
Sementara Dimas malah tersenyum simpul.
(Kamu tidak tahu saja Don. Kalau aku bukan lagi pemilik asli tubuh ini. melainkan jiwa yang tersesat dan kebetulan masuk ke dalam raga ini. Tapi aku janji, aku masih akan tetap jadi teman yang baik untuk kamu.) Batin Dimas tanpa menghiraukan Dono dan mereka berjalan beriringan keluar dari kampus.
Walaupun nyatanya dirinya pernah dikecewakan oleh sahabat yang sudah ia anggap keluarga, tetapi ia masih sangat mempercayai Dono, sahabat dari pemilik asli tubuh ini. karena, ia dapat melihat dari sorot mata dan tatapan Dono, is benar-benar tulus kepadanya. Dimas juga sudah berjanji akan menjaga dan selalu setia membantu Dono jika dirinya menemukan masalah.
"Dim, aku antar pulang aja ya.." ujar Dono menawarkan tumpangan kepada Dimas. Dimas pun tersenyum.
"Oke. Sesekali ada yang ingin aku bahas kepadamu. Tapi kita ke kontrakan dulu untuk membicarakannya, mana tahu kamu setuju atau tidak." ujar Dimas kepada Dono.
Dono sendiri tak merasa ragu terhadap Dimas. Ia pun langsung menganggukkan kepalanya dan mereka langsung pergi menuju kontrakan Dimas. Namun dalam perjalanan, mereka tampak terjebak macet karena katanya ada kecelakaan terjadi di depan.
Tapi karena mereka menggunakan motor, mereka berdua dapat menyelip dengan mudah dan akhirnya sampai di tempat kejadian di mana orang yang kecelakaan itu masih belum ditangani oleh para tenaga medis karena belum ada satupun yang datang. Ambulans saja yang ditunggu kedatangannya masih belum kelihatan.
"Don, don berhenti dulu..." Ujar Dimas sambil menepuk pundak Dono.
Dono yang tidak mengetahui apa-apa pun langsung menghentikan laju motornya dan dengan cepat pula Dimas turun dari sana dan berjalan mendekat ke arah korban kecelakaan yang masih dikerumuni oleh beberapa orang.
Terlihat keadaan pasien begitu sangat mengkhawatirkan. Entah kenapa tiba-tiba, Dimas langsung menggunakan jurus ajian mata ajaibnya untuk melihat apa yang sedang terjadi dan apa yang bisa ia bantu. Dan ternyata akibat dari benturan kecelakaan ada beberapa tulang yang patah namun bisa diperbaiki lagi.
__ADS_1
disana juga terlihat Ada beberapa saraf-saraf yang terjepit dan juga organ-organ yang agak bergeser sedikit pada tempatnya, ditambah lagi dengan derasnya kucuran darah yang keluar. Dimas yang menyadari bahwa tidak sembarangan orang dapat melakukan atau mengaku-ngaku sebagai tenaga kesehatan langsung menghampiri polisi lalu lintas yang sedang ada ditempat.
"Pak, berapa lama lagi ambulans akan datang..?? Pasiennya sudah sangat kritis jika tidak dilakukan tindakan pertolongan pertama, kemungkinan pasien tidak akan sampai di rumah sakit. Beberapa tulang patah dan juga sarafnya kejepit dan menegang. semua itu terjadi akibat benturan keras, beberapa organ tubuh korban juga bergeser pada tempatnya sehingga terjadi komplikasi di sana." Ujar dinas langsung pada tujuannya.
Dono yang mendengar penuturan sahabatnya yang paham mengenai ilmu medis langsung membelalakkan matanya. pasalnya mereka bukan lah mahasiswa dari kedokteran atau tenaga kesehatan lainnya, melainkan hanya mahasiswa biasa yang mengambil jurusan keguruan saja.
"Apakah anda mengerti tentang kesehatan..??" Tanya polisi lalu lintas itu ikut panik. Dimas menganggukkan kepalanya.
"Saya mengerti tentang pengobatan dan juga kesehatan, tetapi saya tidak bisa melakukannya sembarangan karena saya bukanlah seorang dokter. Saya ingin memberikan bantuan pertama sambil menunggu ambulans tiba. tetapi semuanya tergantung dari kepercayaan bapak dan yang lainnya. karena saya juga tidak ingin disalahkan ketika melakukan tindakan akibat tidak memiliki izin atau lisensi." Ujar Dimas lagi kepada mereka. Tapi ternyata salah seorang anak kecil yang ikut menangis di sana langsung mendekatinya dan menarik-narik bajunya.
