BANGKITNYA PEMUDA MISKIN

BANGKITNYA PEMUDA MISKIN
22. jangan takut


__ADS_3

Akhirnya Dimas memasang Raja perlindungan di sekitar kontrakan itu. walaupun nyatanya Raja perlindungan itu tak sekuat Raja perlindungan yang pernah ia diciptakan di dunia persilatan, namun sudah cukup untuk menghalau kekuatan yang ada di zaman ini.


setelah Dimas selesai memasang araya perlindungan, Dimas kemudian bergegas mengenakan pakaian serba hitam dengan topi hitam, dan juga menggunakan masker. setelah itu, ia langsung bergegas keluar dari kontrakan dengan mengandalkan kekuatannya sehingga tak membuat Nyonya Larasati terbangun dari tidurnya.


****


kini Dimas telah berada di salah satu hutan yang letaknya lumayan jauh dari kontrakan atau kota tempat tinggalnya. dirinya sampai ke tempat ini karena mengikuti aura yang dikeluarkan oleh suami dan anak dari Nyonya Larasati.


" hutan...?? Apakah mereka berdua disekap dalam hutan ini..??" monolog Dimas dengan pelan.


Dimas kembali memusatkan pikirannya dan merasakan aura itu kembali. ternyata benar, mereka memang berada di sekitar sini. akhirnya Dimas kembali melangkahkan kakinya dengan pelan dan mengamati tempat di sekitar ini.


pelan tapi pasti, dirinya melangkahkan kaki. akhirnya dia melihat sebuah rumah yang tampaknya terbengkalai. Namun, di sana Dimas juga menemukan beberapa orang yang berpakaian serba hitam serta memiliki senjata api di tangan mereka.


"sial !!! Apakah orang yang aku cari berada di dalam..?? kenapa aku masih harus bertanya..?? Itu sudah pasti, auranya saja sangat pekat. tapi sialnya, tempat ini dijaga dengan ketat. aku yakin, kalau di setiap sudut tempat ini pasti memiliki pengamanan yang berlapis. hmm.. aku harus segera mencari cara agar bisa masuk ke dalam.." monolog Dimas lagi dengan pelan.


Dimas mencoba berfikir, apa yang harus dilakukannya mengingat hanya dirinya sendiri di tempat ini. sementara, dia mungkin akan melawan banyak orang jika bertindak gegabah. cukup lama Dimas berpikir, akhirnya dia teringat sesuatu dengan cincin ruangnya yang mampu menyimpan berbagai macam racun, bius dan obat-obatan.


"adduh..!!! kenapa sampai lupa seperti ini..?? dasar otak..!!" seru Dimas menepuk jidatnya dan merasa gemas dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


akhirnya Dimas segera mengeluarkan serbuk andalannya yang mampu membuat orang di sana menjadi tertidur pulas sampai pagi menjelang. sementara itu, sebelum dirinya menyebarkan serbuk-serbuk itu, dia terlebih dahulu meminum obat penawarnya agar tak terpengaruh dengan serbuk bius tersebut.


setelah selesai, dengan cepat, Dimas langsung berjalan mendekat dan menyebarkan serbuk itu dengan kekuatan angin, Dimas berusaha mengendalikan arah mata angin sehingga tertuju kepada orang-orang yang berjaga di rumah tua itu. 5 menit dia menyaksikan dan menunggu, akhirnya satu persatu dari mereka mulai tumbang dan tertidur di sembarang tempat.


Setelah semuanya sudah aman, Dimas kembali memasang penutup wajahnya dan bergegas masuk ke dalam. dirinya mengamati tempat itu dengan pasti, tak lupa Ia juga merasakan aura keberadaan suami dan anak Nyonya Larasati.


berkat ketajaman Indra perasanya, akhirnya Dimas langsung menemukan keberadaan suami dan anak dari Nyonya Larasati. saat ia masuk ke dalam sana, hal yang pertama kali dilihatnya adalah pemandangan yang begitu sangat mengiris hati.


Bagaimana tidak, di sana terlihat dua orang yang sudah berbadan kurus duduk di bawah tanah dengan tangan dan kaki yang dirantai. tampilan mereka tidak jelas dan bahkan acak-acakan. Dimas yang melihat penderitaan mereka Langsung meneteskan air matanya. dia merasa sakit dan sesak.


