
Dimas yang melihat tindakan Nyonya Larasati seperti itu langsung kembali merasa hangat.
"kenapa. ??? Mama tidak apa-apa di kontrakan kan..?? Apakah ada sesuatu yang terjadi..? Ayo kita masuk dulu, ini temannya Dimas sudah capek membawa kasur yang besar itu.." ujar Dimas dengan pelan sambil menunjuk ke arah Dono yang membawa kasur santai di atas kepalanya, sekaligus dengan bantal dan juga selimut tebalnya.
Nyonya Larasati yang melihat itu pun langsung melepaskan rangkulannya dan tersenyum ke arah Dimas dan Dono.
"maafkan mama. mama hanya merindukanmu saja. Ya sudah nak, Ayo masuk.." ujarnya Larasati lagi. akhirnya Dimas dan Dono pun langsung masuk ke dalam. setelah Dono meletakkan kasur santai itu di ruang tamu ia langsung berniat untuk berpamitan.
"Dim, aku langsung pamit ya.. ini juga sudah jam 09.00 malam aku takut bapak sama ibu mencemaskan aku. tante, saya pamit pulang.. tante di sini saja bersama dengan sahabat saya, dia orangnya baik dan peduli. Dim gue berangkat ya.." ujar Dono lagi kepada sahabatnya itu.
"oke Don. kamu hati-hati ya.. titip salam untuk bapak dan ibu, dan jangan lupa hubungi aku kalau terjadi apa-apa." ujar Dimas lagi kepada sahabatnya.
Dono pun langsung mengangkat tangannya dan membentuk huruf o dengan jarinya. setelah itu, ia langsung berangkat meninggalkan kontrakan dimas kembali ke rumah kedua orang tuanya.
"oh ya, mama lapar nggak...?? tadi sebelum pulang aku dan Dono sudah membeli makanan untuk kita. ayo sini mah.." ujar Dimas mengajak Nyonya Larasati duduk di sampingnya.
Nyonya Larasati pun langsung menurut dan duduk di samping Dimas yang dianggap adalah putranya itu. dengan cekatan, Dimas langsung mengeluarkan bungkus nasi dan membukanya serta memberikannya kepada Nyonya Larasati.
" Ayo Mama, makan dulu. selesai itu, Mama istirahat. Mama tidurnya di kamar saja ya, biar nanti Dimas tidur di sini saja." ujar Dimas dengan penuh perhatian. Nyonya Larasati pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Iya nak terima kasih banyak.. maaf mama merepotkanmu. maaf juga, mama sudah mengklaimmu sebagai anak mama. namun ada rasa yang begitu akrab yang Mama rasakan. makanya, mama nekat mengatakan kamu adalah putraku. tapi, apakah Mama boleh menganggap kamu sebagai Putra ku nak..??" tanya Nyonya Larasati dengan mata yang berkaca-kaca. Nyonya Larasati juga masih belum menyentuh makanannya.
Dimas sendiri yang mendengar penuturan Nyonya Larasati langsung tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia juga merasakan perasaan yang sama, begitu akrab dan nyaman saat berada di samping perempuan ini.
"tentu saja, Mama boleh menganggapku sebagai anak sendiri. aku yang tidak memiliki orang tua, Tentu saja sangat senang mendapatkan orang tua seperti mama.." ujar Dimas lagi.
Nyonya Larasati yang mendengar penuturan Dimas itu pun langsung kembali terharu kemudian memeluk tubuh Dimas sesaat. setelah itu melepaskan pelukannya. Dimas pun tersenyum kearah Nyonya Larasati.
"yasudah ma. ayo makan.." ujar Dimas lagi. akhirnya mereka kembali melanjutkan makan malam di jam yang sudah tidak sewajarnya. tapi apa boleh buat, daripada mereka kelaparan dan tidak bisa tidur mendingan terobos makan saja. ðŸ¤
setelah itu, Dimas langsung mengeluarkan tempat tidurnya dari dalam kamar dan kembali menyusun kasur baru yang mereka beli tadi dengan baik.
Nyonya Larasati tersenyum mendengar panggilan Dimas terhadap dirinya itu. tidak dapat dipungkiri, bahwa hatinya sangat berbunga-bunga mendengar anak laki-laki yang dianggapnya sebagai anaknya yang hilang itu memanggilnya dengan akrab.
