BERTARUNG Dengan MAUT

BERTARUNG Dengan MAUT
Perjalanan ke luar kota


__ADS_3

Hari beranjak malam ketika 7 dokter muda itu bergerak meninggalkan kota A. Mereka terlihat begitu gembira setelah selesai mengikuti ujian akhir dan mendapatkan nilai yang sangat bagus. Pujian pujian dari dosen pembimbing mengalir deras ke mereka. Yaaa.. mereka memang mahasiswa unggulan di kampus kedokteran itu. Mereka berencana melakukan perjalanan ke luar kota melepaskan segala kepenatan yang selama ini menghimpit mereka dengan tugas tugas bejibun yang mereka lalui setiap hari.


Suara tawa yang bersahutan terdengar pecah dari dalam mobil yang terus melaju meninggalkan keramaian kota.


"Hei, kenapa kamu melamun. Kamu tidak suka dengan perjalanan ini" tepukan Angga di bahu kiri Arini mengejutkan gadis berparas cantik dengan hidung bangir dan bibir sensual itu. Arini hanya tersenyum. Sesaat ia mengalihkan pendangannya ke belakang menatap mobil yang membawa Cika di dalamnya.


Mereka menggunakan 2 mobil berwarna putih. Yang terus beriring-iringan meninggalkan keramaian kota.


Tiba - tiba Axel yang berada di belakang kendali setir menginjak pedal rem secara mendadak. Kontan Angga dan Arini terkejut. . Angga cepat menangkap tubuh Arini yang melorot ke bawah.


"Axel ada apa?" tanya Angga


""Aku melihat anak kecil tiba-tiba menyeberang jalan" jawab Axel pelan


"apa?" tanya Angga kaget.


Kedua mobil itu berhenti di pinggir jalan. Jalanan yang sepi dengan suasana mencekam menyelimuti sepanjang sisir jalan jurang jurang terjal yang menganga lebar siap melahap siapapun yang tidak berhati hati. Kondisi jalan yang turun naik bukit meliuk tajam kadang memanjat naik terkadang memaksa mereka menghela napas dalam.


"Apa yang terjadi" tanya Hans yang turun dari mobil satunya.

__ADS_1


Ketujuh pemuda itu hampir bersamaan. Mereka saling pandang.


"aku melihat anak kecil menyeberangi jalan. Kontan aku rem mendadak ayo cari anak kecil itu" ucap Axel sambil bergerak.


Angga , Dito, Pram, Celio, melangkah mengikuti langkah kaki Axel.


Arini menyandarkan tubuhnya di badan mobil.


Cika mendekat " kenapa kamu sepertinya tidak bergairah" di pegangnya bahu Arini.


Sontak ia kaget saat menyentuh kulit sahabatnya.


"Kamu demam?" pekiknya tertahan. "kenapa kamu gak bilang kalau demam, ayo cepat minun obat sebelum makin parah. "


Cika melotot dengan sikap Arini. Tanpa mempedulikan Arini Cika masuk ke dalam mobil dan membuka kotak obat . Dikeluarkan beberapa butir kapsul penurun demam.


Dan segera diberikan ke Arini.


"Minumlah!"

__ADS_1


Arini mengambil obat yang diberikan Cika dan menelannya sembari meminum air dalam botol kemasan yang diberikan Cika.


Cika nampak begitu khawatir.


"Tolong jangan bilang ke mereka tentang keadaanku" ucap Arini pelan. Matanya sayu namun ia berusaha tersenyum didepan Cika yang masih tak habis pikir dengan sikapnya.


Tak lama terdengar suara teman-teman mereka mulai mendekat.


"Apa kalian menemukan anak kecil itu" tanya Arini dan Cika hampir bersamaan.


Ke lima dokter muda saling berpandangan. Axel mengangkat bahu.


"tidak ada apa-apa"


"Apa mungkin tengah malam ini ada anak kecil yang menyeberangi jalan" Celio melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 01.30 dinihari.


"Sudahlah kita lanjutkan perjalanan"


suara Pramudya memecah keheningan.

__ADS_1


"Kita cari penginapan disekitar sini" Axel menghidupkan rokoknya.


" Setauku sepanjang jalan ini tidak ada penginapan atau hotel. ini hutan belantara. Kita sudah mendekati perbatasan provinsi. Untuk menemukan penginapan atau hotel butuh waktu 10 jam lagi". ucap Dito yang sedari tadi hanya diam.


__ADS_2