
"Mari kita lanjutkan pembahasan Minggu kemarin. silakan simak dan jika ada yang tidak paham boleh ditanyakan." Ujar dosen Febri kembali sambil menjelaskan beberapa penjelasan mengenai materi mereka hari ini.
Mereka semua mengikuti proses perkuliahan dengan baik dan bahkan tak ada yang berbuat gaduh. karena dosen Febri sendiri adalah dosen yang tegas. Siapa saja yang membuat ribut di jam kelasnya, akan disuruh keluar dan tidak diperkenankan untuk mengikuti mata kuliahnya lagi di lain hari.
Sehingga para mahasiswa dan mahasiswi yang mengikuti kelas Pak Febri tak ada yang berani membuat masalah. Akhirnya dengan tanya jawab yang begitu sengit, perkuliahan dengan dosen tersebut pun berakhir.
Bahkan Dimas sendiri mulai menunjukkan kebolehannya dalam mempertanyakan berbagai macam materi yang harus dicocokkan dengan tingkah laku manusia atau yang berhubungan dengan pembahasan tersebut.
"Baiklah anak-anak. terima kasih untuk partisipasi dan perhatiannya. kita selesaikan kuliah kita cukup sampai di sini dan akan kita sambung minggu depan. Mari selamat pagi." Setelah Pak Febri mengatakan kata terakhir di jam kuliah pagi ini, dengan segera pak Febri langsung meninggalkan ruangan tersebut dan mahasiswa yang lain juga ikut berhamburan keluar karena mereka akan kembali masuk di jam 01.00 siang.
"Wah.. hebat bro... Aku nggak nyangka ternyata kamu bisa sekritis itu dalam bertanya kepada Pak Febri.. aku saja otakku sudah ngeblank mendengar adu tanya jawab antara kamu dengan Pak Febri. Dan tampaknya Pak Febri juga sangat menyukai pertanyaan mu.. tapi kenapa kamu dulu tidak pernah mengeluarkan kecerdasan mu itu..??" Tanya Dono lagi kepada Dimas.
Dimas yang sedang memasukkan beberapa bukunya ke dalam tas langsung tersenyum.
"Aku hanya perlu menunggu bom waktu meledak saja. Sekarang karena kita akan kembali masuk jam 01.00 siang sebaiknya kamu temani aku keluar sebentar." Ujar Dimas sambil tersenyum ke arah sahabatnya tersebut kemudian memeluk leher sahabatnya lagi dan berjalan meninggalkan kelas itu.
Beberapa mahasiswa juga yang tidak menyangka bahwa Dimas bisa melayangkan pertanyaan kritis kepada sang dosen, hanya mampu melongo dan terkejut. sampai akhirnya Dimas meninggalkan kelas sehingga tak ada yang mengganggu aktivitasnya karena mereka masih sibuk dalam pikiran mereka masing-masing.
***
Saat mereka tiba di lobby kampus, dengan tidak sengaja mereka malah berpapasan dengan Dion serta teman-temannya dan Sarah juga ikut serta dalam rombongan itu. Dion yang kebetulan berpapasan dengan Dimas tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menyapa sekaligus mengejeknya.
__ADS_1
"Hey bro.. Bagaimana kabarnya hari ini ?baik-baik sajakah setelah diputuskan kemarin oleh yayang Sarah..??" Ujar Dion sambil tersenyum sinis dan meremehkan ke arah Dimas.
Dion dan teman-temannya termasuk Sarah langsung berhenti di sana setelah mendengar Dion menyapa Dimas. begitupun dengan Dimas dan juga Dono. Dimas yang mendengar penuturan meremehkan itu pun langsung tersenyum sinis.
"Tentu saja. Aku baik-baik saja, kalian tidak perlu khawatir dan terima kasih juga kalian telah mengkhawatirkanku. tapi sepertinya, saat ini saya tidak bisa meneladani kalian. karena saya masih memiliki urusan lain." Ujar Dimas kembali sambil menarik tas Dono dan bergegas meninggalkan Dion dan teman-temannya di sana.
bukannya Dimas ingin menghindar, Tapi saat ini dirinya memang sedang buru-buru. Dion dan sarah yang melihat sikap Dimas Yang sepertinya baik-baik saja itu langsung melongo. mereka juga bertanya-tanya, bukankah waktu itu Dimas seperti orang gila memohon kepada Sarah untuk tidak ditinggalkan olehnya..?? namun saat ini mereka tidak melihat tatapan seperti itu lagi.
