BANGKITNYA PEMUDA MISKIN

BANGKITNYA PEMUDA MISKIN
13. membuat akun sosial media


__ADS_3

"Saya sedang berolahraga dan bukan mencari keberadaan Putri ibu. ibu sendiri jangan terlalu kepedean lah... Ibu pikir, cuma anak ibu yang ada di dunia ini. kalau saya mau, saya bisa mendapatkan orang yang lebih daripada anak ibu. ya... walaupun saya hanya seorang yatim piatu. Maaf ya bu, saya tidak bermaksud untuk melawan dan tidak hormat kepada orang tua. tetapi, saya juga harus lihat dan menilai, apakah orang itu juga menghargai saya atau tidak.?? Percaya diri itu boleh Bu..., tapi jangan sampai, kepercayaan diri yang anda miliki membuat anda memandang rendah orang lain. Kalau begitu saya permisi dulu ya Bu.." ujar Dimas dengan santai dan langsung kembali melanjutkan aktivitas lari paginya serta meninggalkan Ibu Sarah dengan kekesalannya.


Dimas Tentu saja tidak peduli apa yang akan terjadi kedepannya. lagi pula, diri ini adalah miliknya dan dia tidak akan membiarkan siapapun menganggap rendah dirinya.


Termasuk ibu-ibu yang tidak bisa menghargainya dan selalu menghinanya. Untuk menyikapi orang yang seperti itu, hanya ada satu kata yaitu lawan.


"Kurang ajar anak miskin itu. Berani sekali dia menasehati saya !!! dia pikir dirinya siapa.!! Sudah tidak memiliki orang tua, tapi masih sok-sokan berlagak sombong di hadapan saya." Ujar Ibu Sarah lagi setelah menyaksikan Dimas pergi begitu saja dan juga mendengar penuturan Dimas.


Ibu Sarah itu sebenarnya ingin membalas ucapan Dimas, namun ia kehabisan kata-kata karena tadi terlalu percaya diri menuduh Dimas bahwa kegiatannya itu hanya sebuah kedok untuk melihat keberadaan putrinya saja.


"Awas aja..!!!" setelah mengatakan hal itu, Ibu Sarah itu pun langsung kembali meninggalkan tempat dan masuk ke dalam rumahnya.


Sementara itu, Dimas kini telah berhenti di sebuah tempat yang memang dikhususkan untuk orang-orang yang melakukan olahraga. Karena sudah cukup jauh berlari, Dimas pun memutuskan berhenti di sebuah stand penjualan minuman dan memesan satu minuman untuknya.


"Bang, Aqua satu bang.." ujar Dimas sambil menyerahkan uang nominal rp10.000 dan langsung mendapatkan kembalian rp6.000.


"Makasih Bang.." Dimas pun langsung meninggalkan stand penjualan minuman itu dan mencari tempat duduk mengistirahatkan tubuhnya sejenak di sana dan meneguk air minumnya.


Tempat itu benar-benar ramai. tak hanya muda-mudi yang sedang lari pagi di tempat itu, tetapi ada juga sepasang suami istri yang ikut meramaikan tempat tersebut ditambah lagi keberadaan anak-anak juga, yang tentunya tidak mau ketinggalan.


Tempat itu tidak ada atau tidak dilewati motor ataupun kendaraan lainnya, sehingga udara di tempat itu sangat sejuk dan juga nyaman. Dimas menikmati waktu nya sejenak. Setelah cukup lama mengistirahatkan tubuhnya, barulah Dimas berencana kembali lagi ke kontrakannya. karena dia juga harus siap-siap.

__ADS_1


***


Dimas kini telah berada kembali di kontrakan dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah itu, ia langsung duduk menunggu sahabatnya Dono sambil mengotak-atik handphone yang berlogo apel itu yang baru saja mereka beli kemarin.


Karena Dimas sendiri dapat beradaptasi dengan cepat, begitupun dengan budaya-budaya yang ada di zaman ini. karena itu lah, Dimas tidak terlalu kesusahan menggunakan benda tersebut. Di sana, ia berselancar di dunia maya dan menemukan banyak hal Atau pengetahuan-pengetahuan lainnya.