(sial !! hanya karena harta orang akan kehilangan akal sehat!! lihat saja aku akan membalas orang itu berkali-kali lipat.) ujar Dimas dengan penuh emosi.


sesampainya mereka di luar kediaman tua itu, dan dengan jarak yang sudah cukup lumayan jauh dari tempat tersebut, Dimas mulai meletakkan mereka dengan pelan. kemudian kembali mengamati tubuh kurus itu dibawa cahaya bulan yang menyinari mereka di hutan tersebut.


lagi-lagi, air mata Dimas kembali turun, hatinya sakit dan sesak padahal dirinya dulu tidak pernah menangis apapun Yang terjadi. tapi lihatlah sekarang, melihat penderitaan keduanya membuat hati Dimas menjadi teriris dan menangis tersedu-sedu.


"hiks.. hiks.." ternyata suara tangisnya mampu mengusik orang yang berbadan kurus itu dari pingsan nya. Siapa lagi kalau bukan Tuan Bastian. sementara devian masih belum sadarkan diri.


"hiks.. hiks.. srooot.." tuan Bastian mengerjabkan matanya dan melihat Dimas Disana.

__ADS_1


"Siapa kamu nak..???." ujar Tuan Bastian seperti orang yang sedang berbisik karena sudah tidak memiliki tenaga.


Dimas yang mendengar suara bisikan itu pun langsung menegakkan kepalanya dan menatap ke arah lelaki yang juga ikut menatap dirinya. dengan cepat Dimas langsung menyekah air matanya itu.


"anda sudah bangun tuan. tidak perlu takut... Saya bukan orang jahat. justru saya ke sini ingin menyelamatkan Tuan berdua." ujar Dimas sambil mengeluarkan air kehidupan dari dalam ruang dimensinya. Namun, seolah dari penglihatan Tuan Bastian, Dimas mengambil air itu dari dalam sakunya. dengan ukuran tempat air yang tidak begitu besar, cukup masuk akal, jika disimpan dalam saku.


"minumlah dulu tuan. karena kita harus segera pergi dari tempat ini. saya akan membawa kalian ke tempat yang aman sampai kalian berdua benar-benar sembuh." ujar Dimas lagi dengan suara yang datar dan juga tegas.


dirinya berusaha menahan tangisannya, agar dia dapat berpikir jernih dan membawa keduanya pergi dari tempat itu. tuan Bastian sendiri yang memang merasa haus langsung menerima uluran tangan Dimas dan meneguk air itu sampai habis. setelah beberapa detik, dirinya langsung merasa bugar, dia merasakan sesuatu yang hangat menjalar ke bagian-bagian organ-organ tubuhnya serta saraf sarafnya.


"Ayo tuan. naiklah ke punggungku, nanti yang satunya lagi akan saya gendong dengan gaya bridal style." ujar Dimas kepada tuan Bastian. tak lupa, Dimas melepaskan baju atasannya.


Tuan Bastian sendiri Langsung bergerak cepat. entah kenapa, dirinya tak merasa ragu, Ia pun langsung mengalungkan tangannya di leher Dimas. sementara Dimas langsung mengikat baju tersebut di pinggangnya bersamaan dengan tubuh Tuan Bastian yang kurus itu.


setelah itu, Dimas langsung mengangkat tubuh devian dan langsung membawa Mereka pergi dari sana dengan langkah yang cepat. dirinya juga menggunakan ilmu peringan tubuh sehingga membantu kecepatan dirinya dalam melangkah.


di perjalanannya, Dimas mulai memikirkan ke mana dia harus membawa dua orang ini. tapi karena tidak tahu harus membawa mereka ke mana, terpaksa Dimas membawa mereka kesebuah rumah kosong yang ada di pinggir kota. biarlah nanti, mereka tinggal di sana terlebih dahulu untuk mengamankan keduanya.


rumah kosong itu terlihat sudah agak reyot dan sedikit lapuk. sesampainya mereka disana, Dimas langsung meletakkan Devian dengan pelan dan membaringkan tubuhnya itu diatas sebuah papan yang masih lumayan kokoh.

__ADS_1


__ADS_2