"lah.. songong sekali anak itu. palingan Ia hanya bersikap tegar saja, tapi dalam hati sudah menjerit-jerit hahaha.." ujar Dion tak terima di tinggal begitu saja.
Sarah yang ada di sana Dan juga menyaksikan raut wajah Dimas Yang sepertinya tidak merasa sedih karena diputuskan olehnya langsung menatap heran. karena, setahunnya Dimas merupakan tipikal laki-laki yang begitu sangat tergila-gila dengannya.
Sementara itu, Dono sendiri yang mengikut Dimas di belakang tak mengeluarkan suaranya. ia masih mengamati raut wajah sahabatnya itu. karena dirinya juga tahu bagaimana Dimas begitu tergila-gila dengan Sarah.
"Don, kita kita naik motor lu aja ya... " Ujar Dimas langsung membuat Dono tersadar.
"Eh I-iya tentu saja.. memangnya kita mau ke mana sih..??" Tanya Dono sambil menyerahkan satu buah helm ke arah Dimas.
Dono sendiri selalu membawa dua helm kemanapun ia pergi. karena sambilan kuliah, setelah kuliah, Ia juga mangkal dan menjadi tukang ojek untuk menambah uang sakunya sekaligus membantu perekonomian keluarganya.
"Nggak usah tanya. pokoknya kamu ikut aja.. sini biar aku yang bawa motornya." Ujar Dimas lagi.
__ADS_1
ya walaupun Dimas Barata belum bisa menggunakan motor. tetapi setelah mendapatkan ingatan sang pemilik tubuh, ia langsung bisa mengaplikasikannya walaupun tanpa praktek dan akhirnya dirinya pun mewujudkannya dengan menaiki motor bersama dengan sahabatnya ini.
Akhirnya mereka berdua meninggalkan parkiran kampus dan pergi menuju toko emas yang diketahui oleh sang pemilik tubuh. Sesampainya mereka di sana, Dono sendiri dibuat heran kenapa mereka bisa datang ke toko emas. pikirnya.
"Eh, ngapain kita ke toko emas..?? Kamu mau jual emas Dim..?" Tanya Dono lagi sambil membuka helmnya diikuti dengan Dimas. namun Dimas tak menjawab pertanyaan dari Dono.
Setelah melepas helm, Ia pun langsung mengajak temannya masuk ke dalam. Beruntung satpam yang berjaga di sana tak pernah memandang siapapun pengunjung toko emas tersebut dengan tatapan merendahkan. namun tetap memeriksa, Apakah orang-orang ini membawa benda-benda tajam atau tidak. Setelah diperiksa oleh sang satpam mereka berdua pun langsung dipersilahkan masuk.
"Silakan masuk mas.." ujar satpam itu dengan ramah.
"Terima kasih Pak.." jawab keduanya dan langsung berlalu masuk ke dalam toko emas tersebut. Sesampainya mereka di sana. mereka berdua pun langsung disambut dengan baik oleh shopkeepernya. Atau juga orang yang menjaga di tempat itu.
"Selamat siang mas, ada yang bisa kami bantu..??" Tanya mereka dengan suara yang ramah. Dimas sendiri langsung membuka tasnya dan mengambil satu bongkahan emas yang berukuran sebesar tinju tangan bayi.
"Saya mau menjual ini mbak..?? Apakah bisa saya jual..??" Tanya Dimas Dengan bodohnya.
Dono yang melihat satu bongkahan batu emas seukuran tinju anak bayi langsung terkejut, begitupun dengan shopkeepernya.
"Oh, tentu saja mas. Tentu saja itu bisa dijual. tapi biarkan kami memeriksanya terlebih dahulu." Ujar salah satu penjaga toko emas itu.
"silakan Mbak." ujar Dimas mempersilahkan. Tapi kemudian pelayan itu langsung berbisik kepada salah satu temannya untuk memanggilkan manajer toko mereka.
__ADS_1