"Apakah aku juga harus membuka akun media sosial..?? Seharusnya iya. mari kita coba, kita mulai dari aplikasi orange. dulu" Ujar Dimas sambil membuka aplikasi Instagram untuk membuat akun sosial medianya.


 setelah selesai, ia langsung menjepret dirinya dan membuat akun foto profil di sana. Tepat pada jam 09.00 pagi, namun Dono masih belum kelihatan batang hidungnya.


"Mana sih tu anak..!! Lama banget !!! kayak emak-emak. dandan kali ya.." gerutu Dimas sudah mulai tidak sabaran. Namun baru saja ya menggerutu terdengar suara klakson motor dari luar kontrakannya.


"Ah !!! itu pasti Dono.." akhirnya dengan segera Dimas langsung keluar dan benar saja dia menemukan keberadaan Dono di sana.


"Maaf Dim, kamu nunggu lama ya.. aku kesiangan masalahnya, soalnya tadi malam, aku nemenin bapak di rumah sakit."ujar Dono dengan jujur. ia tidak ingin sahabatnya itu kecewa tanpa penjelasan apapun darinya. Dimas yang mendengar penuturan Dono langsung terkejut.


"Loh !!! bapak sakit apa..?? Kok kamu nggak kabarin aku sih..!!" Seru Dimas lagi kepada Dono. Dono menggarut Garut kepalanya.


"Gimana mau ngabarin dim. aku saja waktu itu ketar-ketir ketika tahu bapak sakit, jadi tidak kepikiran." Ujar Dono lagi.


"Terus, bagaimana kondisi bapak sekarang ??masih di rumah sakit..??" Tanya Dimas lagi kepada Dono. Dono pun langsung menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Bapak udah pulang Dim. Kondisinya sih masih sama seperti tadi malam. tapi bapak tidak mau dirawat inap. alasannya nggak ada uang untuk biaya rumah sakit." Ujar Dono lagi menjelaskan dengan santai. bukan berarti dia tidak khawatir. hanya saja, ia tidak ingin Dimas sendiri merasa ikut khawatir.


"Ya sudah kalau begitu, Kita ke rumah kamu dulu dan melihat kondisi bapak." ujar Dimas lagi kepada Dono.


Dono sendiri tidak bisa menolak permintaan Dimas karena dono tahu, Dimas sudah menganggap kedua orang tuanya seperti orang tuanya sendiri.


"Ya udah, yuk.. Tapi nggak papa nih kita telat keliling..??" Tanya Dono lagi kepada Dimas. Dimas pun langsung memasang helmnya dan langsung naik ke atas motor Dono.


"Itu mah masalah gampang. yang penting kita lihat kondisi bapak dulu. Ayo jalan. Oh ya, kalian udah pada sarapan belum ?? udah pada makan ?? kalau nggak, kita beli makanan dulu di sana.." ujar Dimas lagi.


Dimas yang tidak ingin ditolak oleh Dono langsung mengajak Dono untuk membeli makanan terlebih dahulu. karena Dimas yakin, pasti keluarga Dono belum makan. Setelah itu, baru mereka kembali ke rumah sederhana milik Dono dan keluarganya.


"Selamat pagi ibu, Bagaimana kondisi bapak bu..??" tanya Dimas dengan sopan sambil menyalami tangan Ibu Dono dengan penuh rasa hormat.


"Loh, katanya mau jalan-jalan sama Dono. Tapi kok ke sini nak.?? nggak bilang-bilang lagi..??" Ujar Ibu Dono itu menatap heran kepada kedua pemuda tersebut.


Ibu Dono sendiri tidak masalah jika Dono berteman dengan Dimas dan pergi main bersamanya. Karena, sama dengan Dimas ibu Dono sendiri telah menganggap Dimas itu sebagai anaknya.


"Iya Bu, nanti kami akan pergi. tapi, saya mau melihat kondisi bapak dulu. kata Dono, semalam bapak sakit ya.??" Ujar Dimas kepada Ibu Dono. Ibu Dono pun tersenyum dan langsung menganggukkan kepalanya.


"Iya nak. tapi kondisi bapak udah mendingan kok. masuk aja ke dalam kamar, bapak lagi tidur." Ujar Ibu dono lagi mempersilakan Dimas masuk ke dalam. karena dirinya sepertinya sedang mengerjakan sesuatu yang bisa dijual hari ini.

__ADS_1


__ADS_2