
Setelah itu, ia kemudian menyuapkan dan memasukkan nasi itu ke dalam mulutnya sedikit demi sedikit. saat nasi menyapa Indra perasanya, entah kenapa air matanya langsung luruh. Ia teringat dengan suami dan putranya yang saat ini tidak tahu bagaimana kondisi mereka. apalagi sudah hampir 20 tahun lamanya tak mendapatkan kabar keduanya.
namun, Ia yakin bahwa suami dan anak pertamanya masih hidup. Dimas dan Dono yang melihat Nyonya Larasati menangis seperti itu langsung saling bertatap seolah-olah ingin bertanya apa yang terjadi.
"apa yang terjadi Bu?? Kenapa Ibu menangis Apakah makanannya tidak enak..??" tanya Dimas lagi yang saat ini telah mengalihkan pandangannya kembali ke arah Nyonya Larasati. Nyonya Larasati yang menyadari bahwa dirinya menangis langsung segera menghapus air matanya dan tersenyum pahit.
"maafkan Mama nak. mama baru saja kepikiran dengan suami mama dan kakak kamu. sudah 20 tahun lamanya, mama tak mendengar kabar papa kamu. sementara, sudah lima tahun juga mama tak mendengar kabar kakak kamu. kakak kamu memutuskan untuk pergi mencari papa. tapi, malah berakhir tidak kembali." ujar Nyonya Larasati Sambil berlinang air mata.
Dono yang memang memiliki tingkat simpati yang tinggi juga ikut sedih dan meneteskan air matanya. berbeda dengan Dimas. walaupun merasa sakit mendengar cerita itu, namun ia tidak sampai mengeluarkan air mata.
"huf... ibu makan dulu ya. nanti Dimas akan membantu mencari papa dan kakak." ujar Dimas tanpa sadar.
entah kenapa, mulutnya sangat lancar menyebutkan kata dan pengakuan itu. Dimas yang menyadari penuturannya hanya bisa berpositif thinking saja. barangkali pemilik tubuh ini memang menginginkan seorang ibu atau keluarga yang bisa berkumpul dengannya. Nyonya Larasati yang mendengar penuturan itu Tentu saja sangat senang. ia menatap ke arah Dimas dengan penuh kasih sayang dan perlahan membelai sayang pipi Dimas dengan penuh kasih.
"Jangan nak, mama takut terjadi apa-apa denganmu seperti kakakmu Devian." ujar Nyonya Larasati lagi.
Nyonya Larasati Yang sudah tidak ingin kehilangan anggota keluarganya, walaupun belum pasti kalau Dimas adalah putranya yang hilang 20 tahun yang lalu, namun hati seorang ibu tentu saja tidak akan pernah salah menyadari dan mengenali darah daging yang sudah ia kandung selama 9 bulan dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Mama tenang saja.. Dimas akan mengatur semuanya. tapi sebelum itu, Mama makan dulu ya.." ujar Dimas lagi sambil tersenyum.
Dono yang melihat pemandangan yang tersaji di depannya itu pun juga ikut tersenyum. ia mengerti, bahwa sang sahabat baru saja menemukan seorang perempuan yang mungkin telah memberikan kasih sayang dan membuat Dimas merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang ibu.
akhirnya Nyonya Larasati kembali fokus pada makanannya, begitu pula dengan Dimas dan Dono. mereka makan dengan begitulah lahapnya. tak lama akhirnya mereka selesai makan di waktu sore itu.
"Don, nanti kamu temanin aku mencari kasur tipis dan selimutnya ya. setelah itu, aku berencana untuk mendatangi perusahaan properti untuk membeli rumah dan sekaligus tanah-tanahnya." ujar Dimas sudah mengetahui keberadaan perusahaan itu setelah mengotak-atik handphonenya. jadi mereka tidak perlu bersusah-susah lagi harus keliling mencari tanah yang dijual atau rumah yang dijual.
"oke kalau begitu... jadi jam berapa kita harus berangkat, takutnya nanti kantornya cepat tutup." ujar Dono lagi.
