
"Kita hadapi saja bersama, toh pada akhirnya orang tidak akan peduli. Kak, Mas. untuk saat ini aku membutuhkan bantuan kalian, setelahnya kami janji akan mandiri da tidak melibatkan kalian dengan persoalan kami," ucap Pak Ali.
"Tanpa kamu memintanya kami akan dengan senang hati membantu. Mas, justru mengkhawatirkan kalian, apa kalian akan baik-baik saja jika beberapa saat mendengar penuturan orang-orang yang tidak mengenakan?,"
"Kami akan menghadapinya, Mas."
"Baiklah, sekarang apa rencanamu setelah datang ke Malang?"
"Aku ingin mencari kontrakan yang cukup untuk kami berdua," sahut Kalila.
"Kenapa harus mengontrak, tinggal saja di sini bersama kami, " ucap bu Ila.
"Kami tidak ingin merepotkan kalian, dengan datangnya kami kesini pun sudah menjadi permasalahan baru untuk kalian. Kami butuh tempat tinggal setidaknya dekat dengan rumah kalian,"
"Baiklah kalau itu mau mu, kebetulan kontrakan di depan sana sedang kosong, nanti Pakl e Tanya sama pemiliknya, "
"Baiklah, terima kasih Pak le,"
__ADS_1
***
Kehidupan terus berjalan kesulitan dan rintangan bukanlah hal yang tidak kalila dapatkan, seperti awal pembicaraan kalau hidup disebuah wilayah tidak mungkin orang-orang tidak ikut campur dengan kehidupan orang lain. Namun mereka menulikan telinga agar semuanya baik-baik saja meskipun tidak mudah.
Usia kandungan Kalila sudah menginjak 5 bulan, pergerakan bayi di dalam kandungannya sudah menunjukan getaran yang menggelitik. Kalila tetap melanjutkan usaha souvenir yang sebelumnya ia kelola, sementara Pak Ali membantu Kakaknya berjualan makanan khas Malang, buka dari habis magrib sampai Pukul 12 malam.
Pak Ali belum diizinkan kerja yang berat, ia hanya ditugaskan menjadi kasir atau sekadar mencatat pesanan pembeli. Sementara dilain tempat keluarga Randy sedang berusaha mencari keberadaan mereka namun tidak mudah. Randy yang meminta bantuan pada orang-orang untuk menjelajah kota Jakarta, bahkan jabodetabek mereka selasar tapi semuanya nihil.
"Apa tidak ada kabar?" Tanya randy pada orang kepercayaannya yang tak lain adik sepupunya.
"Aku tidak mengenal banyak istriku, bahkan keluarganya. Aku menikahinya hanya setengah hati bahkan tidak ada hati, aku hanya ingin memberikan perpisahan yang layak jika dia memang ingin pergi dariku, "
"Saya rasa mereka benar-benar tidak ingin berurusan lagi dengan keluarga Mas Randy, apalagi dari cctv terakhir yang saya lihat Mbak Lila nampak tidak seceria awal2 pernikahan sampai beberapa bulan sebelum dia pergi. Apa Mas melakukan sesuatu yang diketahui mbak lila?"
Randy terdiam sejenak, sambil mengingat surat yang pernah ia baca.
"Dia mengetahui kalau aku menemui Yasmin, dan aku memang melamar dia. Tapi aku belum memberi tahu siapapun, kecuali papa dan mama, mereka pun menentang karena aku masih terikat pernikahan, tapi aku tidak menyangka kalau kalila tahu lebih awal,"
__ADS_1
Ryan menarik napas, bagaimana pun kelakuan kakak sepupu nya sudah keterlaluan. "Memang Mas Randy melamar Yasmin di mana?"
Di sebuah restoran sengaja aku booking untuk melamarnya, tapi di sana tidak ada siapapun yang mengabadikan momen kami. Tapi..."
"Tapi apa?" Tanya Ryan penasaran.
"Yasmin mengirim foto saat itu, kebetulan ia meminta petugas di sana untuk memotret kami,"
"Apa mungkin Mbak lila melihatnya?" Randy terkejut,
"Mungkin saja, karena saat itu aku sedang membalas pesan darinya, namun aku harus pergi ke kamar mandi dan meninggalkan hape milikku, bahkan seingat ku pesannya belum aku keluarkan.
"Apa setelah keluar dari kamar mandi dia ada di sana?"
"Iya, dia sedang merapikan baju dilemari, aku tidak menaruh curiga kalau dia sudah melihat isi pesan dari Yasmin, karena dia pun biasa saja"
**
__ADS_1