
Dimas berdiri dan terdiam. namun, seketika ia tersenyum sinis.
(padahal, Baru saja aku berniat ingin melatih kekuatan baruku dan mencoba seberapa kuat aku di dunia ini. dan ternyata, sudah ada lalat kecil yang menyumbangkan diri untuk menjadi bahan kelinci percobaan.) Batin Dimas dalam hatinya.
Sementara orang-orang yang melihat Dimas yang tidak bergerak itu pun langsung membentaknya kembali.
"Eh,!!! kenapa bongong..!!! serahkan hartamu. atau, kau pilih saja, uang atau nyawa.??" Ancam orang itu lagi. Dimas yang mendengar penuturan itu pun langsung menatap mereka dengan tajam dan menjawab dengan singkat.
"Nyawa." ujar Dimas disertai senyum sinis.
Mendengar jawaban dari Dimas, yang dengan percaya diri mengatakan hal itu, langsung membuat para preman terkejut. biasanya, korban-korban mereka akan memohon untuk tidak disakiti dan malah akan dengan senang hati menyerahkan harta benda yang mereka miliki. tapi untuk manusia yang satu ini, menurut mereka cukup berbeda dan percaya diri namun, bukannya merasa takut, mereka semua malah tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha !!!!! ternyata, kamu menolak untuk menyerahkan harta benda mu kepada kami..??? kalau keinginanmu begitu, dengan senang hati dan akan segera terkabulkan. Ayo kalian semua !!! segera cabut nyawa anak ini." ujar Preman tersebut yang sepertinya ketua dari komplotan mereka. Dimas yang mendengar ucapan preman tersebut langsung tersenyum sinis dan menjawab.
"Heh !! kamu pikir, kamu adalah malaikat maut yang sembarangan mencabut nyawa orang." Ujar Dimas dengan ekspresi datar. tapi, orang-orang itu tidak peduli. akhirnya malam itu terjadilah perkelahian antara komplotan preman dengan Dimas.
Dimas tentu saja yang merupakan seorang yang ahli dalam ilmu beladiri, tak satupun pukulan atau serangan mengenai dirinya. malah sebaliknya, komplotan preman itu mendapatkan pukulan berkali-kali lipat dari Dimas, apalagi mereka dijadikan sebagai Medan latihan olehnya. alhasil, dirinya sangat bersemangat untuk melakukannya.
Bag bug bag bug
__ADS_1
Tak menunggu waktu lama, semua preman-preman yang menyerangnya langsung tergeletak tak berdaya dan kesakitan akibat menerima pukulan telak dari Dimas.
Mereka semua terlihat menggeliat di atas aspal seperti cacing kepanasan akibat serangan dari Dimas itu. bahkan, sang ketua komplotan yang melihat anak buahnya dikalahkan hanya dengan satu tangan, membuat preman itu mendadak menciut dan ketakutan. Dimas pun langsung menatap kearah para preman itu.
"Bagaimana ?? Apa kalian masih menginginkan nyawaku..?? Asal kalian tahu, nyawaku tidak akan semudah itu lepas dari ragaku. Dan kalian, kalau butuh duit, jangan Memalak orang dan menjadi sampah masyarakat. Carilah pekerjaan yang halal yang tidak merugikan orang lain. percuma memiliki tubuh sempurna, tapi tak mau berusaha. payah sekali." Ujar Dimas sedikit memberikan nasehat kepada ketua preman itu yang sedang ketakutan sekaligus menasehati mereka semua.
Sementara ekspresi ketua preman itu benar-benar pucat dan gemetaran. hampir saja ia terkencing di celana.
"Iya Bang..!!! maaf Bang !!! ampun Bang.!!!." ujarnya dengan suara bergetar.
sementara Dimas sudah tidak memperdulikan Mereka lagi dan langsung meninggalkan mereka di sana. Setelah kepergian Dimas, preman itu pun langsung menarik nafasnya lega. Ia tidak menyangka, selama bertahun-tahun menekuni pekerjaannya di bidang ini, baru pertama kali ini ia menemukan korban dan target yang begitu kuat, bahkan tidak bisa disentuh.