"oh.. iya juga ya... yasudah, sekarang saja." ujar Dimas lagi.
"memangnya kalian ingin ke mana..?? Tak bisakah Mama ikut dengan kalian..??" tanya Nyonya Larasati lagi yang tak ingin Dimas meninggalkan dirinya sendiri, takutnya nanti anaknya malah menghilang lagi.
"Mama tenang saja, Kami cuma sebentar kok. kalau mama ikut dengan kami, takutnya nanti ada yang mengenali Mama di luar sana. memangnya Mama mau diincar lagi..??" ujar Dimas mencoba untuk menakut-nakuti Nyonya Larasati. dan benar saja, Nyonya Larasati langsung menjadi was-was dan takut.
"Ya sudah kalau begitu. tapi jangan lama-lama ya nak. dan kalian juga harus hati-hati." ujarnya yang perlahan-lahan mulai pulih dan mulai mengetahui kondisi. Dimas pun tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
,"oke mama. Ya sudah kami pamit ya..." ujar Dimas lagi kemudian langsung beranjak bersama Dono dan meninggalkan Nyonya Larasati dikontrakkan.
tak lupa Dimas juga mengatakan kepada Nyonya Larasati untuk mengunci pintu dan tidak mengizinkan siapapun untuk memasuki kontrakannya. Dimas juga sebelumnya sudah mengatakan kepada Nyonya Larasati bahwa, kalau ada yang mengaku keluarga Dimas Jangan percaya. Karena dirinya sama sekali tidak memiliki keluarga, kecuali Dono dan keluarganya. dan itu pun tidak mungkin jika keluarga Dono mendatangi kontrakan milik dimas.
****
waktu tepat menunjukkan setengah lima sore, Dimas dan Dono akhirnya sampai di kantor properti. Dimas sendiri masih mengenakan pakaian yang biasa saja dan juga tidak bermerek, Begitu juga dengan Dono karena dirinya masih belum kepikiran untuk membelanjakan uangnya itu sebelum mendapatkan rumah yang akan menjadi tempat menetap.
setelah mereka memarkirkan motor sederhana milik Dono, keduanya pun langsung melangkah memasuki kantor yang bertingkat itu. di sana mereka dipandang sebelah mata oleh beberapa karyawan yang bekerja termasuk satpamnya. namun, Dono dan Dimas tidak memperdulikan hal itu.
mereka membuka pintu sendiri dan menyelonong masuk, karena biasanya satpam-satpam itulah yang akan membukakan pintu untuk mereka, tapi mereka sama sekali tak dilayani dengan baik dan malah bersikap acuh. Dono dan Dimas pun langsung berjalan menuju para pegawai yang akan membantu mereka mencari rumah atau tanah yang dijual.
"permisi mbak." ujar Dimas dengan sopan. sang karyawan perempuan yang melihat kedua pemuda yang berpenampilan lusuh itu langsung melayangkan tatapan tidak suka.
"Siapa kalian?? berani sekali gelandangan seperti kalian memasuki kantor yang mewah ini. di sini bukan tempat untuk mengemis, jadi silakan keluar.." Dimas yang mendengar penuturan tersebut yang awalnya tersenyum dan berekspresi ramah langsung memasang wajah datar begitu pula dengan Dono.
"maaf ya Mbak, kami datang ke sini karena kami memiliki urusan." ujar Dimas lagi yang kini sudah bernada suara tak bersahabat. pegawai perempuan itu pun langsung mencibir mendengar penuturan Dimas.
__ADS_1
"memangnya ada urusan apa kalian ke sini..?? dan kalaupun kalian memiliki urusan di sini, kami tidak akan melayani pelanggan seperti kalian. karena kami tidak ingin membuang-buang waktu untuk melayani pelanggan miskin dan berpakaian lusuh seperti kalian ini. jadi tidak perlu mengharapkan pelayanan dari kami dan silakan keluar dari sini." jawab karyawan itu lagi tak kalah dinginnya.