BANGKITNYA PEMUDA MISKIN

BANGKITNYA PEMUDA MISKIN
15. mengurungkan niat


__ADS_3

"Ya nak terima kasih banyak ya." Setelah itu keduanya pun langsung pamit kembali melanjutkan rencana mereka hari ini. yaitu mencari dan menemukan lahan kosong atau tempat strategis untuk membuka usaha.


Sesampainya mereka di luar rumah. Dimas sendiri langsung berniat mengurungkan niatnya untuk mengajak Dono mencari tanah atau tempat untuk mereka membuka usaha nanti.


" Don, sebaiknya rencana awal kita rubah saja ya. Kita ke minimarket saja atau supermarket untuk membeli beberapa kebutuhan pangan. Biar nanti Ibu tidak lagi susah-susah mencari kerja atau berjualan nanti biar fokus untuk merawat bapak aja sampai sembuh. Untuk masalah mencari tanah, itu kita bisa cari sambil lalu saja."ujar Dimas tiba-tiba memikirkan hal itu.


"Loh, nggak papa lho Dim.. aku akan temenin kamu untuk mencari tempat." Ujar Dono entah kenapa merasa tidak enak akhir-akhir ini. karena Dimas sepertinya sudah sangat berubah jauh. Namun perubahan itu bukan perubahan buruk melainkan perubahan yang lebih baik.


"Nggak papa, aku berubah pikiran. untuk hari ini, kamu juga seharusnya fokus aja di rumah. kamu nggak lihat tadi rumah masih berantakan. pasti ibu tidak sanggup membersihkannya sendiri, jadi kamu juga harus di rumah. Ya sudah yuk jalan, kalau nggak aku tokom kepala kamu." Ujar Dimas lagi dengan serius kepada Dono.


namun Dono malah menyikapinya dengan kekehan, karena akhir-akhir ini Dimas memang suka mengancam tapi bukan berarti akan dilakukannya.


"Iya iya, bos cerewet banget sih.. ayo aku akan membawamu yang mulia kemanapun kamu inginkan.." ujar Dono lagi mencoba bercanda agar suasana tidak terlalu Hening dan canggung walaupun keduanya tak merasa canggung sama sekali.


"Supermarket." Ujar Dimas lagi dengan singkat.


"Woke..!!!" Dono pun langsung melajukan motornya menuju supermarket terdekat sesampainya mereka di sana Dimas dan Dono pun langsung turun dan segera berbelanja berbagai macam kebutuhan pangan untuk satu minggu.


Setelah itu Dimas langsung menyuruh Dono untuk pulang.


"Udah sana pulang.. aku masih harus keliling dulu masih ada urusan.." Dimas kepada Dono.

__ADS_1


"Loh !! kok gitu. kamu nggak ikut aku ke rumah.. jadi, semua belanjaan ini untukku dan bapak ibu. lalu, untukmu di mana ?? bukannya kamu sendiri juga butuh Dim.??" Tanya Dono lagi kepada sahabatnya.


"Kamu nggak usah mengkhawatirkanku don. Kamu pulang saja dan temani Ibu di rumah bersih-bersih di sana. Jangan kira pekerjaan bersih-bersih itu hanya perempuan saja yang bisa melakukannya. Sana pulang, atau enggak aku geplak kepala kamu nih." Ujar Dimas lagi melayangkan ancaman. Dono yang mendengar ancaman Dimas lagi hanya mampu memutar bola matanya dengan malas.


"Aku heran akhir-akhir ini kamu senang sekali ngancam orang.. Ya udah kalau begitu, makasih ya bro. Kalau butuh apa-apa telepon aku. ini percuma nih handphone bagus dan mahal tapi nggak pernah bergetar." Ujar Dono mengomeli handphonenya yang baru dibeli oleh Dimas. Dimas yang mendengar omelan Dono pun langsung terkekeh.


"Makanya cari pacar,... biar ada yang nelpon. biar HP mahal itu bisa bergetar. Ngaco aja kalau ngomong." Jawab Dimas lagi kepada sahabatnya. Dono yang mendengar penuturan Dimas pun langsung terkekeh.


"Malas ah, nanti ujung-ujungnya sama seperti kamu. cuma dimanfaatin doang. Ya udah, kamu hati-hati ya, nanti kalau butuh apa-apa kamu tinggal kabarin aja. aku pulang dulu." Ucap Dono lagi dan langsung dibalas anggukan kepala oleh Dimas.


