
Keheningan yang cukup membuat jantung Cika berdegup lebih kencang karena cecaran pertanyaan dari Axel sedikit terlepaskan saat melihat tubuh Arini menggeliat. Ia tahu kalau Axel marah pasti akan seperti Singa Kelaparan. Axel sejak lama memang menyukai Arini, walau ia berusaha menyembunyikan rasa sukanya. Karena Arini hanya bersikap acuh dan cuek kepada semua lelaki yang berusaha mendekatinya. Ia tak mau ambil pusing. Arini berprinsip pendidikan nomor satu. Cowok urutan ke sekian. Ia bersikukuh sebelum gelar dr. melekat di depan namanya Arini tidak mau dekat dengan lelaki manapun. Termasuk dua lelaki yang saat ini ada bersama mereka Angga dan Axel. Walau terkadang mereka nyata nyata bertengkar di hadapannya. Arini hanya tersenyum melihat sikap kedua laki laki itu yang dirasanya seperti anak kecil.
Arini mengerjapkan matanya. Ia terkejut melihat Cika dan Axel yang berdiri di samping ranjang dengan pandangan penuh khawatir.
Arini mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
"Dimana ini?" tanyanya pelan "Apa yang terjadi denganku?"
"Kamu demam Ar, kamu tak sadarkan diri, kamu meracau." jawab Cika perlahan sambil membetulkan selimut Arini.
Arini menggerakkan badannya bermaksud untuk menyandarkan tubuhnya" aahh" teriaknya lemah.
"Jangan banyak bergerak dulu, kamu masih lemah" ucap Axel kemudian.
Cika beringsut mundur bermaksud memberikan kesempatan kepada Axel untuk berbicara dengan Arini. Karena ia tahu Arini susah sekali di ajak ngobrol ama laki laki walau mereka sudah lama kenal sejak dari SMA. "Aku ke dapur dulu, mau buatkan kamu teh hangat" ucapnya kepada Arini tanpa menunggu jawaban dari sahabatnya Cika segera berlalu meninggalkan keduanya tanpa menunggu persetujuan dari mereka.
Cika menghilang di balik pintu.
__ADS_1
Cekleekk.
Suara daun pintu di tutup dari luar
Axel memandangi Arini, tatapannya teduh. Di elusnya kepala Arini sesaat kemudian di pegangnya kening Arini untuk memastikan kondisi Arini. Arini menatapnya hampir bersamaan. Ah. Ada sesuatu yang tiba tiba bergelanyut
manja dalam pikirannya. Buru buru Arini mengalihkan wajahnya dari tatapan Axel yang serasa menembus tepat ke ulu jantungnya.
Arini kembali berusaha untuk bangun. Kali ini Axel membantunya untuk duduk. Wajah mereka begitu dekat hanya berjarak 3 senti. Arini dapat merasakan hembusan nafas Axel yang hangat menerpa wajahnya. Mata keduanya beradu. Arini menatap bayangan dirinya dalam bola mata berwarna coklat kebiruan milik Axel. Arini merasakan aliran hangat menjalari tubuhnya saat Axel membantunya untuk duduk. Axel menatap dalam ke Arini wajahnya semakin dekat. Saat bibir keduanya nyaris beradu Arini memalingkan wajahnya.
Axel menyadari sikapnya barusan yang pastinya tidak disukai Arini buru buru ia mundur memberi jarak. Ia merasa canggung akan sikapnya " Bagaimana keadaanmu, kenapa kamu bisa pingsan selama itu," tanyanya perlahan" kamu tahu, aku sangat takut melihatmu seperti itu." lanjutnya datar menutupi kecanggungannya.
Arini hanya terdiam mendengar ucapan Axel barusan. Benarkah ia takut melihat keadaanku tadi malam. Sebegitunyakah? Pikiran Arini awut awutan seperti benang kusut. Pipinya yang putih bersemu merah.
"Kamu demam tinggi Ar, kamu meracau" Axel berkata sambil mengelus kepala Arini.
Kekhawatiran masih terpampang jelas di wajah tampannya. Iaaa. Axel memang tampan. Dengan tinggi di atas 180 an . Berkulit putih. Hidung mancung. Brewok tipis di dagunya menambah kesan seksi dan atletis tubuhnya dengan perut six pack nya yang akan menggoda pikiran setiap kaum hawa yang dekat dengan dirinya. membuat pikiran mesum perempuan yang berkhayal untuk bisa tidur dengannya.
__ADS_1
Tapi Axel tidak menggubris semua itu. Dalam pikirannya hanya ada satu wanita yang selalu di puja dan di dambanya. Arini. iya Arini.. wanita yang selalu diidamkannya sejak mereka kenal dan sama sama duduk bangku SMA.dan di sekokah yang sama. Tapi Arini menutup diri untuk siapapun.
"Arini, aku ingin mengatakan sesuatu" ucapnya lirih nyaris tak terdengar. Namun Arini dapat mendengarnya meski pelan.
×××××××÷÷÷
Mulai panas nii yaa pemirsa...
Ayo jangan lupa like dan koment nya biar eyke makin semangat nulisnya yaa...
Boleh juga kalau mau sumbang ide alur cerita. Kritik kritik pedas dari kalian akan ku jadikan sebagai cambuk untuk eyke semakin memperbaiki tulisan tulisan yang akan datang
¥¥¥¥¥¥¥¥¥¥
Salam imajinasi deh pokokny.....
Emuaaacxhh
__ADS_1