Berpisah

Berpisah
Kehidupan baru


__ADS_3

Semua kejadian yang telah berlalu dengan segala kepiluan dan hikmah yang bisa diambil. Kalila dan ayahnya benar-benar pergi dari kehidupan Randy dan keluarganya, meskipun tidak mustahil bahwa mereka akan menemukan keduanya suatu saat nanti. Kalila sudah mulai terbiasa dengan kehidupan barunya sebagai calon ibu tanpa sosok suami.


Dia menikmati hari-harinya dengan penuh rasa syukur tidak ingin terbebani dengan kehidupan yang lalu. Kondisi Kalila yang hamil tanpa adanya suami membuat dia sedikit jadi bahan perbincangan orang-orang, sampai-sampai Wa Ila dan keduanya dipanggil ke rumah pak Rt. Banyak warga yang turut hadir di sana untuk mengetahui kenyataan sebenarnya, karena bagi mereka orang yang hamil diluar nikah akan memberikan kesialan di kampung mereka.


Mau tak mau Kalila harus menjelaskan situasinya yang menikah siri dengan suami tanpa menjelaskan secara terperinci namun Wa Ila masih menyimpan foto 2 tahun lalu saat Lila menikah di rumah sakit, foto itu menjadi bukti kuat bahwa Kalila adalah wanita baik-baik dan sudah berpisah dengan alasan kalau hubungan mereka tidak harmonis. Semua warga mulai berubah pikiran dan meminta maaf pada Kalila dan keluarga, meskipun tidak semua orang menerima setidaknya pikiran mereka tidak sejahat sebelumnya.


***


Sudah 5 bulan Kalila meninggalkan kota Jakarta dan segala kenangannya, usia kandungan Kalila yang sudah cukup untuk melahirkan membuatnya masih sibuk beraktivitas di toko miliknya. Kalila dibanjiri orderan souvenir untuk sebuah acara pernikahan ada 3000pc yang saat itu diorder via online oleh pembeli, rejekinya si utun yang sebentar lagi lahir kedunia.


"Lila seharusnya kamu sudah istirahat sebentar lagi kamu akan melahirkan, kamu sudah memiliki dua pegawai serahkan saja kepada mereka biar mereka yang menangani," ucap Wa Ila.


"Betul, Nak. Apalagi sekarang bapak sudah membantu mu di toko, kamu harus menyiapkan kekuatan untuk menghadapi persalinan nanti,"


Kalila tersenyum "Kalian tenang saja, lila hanya memastikan orderan ini terkirim dengan baik, sesuai kualitas yang kita janjikan. Lila senang bisa berpartisipasi dalam kebahagiaan orang lain apalagi ini momen sakral. Lila berharap mereka yang menikah selalu diliputi kebahagiaan, " ucapnya, kedua saudara kembar itu sedang menatap sendu pada sosok perempuan yang memiliki perut buncit bernama Kalila.


"Uwa juga berharap kamu dan anak kamu selalu diliputi kebahagiaan meskipun hidup dalam keterbatasan, "


"Aamiin, saat ini kebahagiaan terbesar Lila akan segera hadir Wa, dia akan menemani perjalanan panjang ku, Kalila tidak menginginkan apapun lagi,"


"Bagaimana dengan ayahnya?" Tanya Wa Ila


Lila tersenyum "Keberadaan kami tidak diinginkan, aku yakin dia pun akan bahagia tanpa kami. Sejak awal dia sudah memasang tembok besar untuk hubungan kami, jadi aku bisa menjadi ibu sekaligus ayah untuk anakku kelak,"


"Tapi..." lanjut Wa Ila


"Sudahlah kak, jika takdir mengharuskan mereka bertemu pasti akan terjadi, karena bagaimanapun kita berada di bumi yang sama dengan jarak yang masih bisa dijangkau. Untuk saat ini biarkan semuanya mengalir seperti air, jangan membuat Kalilaku tertekan m,"

__ADS_1


"Maaf," ucap Wa ila menyesal.


"Kenapa harus minta maaf, Wa. Aku baik-baik saja,"


Keduanya pun berpeluang.