(apa kabar kamu devian... Mama sangat merindukanmu nak. begitupun dirimu suamiku.. lihatlah, kita sudah punya anggota keluarga yang baru.... dan mama harap, dia adalah anak mama yang hilang...) batin Nyonya Larasati dengan mata yang berkaca-kaca.
Dimas yang melihat kesedihan di mata Nyonya Larasati langsung menegur perempuan paruh baya itu.
"Mama kenapa menangis..?? maaf ya ma, saya hanya bisa memberikan kehidupan seperti ini kepada mama." ujar Dimas sedikit merasa tidak enak terhadap wanita paruh baya itu. Nyonya Larasati yang mendengar penuturan Dimas itu pun langsung menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Apa yang kamu katakan nak. Mama sama sekali tidak mempermasalahkan kehidupan ini. mama hanya merasa rindu kepada kakakmu dan juga papa mu nak..." ujar Nyonya Larasati dengan mata yang berkaca-kaca.
Dimas yang memang sudah mengetahui bahwa wanita paruh baya ini sedang merindukan suami dan anak pertamanya hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya saja. namun di sisi lain, dirinya juga sangat penasaran dengan kehidupan keluarga Nyonya Larasati yang menurutnya cukup sangat dramatis.
"kalau begitu, Mama masuklah ke dalam dan istirahatlah dengan baik. Jangan memikirkan apapun lagi, perihal suami mana dan anak mama. Saya akan berusaha untuk mencari tahu keberadaan mereka. tapi mama mohon bersabar ya." ujar Dimas. entah kenapa dirinya sangat berniat menenangkan wanita paruh baya ini agar tidak bersedih.
Nyonya Larasati sontak langsung menggelengkan kepalanya mendengar penuturan Dimas. dia tidak ingin, Dimas yang sudah ia anggap sebagai anak kandungnya ini menghilang begitu saja, karena mencari keberadaan suami dan anaknya yang tidak tahu di mana keberadaannya sekarang.
"tidak perlu nak. Mama tidak ingin terjadi apa-apa denganmu.." ujar Nyonya Larasati lagi dengan ekspresi yang begitu takut yang tersorot jelas dari raut wajahnya.
mendapati ketakutan yang terpatri di wajah Nyonya Larasati, Dimas langsung tersenyum simpul dan kembali menenangkan wanita itu.
"baiklah kalau begitu mah. Dimas tidak akan nekat melakukan hal itu. jadi sekarang Mama istirahat ya.. ini sudah malam dan tidak bagus untuk kesehatan mama." ujar Dimas lagi kepada wanita paruh baya itu.
akhirnya dengan bujukan Dimas, Nyonya Larasati pun beranjak dari tempat duduknya dan memasuki satu-satunya kamar yang ada di kontrakan tersebut. di sana, Dimas sudah membentangkan kasur tipis yang baru mereka beli untuk dirinya.
Nyonya Larasati tidak memprotes itu semua, pelan-pelan mendudukkan tubuhnya di atas kasur tipis itu dan mengangkat tangannya seraya berdoa dalam hati untuk keselamatan suami dan anaknya. dia juga mau minta untuk dipertemukan dengan mereka baik dalam keadaan bernyawa ataupun tidak. setelah itu, dirinya baru bersiap untuk terlelap.
sementara itu, Dimas yang berada di luar dan masih terjaga dalam tidurnya mulai bangkit dan melakukan meditasi lagi. dari tadi, dia juga merasakan kalau Nyonya Larasati masih belum tidur dan memanjatkan doa untuk keselamatan keluarganya. sampai akhirnya Nyonya Larasati terlelap dalam tidurnya itu. setelah merasakan Nyonya Larasati benar-benar terlelap, Dimas sendiri Langsung menyudahi meditasinya.
__ADS_1
"Aku akan pergi menemukan mereka. dari aura yang pernah kutangkap dan tempat yang pernah kulihat dari bayangan mama. aku bisa menemukan keberadaan mereka. sebaiknya aku pasang saja araya perlindungan di sekitar sini untuk keselamatan mama." ujar Dimas lagi.