"Hufff..!!!! Untung saja aku tidak dihajar. Kalau tidak, pasti sudah masuk rumah sakit. kalau begini, lain kali aku tidak boleh sembarangan lagi memalak orang. bisa-bisa nyawa taruhannya." Ujar preman tersebut.
Sementara Dimas sendiri melanjutkan perjalanannya. kali ini, Ia memutuskan untuk kembali ke kontrakan. karena, waktu sudah sangat larut. apalagi, Ia juga sudah mencoba kekuatannya dan menghadapi para preman-preman itu dan hasilnya cukup memuaskan.
dan bahkan, Tak sedikit pun jurus ilmu bela diri yang ia lupakan semasa di Dunia persilatan. hanya saja, ia sedikit kehilangan kekuatan spiritual. Tapi itu bukan menjadi hal yang perlu dikhawatirkan lagi. karena sekarang, perlahan tapi pasti, kolam spiritualnya telah terbentuk dan mampu menciptakan tenaga dalam yang mumpuni.
Sesampainya di kontrakan, sebelum tidur, Dimas kembali memikirkan rencana esok hari. karena seperti, apa yang telah mereka rencanakan, Dimas dan Dono harus menemukan lahan untuk membangun tempat untuk membuka usaha.
__ADS_1
karena ia tahu, bahwa untuk dapat bertahan hidup di dunia ini, seseorang harus memiliki usaha untuk menghasilkan uang guna menyambung kehidupan mereka. Berbeda dengan dunia persilatan. biasanya, para pendekar tidak terlalu berpatokan pada makanan, karena mereka mampu bertahan berhari-hari tanpa makan, setelah menjadi seorang pendekar yang hebat. Bahkan makanan itu juga memang tidak susah ditemukan di zaman itu. tapi sangat berbeda dengan zaman sekarang.
***
Esok hari pun kembali tiba dan menyapa manusia-manusia pekerja keras untuk memulai hari mereka mengais dan mencari rezeki. Begitu pula dengan Dimas, tepat pada jam 06.00 pagi, Dimas bangun dan langsung memasak nasi dalam magicom.
Setelah itu, Ia memutuskan untuk pergi lari pagi, guna menyehatkan badannya. karena, sedikit banyak yang ia tahu, biasanya kegiatan orang-orang diet zaman ini seperti itu. Dimas melakukan lari pagi sekaligus ingin membantu pembentukan kekuatan otot kaki dan juga mengatur pernafasan.
****
Di saat dirinya sedang melakukan lari pagi di satu lokasi yang agak sedikit jauh dari kontrakannya, tiba-tiba, dirinya langsung dihadang oleh seorang wanita paruh baya yang tidak dikenalnya. tapi, tiba-tiba bayangan atau ingatan yang tertinggal dari pemilik tubuh ini langsung muncul memenuhi kepalanya.
"Eh !!! anak miskin !!!. Kamu pasti masih mengejar-ngejar putri saya Sarah kan.??? " Ujar perempuan paruh baya itu dengan sombong.
"Maksud anda nyonya..??" Tanya Dimas lagi. Dimas bukannya tidak tau, tetapi ia hanya berpura-pura tidak tahu saja.
lagi pula, Bukan kah Sarah sudah memutuskan Dimas ?? tapi kenapa ibu Sarah Ini masih memberondongnya dan menganggap bahwa mereka masih memiliki hubungan dan melihat Dimas, yang seolah-olah masih mengejar-ngejar Sarah.
"Saya sudah berkali-kali bilang kepadamu untuk menjauhi anak saya.!! Kamu itu tidak pantas untuk anak saya !! karena kamu itu hanyalah orang miskin dan yatim piatu, yang tidak jelas Siapa orang tua kamu.!! Saya tidak ingin keluarga saya disusupi oleh manusia yang tidak jelas latar belakangnya seperti kamu ini. Jadi, jangan lagi lewat di sini dan berpura-pura berolahraga, tetapi niatnya ingin melihat putri saya kan..!!" Ujar Ibu Sarah itu dengan percaya diri.
__ADS_1
Dimas yang mendengar penuturan itu akhirnya mengerti. dirinya malah tersenyum simpul dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Maaf ya bu... Saya memang orang miskin dan tidak tahu siapa orang tua saya. tetapi, mohon maaf saja, saya di sini sedang lari pagi dan tidak ada hubungannya dengan Putri Ibu."