Berpisah

Berpisah
Arshaka


__ADS_3

"Mas Faqih saja Bu, kebetulan dia sedang diluar," ucap salah satu perawat.


"Memang belum berangkat ke pesantren?"


"Belum, Bu. Katanya masih kangen sama ikan-ikan peliharaan nya," sahut perawat sambil tersenyum mengingat kelakuan anak atasannya.


"Yasudah tolong dipanggil, bilang saja saya minta tolong mengazani bayi,"


"Baik Bu,"


Perawat pun memanggil anak dari bidan Asri untuk memberikan pekerjaan tambahan saat dia sedang ada dirumah.


"Maaf Bu, saya jadi merepotkan ibu," ucap kalila sambil mengancingkan baju setelah IMD selesai dilakukan, tak lama dua orang masuk ke dalam ruang bersalin itu.


"Tidak apa-apa santai saja,"


"Bu, ini Mas Faqih nya," ucap perawat.


Bu Asri menganguk "Faqih tolong ibu, Azani adik bayi ini, keluarganya belum tiba,"


"Baik, Bu. tapi uang jajan Faqih bertambah tidak?"


"Nambah duaribu! yang ikhlas kalau bantu itu, emang di pesantren ngapain aja, nggak mungkin kan kamu tidur terus?"


" Yasudah, Mas bantu tanpa tambahan uang jajan. Ibu harus rileks kan capek abis bantu dedek nya lahiran, jangan ngomel lagi nanti kerutan di wajah ibu bertambah hehe,"


Bu Asri hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anak bungsunya.


"Mana adik bayi yang mau di Azani?" Tanya Faqih.


"Ini Mas, baru selesai dibersihkan, " sahut perawat.


"Maa syaa Allah tampan sekali seperti berkaca aku. Bu, Faqih waktu bayi pasti setampan ini ya? aku bisa merasakan sebahagia apa kalian menyambut kelahiran ku hehe," Faqih terus saja berceloteh membuat orang diruangan itu tersenyum.


" Maaassss!" peringatan Bu Asri.


" Siap bossss,"

__ADS_1


Faqih pun melantunkan bait azan kata demi kata dengar merdu sampai bayi yang beberapa menit baru lahir itu terdiam seolah sedang meresapi suara surga yang masuk ke dalam indra pendengar nya. Faqih selesai mengazani ditelinga sebelah kanan lalu mengikomat ditelinga sebelah kiri, dan selesailah tugas Faqih.


"Alhamdulillah, " ucap semuanya.


"Terima kasih Mas," ucap Kalila.


"Sama-sama, Mbak," sahut Faqih tersenyum.


Selesai membantu proses persalinan kalila dan bayinya, keduanya dipindahkan ke ruang pemulihan, dia bergabung dengan beberapa ibu yang baru melahirkan juga. Mereka akan pulang setelah beberapa jam di klinik bidan Asri dan selanjutnya mereka akan langsung pulang ke rumah.


**


Hampir satu jam berlalu keluarga kalila baru tiba di klinik, itupun karena Pak parjo menyusul pak Ali ke toko, dia sudah menunggu hampir satu jam tapi keluarga kalila tak kunjung datang, dia yakin istrinya kesulitan menemui mereka karena harus menjaga anaknya yang sedang sakit.


"Pak, Parjo terima kasih ya sudah membantu anak saya. ini ongkos dan sedikit rejeki untuk keluarga," ucap Pak Ali memberikan uang sebanyak 300rb.


"Pak Ali ini terlalu banyak, saya hanya membantu sedikit lagi pula jaraknya sangat dekat,"


"Tidak apa-apa, Mas. Ambil saja kebetulan adik dan keponakan saya toko nya sudah berjalan jadi bisa berbagi rezeki, " sambung Bu Ila.


"Saya senang bisa membantu, terima kasih ya pak Ali dan Mbak Ila," Keduanya pun menganguk dan tersenyum.


Setelah bertanya keberadaan kalila mereka pun masuk ke dalam ruangan yang berisikan ibu ibu yang baru melahirkan, dan tepat setelah masuk terlihat sosok kalila yang tak jauh dari pintu masuk. Wanita yang baru menjadi ibu itu sedang menatap buah hatinya.


