanita paruh baya itu selesai mandi dirinya langsung meracik minuman untuk mereka bertiga berhubung Dono juga akan ke sini. namun untuk minuman wanita paruh baya itu, ia tambahkan air kehidupan yang memiliki khasiat membersihkan semua racun-racun yang bersarang dalam tubuh dan juga membantu pembentukan organ-organ tubuh kembali serta memulihkan kesehatan siapapun yang. seperti halnya yang ia berikan kepada bapaknya Dono.
tak menunggu waktu yang lama, akhirnya Nyonya Larasati pun selesai bersih-bersih dan telah mengenakan pakaian dengan baik. ia juga sudah kelihatan beraut wajah segar karena baru selesai mandi. Nyonya Larasati pun langsung berjalan mencari keberadaan Dimas yang ternyata sedang duduk di ruang tamu sambil mengotak-atik handphonenya.
Dimas yang menyadari kedatangan seseorang langsung mengarahkan pandangannya ke arah Nyonya Larasati Dan Tersenyum.
"Ibu sudah selesai..?? ayo sini Bu duduk dulu, ini Dimas udah buatkan teh untuk ibu. diminum dulu biar badannya hangat." ujar Dimas sambil menyodorkan satu gelas teh yang memang dikhususkan untuknya.
Nyonya Larasati yang benar-benar sangat nyaman dan menganggap Dimas adalah putranya yang menghilang itu tak menaruh curiga apapun. Ia pun langsung mengambil gelas tersebut dan meminumnya sampai habis sesuai dengan instruksi dari Dimas.
__ADS_1
glek glek glek
akhirnya air teh itu pun habis. setelah itu Nyonya Larasati langsung meletakkan gelas itu dengan perlahan. bertepatan dengan datangnya Dono yang habis dari luar untuk memberi makanan bagi mereka.
tok tok tok
"masuk aja Don." ujar Dimas dari dalam karena tahu bahwa yang mengetuk pintu adalah sahabatnya.
ceklek
"hehehe maaf ya udah nunggu lama... ini makanannya." ujar Dono sambil meletakkan plastik kresek di tengah-tengah mereka. setelah itu Dono langsung mendudukkan tubuhnya di sana bersama dengan keduanya juga.
"makan dulu Don." ujar Dimas sambil mengambilkan makanan untuk Nyonya larasati juga. karena Dono memang tak merasa sungkan kepada sahabatnya itu ia langsung mengambil satu bungkus untuk dirinya.
"ayo, ibu makan juga ya. biar cepat sehat." ujar Dimas sambil menyodorkan makanan yang sudah ia buka itu.
terlihat raut wajah Nyonya Larasati setelah meminum teh yang diracik oleh Dimas tampaknya sudah mulai menunjukkan perubahan. Begitu juga dengan pembawaannya yang sudah mulai stabil. walaupun Nyonya Larasati tidak menyadari akan perubahan itu, tapi Dimas mengetahuinya.
"terima kasih banyak nak." ujar Nyonya Larasati dengan senyum mengembang. Dimas pun tak kalah membalas senyuman itu.
"sama-sama ibu, kan ibu sendiri sudah menganggap aku sebagai Putra ibu kan??. karena itu, ibu harus makan banyak biar cepat gendut lagi." ujar Dimas dengan gamblangnya membuat Dono dan nyonya Larasati terkekeh.
Nyonya Larasati tidak marah, karena memang saat ini tubuhnya sangat kurus kerempeng akibat terlalu memikirkan peristiwa yang menimpa keluarganya termasuk hilangnya Putra bungsunya itu.
__ADS_1
"Iya, Ibu makan yang banyak. Ibu tidak perlu sungkan kepada kami anggap saja kami sebagai anak-anak ibu." ujar Dono juga ikut menimpali. takutnya, Nyonya Larasati merasa segan kepada dirinya yang bukan siapa-siapa. Nyonya Larasati mengangguk dan tersenyum ke arah kedua pemuda itu.
"terima kasih banyak nak," ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca.