
Setelah mendapatkan izin dari ibu Dono dan dengan ditemani oleh Dono sendiri, Dimas langsung masuk ke dalam kamar sederhana milik kedua orang tua Dono itu. di sana, Dimas menemukan bapak Dono yang sedang terbaring lemah di atas di tempat tidur, yang hanya beralaskan kasur tipis sama seperti miliknya yang ada di kontrakan.
Dimas pun berjalan mendekati pria paruh baya itu.
"Bapak.. Bagaimana kondisi bapak pak..??" Tanya Dimas dengan pelan.
bapak Dono yang mendengar suara Dimas itu langsung membuka mata dan mendapati kedua pemuda berdiri di sisinya. Bapak Dono pun tersenyum melihat keduanya.
"eh.. nak Dimas.. Bapak tidak apa-apa nak. sudah mulai membaik.." jawab bapak Dono dengan suara pelan.
Dimas sendiri tidak percaya dengan penuturan bapak Dono Itu. karena dari raut wajah bapak itu sendiri, sepertinya sedang menahan rasa sakit.
"Don, boleh nggak gue periksa kondisi bapak..??" Tanya Dimas kepada Dono.
Dono yang baru ingat, bahwa kemarin Dimas menolong orang yang kecelakaan itu langsung menganggukkan kepalanya.
"Silakan dim.. "ujar Dono sambil mengganggukan kepalanya. Dimas pun kemudian memegang denyut nadi bapak Dono itu dan merasakannya. Seketika kening Dimas langsung berkerut.
"Bapak jatuh ya..?? Bapak jujur deh, bapak jatuh kan..?? Bapak jatuh kena badan sebelah mana..??" Tanya Dimas langsung pada tujuan diagnosanya. Dono dan ibu Dono yang tidak tahu bahwa bapak Dono itu terjatuh langsung terkejut.
"Bapak jatuh..?? Kapan pak ?? Kenapa tidak ngomong..??" Tanya ibu Dono lagi yang tiba-tiba menyusul akibat mendengar penuturan Dimas dari luar. Mendengar penuturan itu, akhirnya bapak dono tidak lagi menyembunyikan itu.
"Iya, kemarin bapak jatuh dan menimpa beberapa kayu sehingga paha bapak sebelah kiri terasa sakit. Tak hanya itu pinggang bapak juga ikut ketimpa. Bapak tidak berani mengatakannya karena takut ibu dan Dono khawatir." Ujar bapak Dono lagi dengan nada suara yang begitu pelan.
__ADS_1
"Astaga bapak..!!! Kenapa nggak bilang aja.. Ya sudah sebaiknya kita kembali aja dulu ke rumah sakit lagi ya pak.."ujar Ibu Dono lagi. dengan ekspresi cemas Namun nyatanya bapak Dono itu malah menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah Bu kita tidak punya uang untuk pergi ke rumah sakit. Biarkan saja nanti juga sembuh." Ujar bapak Dono dengan ekspresi sedih.
Melihat hal itu, Dimas sendiri menjadi tidak tega. tentu saja ia harus mengobati bapak Dono yang sudah ia anggap sebagai bapak kandung sendiri.
"Don. boleh minta tolong nggak,?? ambilkan satu piring dan bawa ke sini. Dan bapak, bapak tenang aja Dimas akan mencoba mengobati bapak ya. Kebetulan Dimas sedikit bisa mengurut." ujar Dimas kepada bapak Dono.
Sementara Dono yang mendengar perintah dari Dimas sudah mulai masuk ke dalam dapur dan mengambil satu piring sesuai dengan permintaan Dono. Setelah itu, Dono kembali lagi ke kamar dan menyerahkan piring tersebut kepada Dimas.
,"Ini piringnya Dim." Ujarnya sambil menyodorkan piring tersebut.
Dimas sendiri Langsung mengambil piring itu dan meletakkannya tepat di sebelah kaki bapak Dono. kemudian, ia mencari sesuatu dalam tasnya. yaitu minyak urut yang sebenarnya ia ambil dari ruang dimensi. Ada dua jenis yang akan dicampurkan olehnya, sehingga warnanya berubah menjadi sedikit kemerahan dan mengeluarkan aroma yang begitu wangi.
Bapak Dono yang sedikit ragu Hanya bisa pasrah. ia menunjukkan bagian-bagian tubuh mana yang terasa sakit dan yang pertama kali jatuh ketika bapak Dono terjatuh.
"Bapak tahan ya, mungkin agak sedikit terasa sakit.." ujar Dimas lagi.
Bapak Dono pun menganggukkan kepalanya. setelah itu, Dimas mulai mengoleskan minyak urut itu. saat pertama kali minyak itu menyentuh kulit bapak Dono, rasa dingin langsung terasa dan sangat nyaman.
Bapak Dono sendiri sedikit meringis ketika Dimas mulai menekan dan mengurut bagian yang terjatuh itu, beruntung tidak ada yang patah. namun, jika dibiarkan juga akan berakibat sangat fatal.
Pelan tapi pasti, Dimas mulai melakukan itu dengan penuh kelembutan, walaupun masih terasa sakitnya oleh bapak Dono. Bapak Dono sendiri hanya bisa meringis dan menahan saja. cukup lama Dimas mengurut bagian tubuh bapak Dono yang sakit, akhirnya selesai juga
__ADS_1
"Selesai Pak, coba dirasakan dulu. Apa Bapak masih terasa sangat sakit atau sulit digerakkan..?? " tanya Dimas lagi kepada bapak Dono itu.
Bapak Dono yang mendengar perintah dari Dimas langsung mencoba menggerakkan bagian tubuhnya dan ternyata, walaupun masih terasa sedikit sakit, namun tak separah pertama kali sebelum diurut. Walaupun masih terasa sakit, setidaknya bapak Dono sudah bisa bergerak dengan baik.
"Ini sudah mendingan nak.. Iya, ini sudah agak mendingan. wah !! luar biasa urutanmu nak, bapak tidak menyangka, rasa sakitnya bisa langsung berkurang seperti ini." Ujar bapak Dono yang kini telah duduk dengan sempurna walaupun masih terasa sakit di bagian pinggang dan juga pahanya. Dono dan ibu Dono yang melihat hal itu juga ikut tersenyum dan merasa senang.
"Syukurlah kalau begitu, sebentar ya Pak, saya ambilkan air putih dulu.." setelah itu, Dimas kini tidak menyuruh Dono untuk mengambil air putih. malahan, ia langsung pergi sendiri mengambilnya di dapur.
Dimas Menuangkan setengah gelas air putih ke dalam gelas, dan kemudian menambah 5 tetes air kehidupan di gelas tersebut. setelah itu, Dimas langsung membawanya dan diberikan kepada bapak Dono untuk diminum.
"Diminum dulu Pak.. " ujar Dimas sambil menyodorkan satu gelas air putih di hadapan bapak Dono.
tanpa pikir panjang pun, bapak Dono langsung mengambil gelas yang berisi air putih itu dan meneguknya sampai habis. Setelah itu ia merasakan segar kembali.
"Ah air putihnya sangat segar nak... " Ujar bapak Dono dan meletakkan kembali gelas itu di atas meja yang ada di samping tempat tidur mereka.
"Apa bapak sudah merasa baikan Pak..??" Tanya Dono yang sudah dari tadi diam dan mengamati Bagaimana sahabatnya itu mengurut bagian-bagian tubuh ayahnya yang sakit itu. Bapak Dono itu pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Syukurlah kalau begitu. Ya sudah, kalian berdua buruan sana tapi katanya mau pergi jalan-jalan. Sana nikmati saja waktu kalian... bapak biar ibu yang jagain." Ujar Ibu Dono lagi yang tidak ingin mengekang kedua anak muda itu. mana tahu keduanya bisa menemukan sesuatu yang bisa membantu masa depan keduanya.
"Ya sudah Bu, kalau begitu kami akan berangkat. tapi jangan lupa ya Bu, itu makanan yang sudah Dimas beli di makan. itu untuk bapak sama ibu." Ujar Dimas lagi kepada kedua paruh baya itu.
Keduanya pun langsung tersenyum Begitu juga dengan Dono. Ia sangat senang karena bersahabat baik dengan Dimas yang tak tanggung-tanggung membantu dirinya walaupun nyatanya kondisi mereka berdua sangat kekurangan.
__ADS_1