**


Tiga hari kemudian


Saat kalila sedang menyapu di latar tiba ada cairan bening yang keluar membasahi kaki Lila, karena sudah tau apa yang terjadi dia berusaha tenang dan tidak panik. Dia lebih dulu masuk ke dalam untuk mengambil perlengkapan untuk dibawa ke bidan, setelah selesai dia meminta tolong salah satu tetangganya yang memiliki becak.


"Assalamualaikum, Bu. Pak Parjo ada? saya ingin minta tolong di antar ke bidan Asri yang di depan gang, apa pak parjo sudah pergi ke pangkalan becaknya?,"


"Waalaikumsallam neng Lila, ya ampun mau melahirkan ya? tunggu sebentar kebetulan suami saya belum berangkat, "


"Neng, sudah waktunya?" Tanya pak parjo


"Iya Pak, saya minta tolong ya antar ke bidan Asri,"


"Baik neng, saya ambil becaknya dulu, " Alila pun menganguk apalagi kontraksi sudah mulai intens.


"Bu wulan saya belum sempat kasih tau bapak dan Wa Ila, kalau kebetulan mereka lewat tolong kasih tau, hape saya tertinggal di dalam," ucap Kalila kepada tetangga dekatnya.


" Iya neng, nanti saya yang kasih tau Mbak Ila,"


Lila pun langsung diantar oleh Pak parjo ke bidan Asri, jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal Kalila. kurang dari 15 menit keduanya sudah sampai di klinik bidan Asri, klinik yang cukup besar dengan pasien yang cukup banyak. Ada yang datang untuk memeriksakan kesehatan berarti tujuannya bertemu suami bidan Asri, dan ibu ibu berperut buncit rata-rata akan menemui Bu Asri entah sekadar kunjungan rutin atau keadaan darurat untuk melahirkan seperti Kalila.

__ADS_1


Setelah sampai Pak parjo meminta bantuan perawat di sana untuk dibawakan kursi roda, sepertinya Kalila sudah meringis kesakitan dan pak parjo tidak tega jika melihat kalila berjalan. Setelah dibawa ke ruangan bersalin dan dicek langsung oleh bidan Asri, ternyata pembukaan Kalila sudah cukup untuk melahirkan, dibantu dua perawat dan segala perlengkapan yang sudah di sediakan Kalila pun di minta bersiap untuk berjuang.


"Kamu sendirian saja?" Tanya bidan Asri.


"Saya tidak sempat mengabari yang lain, Bu. Mereka sedang beraktivitas, mungkinsebentar lagi menyusul."


"Baiklah, tidak apa-apa, ada saya sama yang lain yang akan membantu proses kelahiran anak kamu, semangat ya berikan yang terbaik untuk menyambut kehadiran buah hati kamu,"


"Terima kasih, Bu."


Kalila sudah melapalkan banyak doa untuk memulai perjuangannya, saat Bu bidan meminta Kalila bersiap dia pun dengan sepenuh hati bersiap.


"Nak, sebentar lagi kita bertemu,"


Bu bidan memberikan arahan untuk mengejan atau berhenti saat dirasa dirasa kalila kelelahan. Setelah beberapa kali percobaan kepala bayi sudah terlihat dan Kalila di minta mengejan sesuai instruksi agar tidak terjadi robekan di jalan lahir atau hal apapun yang membahayakan ibu dan bayi. Bidan Asri terkenal dengan metodenya yang membantu persalinan dengan normal dan aman. Maka hanya membutuhkan beberapa menit untuk menyambut kelahiran bayi kalila.


"Alhamdulillah," ucap bidan dan yang lain tak lama bayi kalila pun menangis.


*owekk....owekkk...owekkkk


"Maa syaa Allah, alhamdulillah*. Selamat Mbak Kalila sesuai perkiraan saat USG bayinya laki-laki dan sempurna,"


Kalila pun menangis haru, bahkan saat bayi diletakkan diatas dada kalila untuk dilakukan IMD tangisan itu tak kunjung berhenti.


"Terima kasih, Ya Allah atas rejeki Mu, terima kasih Nak . sudah hadir,"


"Lalu siapa yang akan mengazani? sepertinya keluarga belum ada datang,"

__ADS_1


"Mas Faqih saja Bu, kebetulan dia sedang diluar," ucap salah satu perawat.


__ADS_2