"Assalamualaikum, " ucap keduanya dan disahuti oleh semua orang yang ada diruangan itu.


"Waalaikumsallam, "


Kalila tersenyum menyambut keduanya. Dan keduanya bergantian memeluk dan mencium Kalila dan bayinya sambil mengucapkan selamat karena sudah menjadi seorang ibu.


"Alhamdulillah Nak, kenapa tidak mengabari Bapak dan Wa Ila?,"


"Hapenya tertinggal Pak, aku hanya fokus pada tas yang mau dibawa ke klinik saja,"


"Sudah tidak apa-apa yang penting sekarang kalian sudah selamat, " ucap Wa Ila.


"Wah dedek bayinya tampan sekali, wajahnya mirip sekali dengan ayahnya sungguh terlihat meskipun dia masih sangat bayi merah,"

__ADS_1


"Iya Wa, seolah aku tidak bisa menyembunyikan dia dan memberitahukan pada kenyataan kalau dia adalah putra dari Randy."


Wa Ila pun menganguk " Kamu akan beri nama bayi tampan ini siapa?"


"Arshaka Khalil" ucap Kalila penuh kebahagiaan.


"Nama yang bagus, pasti sebagus maknanya " ucap Ayahnya, dan kalila hanya menganguk lalu tersenyum.


***


Dibelahan bumi lain tepatnya di rumah keluarga Adam sedang terjadi perdebatan karena Randy yang terus menunda pernikahan selama beberapa bulan, sedangkan keluarga Yasmin sudah menuntut randy dan keluarga untuk segera menikahi putrinya. Namun Randy meminta waktu sampai dia menemukan kalila dan bapaknya, setidaknya dia ingin menyelesaikan satu persoalan karena tidak ingin kalau dikemudian hari akan jadi bom waktu.


"Ran, sebaiknya kamu penuhi saja keinginan keluarga Yasmin, toh kamu sendiri yang memulai hubungan disaat kamu masih terikat pernikahan. Kamu hanya perlu meneruskan rencana yang sejak awal kamu susun, lagi pula kamu juga sudah berniat sejak awal untuk menunggu dan menikahinya, urusan kalila dan ayahnya serahkan saja pada Papa,"


Randy hanya terdiam.


"Apa yang membuat kamu masih berusaha menemukan kalila, tidak mungkin kan kamu mencintainya?" Tanya Adam.


"Papa bicara omong kosong!"


"Lalu apa alasannya? kalau menyesal dan merasa bersalah Papa pikir itu tidak mungkin,"


"Aku juga tidak tahu kenapa, hanya saja aku ingin bertemu dia meskipun sekali "


"Kamu tidak bisa terus mengulur waktu, cepat atau lambat pernikahan kalian harus tetap berlanjut apalagi keluarganya sudah tahu kalau kamu akan menikahi Yasmin, "


Randy bingung yang dia lakukan hanya memegang kepala dan sesekali menarik rambutnya seolah mengisyaratkan kalau dia sangat bingung dengan situasinya.


"Kalila dan bapaknya sudah pergi dengan sendirinya, mereka juga sadar diri karena kamu sudah kembali pada Yasmin. Jika pun mereka masih di sini justru kamu akan semakin menyakiti kalila, Mama yakin dia sudah tahu konsekuensi ketika yasmin kembali, toh kamu pun tidak mungkin menjadikan yasmin istri kedua mu," sambung mama.


" Kecuali Kalila mengandung buah hati kamu, mungkin kalila akan berpikir berulang kali untuk meninggalkan rumah ini, karena ibu mana yang tega memisahkan anak dengan ayahnya, jadi semenderita apapun kehidupan berbagi suami mungkin dia jalani. Itu pun mungkin, "


" Kalila tidak mungkin mengandung anakku karena sejak awal aku sudah melarangnya bahkan aku menyuruh dia meminum pil pencegah kehamilan kalau pun dia hamil aku memintanya menggugurkan, " ucap Randy dengan penuh keyakinan.


" Bi a dab sekali kamu menjadi laki-laki! Papa tidak menyangka kalau kamu sampai berpikiran seperti itu, bagaimana jika kalila benar-benar hamil dan pergi karena takut disuruh menggugurkan?"


***

__ADS_1


__ADS_2