"Om.. tolong papa saya Om.. Om, Akira mohon.." ujar anak kecil tersebut sambil sesegukan meminta tolong kepada Dimas setelah mendengar penuturan Dimas.
Dimas melihat anak kecil yang menangis memohon kepadanya menjadi tidak tega. ia kembali melayangkan pandangannya ke arah polisi lalu lintas itu, kemudian karena memang pasien membutuhkan pertolongan, sang polisi lalu lintas langsung menganggukkan kepalanya biarlah nanti dia yang akan bertanggung jawab.
Pertama-tama, ia memeriksa dengan teliti terlebih dahulu agar tidak melakukan kesalahan. setelah ia memastikan diagnosanya benar, barulah ia mengambil tindakan.
Pertama-tama, Dimas membuka tasnya dan mengambil satu set jarum. ia akan melakukan akupuntur mengadopsi dari pengobatan kuno Cina. Kemudian ia menusukkan jarum-jarum itu ke bagian tubuh yang bisa merangsang timbulnya kesemutan pada bagian tubuh agar nanti tidak terlalu menyakiti pasien ketika melakukan tindakan, walaupun pengaruhnya tidak terlalu besar dan masih akan terasa.
Namun Dimas tetap mengupayakan apa yang dia tahu. setelah itu, baru ia masuk ke dalam langkah pertama yaitu memperbaiki beberapa organ yang memang tidak pada tempatnya dan juga menyebabkan pasien sesak nafas.
__ADS_1
Setelah itu, Ia melanjutkan untuk memperbaiki tulang-tulang yang patah, kemudian terakhir ia memberikan atau mengeluarkan botol yang berisi air kehidupan yang memang diperuntukkan untuk melakukan pengobatan.
Dimas tidak memberikan semuanya melainkan hanya memberikan sekitar satu tutup botol Aqua saja agar pengaruhnya tidak terlalu mencolok. Setelah itu, Dimas memeriksa kembali denyut nadi nya dan ternyata denyut nadinya telah kembali normal.
"Syukurlah, denyut nadinya sudah kembali normal. Tinggal menunggu ambulans datang saja untuk menjemput. Oh iya, ini ada beberapa hasil diagnosa yang saya temukan. mudah-mudahan ini dapat membantu tenaga medis dan kesehatan lainnya." Dimas sambil menyerahkan kertas yang sudah ia coret-coret tadi.
Kemudian, beberapa bagian tubuh dari korban itu juga sudah dipasangkan gips darurat yang ditemukan di tempat itu, baik itu ranting kayu atau beberapa benda lainnya yang bisa dimanfaatkan. Dan akhirnya tak lama, ambulans pun datang.
mereka buru-buru Langsung mengangkat korban tersebut dan membawanya ke rumah sakit. Setelah ambulans itu pergi barulah, jalur lalu lintas kembali normal. Sementara Dono yang seharian ini menyaksikan sebuah perubahan besar dari sahabatnya itu mendekat.
" Dim.. Sejak kapan..??" Tanya Dono kepada Dimas.
Dimas yang tidak mengerti pertanyaan sahabatnya itu pun langsung mengerutkan keningnya.
"Maksudnya bagaimana..??" Tanya Dimas kembali.
"Maksudku.. sejak kapan kamu paham mengenai pengobatan akupuntur. Bukankah pengobatan itu adalah pengobatan kuno yang berasal dari Cina. Dan ditambah lagi, kita ini bukan mahasiswa kedokteran loh.." ujar Dono lagi kepada Dimas.
Dimas yang di barondong pertanyaan seperti itu langsung menjadi bingung sendiri. namun ia tidak memperlihatkan ekspresi bingung nya itu di hadapan temannya itu.
__ADS_1
"Oh.. maaf ya Don. udah bikin kamu bingung. Sebenarnya, dari kecil aku sudah mempelajari ilmu akupuntur ini. hanya saja, aku memang menyembunyikannya darimu. Lagian.. jika aku katakan juga, kalian semua tidak akan percaya. ya, walaupun awalnya aku cuma belajar teori saja. Dan prakteknya saat ini."ujar Dimas dengan santai.
namun penuturan Dimas itu mampu membuat jantung Dono deg-degan. Apa maksudnya baru melakukan praktek hari ini, itu berarti korban tersebut adalah objek yang dijadikan uji coba oleh Dimas atau kelinci percobaan.