Berpisah

Berpisah
kepergian


__ADS_3

Mereka hanyut dalam pikiran yang entah benar atau salah, namun karena keadaan keduanya pun memilih untuk meyakini bahwa keberadaan mereka tidak begitu diinginkan.


Bus yang akan mengantarkan keduanya pun telah melaju, Kalila bersandar pada kaca yang memperlihatkan jalanan kala itu berkali-kali dia berterima kasih karena sudah diberikan kesempatan untuk mencintai seorang laki-laki meskipun tak terbalas.


***


Keesokan harinya Randy telah kembali dari perjalanan yang sebelumnya ia pamitkan pada Kalila untuk bekerja, namun entahlah. Setiap hari Kalila selalu menunggu Randy pulang dan menyambutnya namun kali ini hal itu tidak terjadi mungkinkah istrinya telah tidur?


Bu Mala menghampiri Randy karena sadar dia sedang mencari seseorang, ia pun mengatakan yang sebenarnya.


"Mas Randy sudah pulang?" Tanya bu mala, sedangkan randy hanya menganguk.

__ADS_1


"Kenapa rumah sepi sekali, Kalila dan ayahnya kemana?" Tanya Randy akhirnya.


"Mereka Pamit pulang tadi siang, Mas."


Randy merasa heran dan tersenyum tipis "Pulang? mereka tidak punya tempat tinggal lain selain di sini, jangan mengada-ada!"


"Tapi mereka bilang begitu Mas, katanya mereka akan pulang ke rumah saudara Pak Ali, mereka juga membawa tas dan baju-baju bahkan Bibi sempat di suruh memeriksa barang bawaan mereka agar kepergian mereka tidak dicurigai karena membawa barang-barang dari rumah ini. Mereka hanya membawa pakaian yang dibawa saat datang ke sini,"


Mendengar penjelasan Bu Mala akhirnya Randy mulai percaya dan segera berlari ke lantai atas, dan benar saja di kamar itu tidak ada siapapun. Kamar yang selalu rapih dan harum, senyum istri yang selalu ia abaikan tidak lagi nampak.


cincin yang awalnya ingin diganti dengan yang lebih bagus namun Kalila menolak dengan alasan itu adalah mahar pertama miliknya dan tidak ingin diganti dengan yang lain, namun saat ini tergeletak bersama kertas dan kartu ATM yang diberikan oleh Randy.

__ADS_1


Membaca kata demi kata yang tertulis membuat Randy diam tanpa ekspresi, wanita yang selalu dia abaikan benar-benar pergi, namun perasaannya tak tentu seperti separuh jiwanya hilang. Randy menduduki tempat tidur dan menatap seluruh kamar yang tidak berubah sedikitpun.


"Kenapa pergi? aku belum menyuruhmu pergi," ucapnya sendu sambil menyugarkan rambutnya yang sedikit gondrong.


Randy mengambil hapenya berniat untuk menelepon istrinya namun ia baru menyadari kalau tidak memiliki nomor hp Kalila, jika ada hal yang ingin dibicarakan Randy selalu menggunakan telepon rumah, begitu juga dengan Kalila.


Randy berlari ke lantai bawah untuk meminta kontak kalila pada asisten rumah tangga namun sayangnya mereka tidak memilikinya, sebelum pergi Kalila mengatakan dia sudah berganti nomor hape dan akan menghubungi mereka lebih dulu.


"Jika dia menghubungi kalian tolong beritahu saya,"


"Baik, Mas."

__ADS_1


Randy kembali ke kamar dan melihat sekeliling kamar itu, tidak ada foto pernikahan, foto keduanya ataupun foto pribadi milik Kalila karena memang sejak awal Randy sudah melarangnya. Randy mengizinkan Kalila tidur dikamarnya pun karena tidak enak pada Ayah Kalila yang tinggal bersama mereka, meski menikah siri tetap saja ini adalah pernikahan.


***


__ADS_2