Akhirnya Dono pun langsung meninggalkan Dimas di supermarket tersebut. sementara Dimas sendiri, setelah Dono sudah tidak terlihat lagi, Ia memutuskan untuk berjalan kaki saja.


entah kenapa ??akhir-akhir ini ia sangat senang berjalan kaki, mungkin karena ingin menghafal seluk beluk jalan atau juga melatih kekuatan otot kakinya. dan Saat Dimas sedang berjalan santai dan menikmati perjalanannya di bawah pohon, tiba-tiba, entah datang dari mana, seorang perempuan paruh baya yang berpenampilan acak-acakan menghampirinya.


Deg


Dan bagi Dimas sendiri, entah kenapa ia malah merasakan deg-degan dalam hatinya. Ia tak merasa jijik sama sekali ketika perempuan yang berpenampilan acak-acakan dan berantakan itu sekaligus kotor, memegang tangannya.


 Dimas sendiri malah menatap bola mata perempuan itu dengan dalam. ia merasakan entah ada satu ikatan yang sangat asing. namun Dimas juga sangat sedih melihat kondisi perempuan itu.


"Putraku... akhirnya Aku menemukanmu..." Ujar perempuan itu lagi dengan tangan gemetar mencoba menggapai wajah Dimas.

__ADS_1


 Dimas sendiri benar-benar tak bereaksi atau menyingkirkan tangan wanita itu. Ia masih terpaku dan menikmati perasaannya yang tiba-tiba menghangat.


(Kenapa ini.. apa yang terjadi dengan perasaanku. kenapa aku merasa nyaman dengan perempuan ini.??? Sebentar....) Batin Dimas. kemudian Dimas sendiri Langsung memasang mata batinnya dan mencari informasi dari melalui mata sayu wanita tersebut. Dan


"Argh..." Jerit Dimas ketika ia merasakan sakit tatkala menerobos dan melihat bayangan yang ada di sorot mata wanita tersebut.


Di sana ia melihat perempuan ini di masa lalu, yang begitu menangis histeris dan frustasi memanggil-manggil dan mencari putranya, sampai akhirnya ia menjadi wanita gila dan melarikan diri dari rumah sakit jiwa. Namun, Dimas sendiri di entah kenapa merasakan perasaan hangat. Ia tidak tahu perasaan apa itu.


"Anakku, putraku, akhirnya Aku menemukanmu... hiks... maafkan Mama nak... Mama lalai menjagamu hingga kamu diculik orang.." ujar perempuan itu yang sepertinya mengatakan kebenaran. Dimas terhenyu sebentar kemudian tersenyum.


"Maaf Ibu, tapi saya bukan putramu.." jawab Dimas dengan suara yang berat.


 entah kenapa, dia tidak rela mengatakan hal itu. namun menurutnya memang inilah kenyataannya. Perempuan yang diajak bicara itu pun langsung menangis lagi ketika mendengar penuturan Dimas.


"Tidak nak,.. kamu adalah anak mama... mama dapat mengenali anak mama sendiri. Kamu pasti marah sama Mama kan... nak.... mama tidak membuangmu sayang... tapi kamu diculik oleh orang-orang jahat.." ujar perempuan itu dengan suara tangis Di sela-sela ucapannya.


mendengar penuturan dan tangisan wanita paruh baya itu, membuat Dimas sendiri merasa tidak tega dan juga tidak tahu harus melakukan apa. dan sepertinya, Ia juga merasakan perasaan akrab terhadap perempuan ini. tapi, dirinya sama sekali tak menemukan ingatan yang ditinggalkan oleh pemilik asli. hal itulah yang membuat dirinya bingung.


Karena tidak ingin menjadi tontonan banyak orang, akhirnya Dimas memutuskan untuk membawa pulang perempuan tersebut. Setelah itu, nanti dia akan memikirkan caranya sendiri bagaimana mengembalikan Ibu tersebut ke rumah sakit jiwa. Tapi jujur saja, di hatinya tidak rela melakukan hal itu.


"Ya sudah kalau begitu, kalau aku beneran Putra Ibu.. kalau begitu Ibu ikut aku pulang ya.." ucap Dimas lagi dengan suara pelan dan penuh kasih sayang.

__ADS_1


 padahal, dia jarang melakukan hal itu. dia sendiri merasa heran dengan dirinya. Tapi, ia tidak ingin berpikir lagi, akhirnya ia membawa Ibu paruh baya Yang gila itu bersamanya ke rumah kontrakan.


__ADS_2