BERTARUNG Dengan MAUT

BERTARUNG Dengan MAUT
15.


__ADS_3

Axel yang mendengar perkataan Jalal darahnya berdesir. Serasa mendidih di ubun-ubun. Tangannya mengepal. Rahangnya mengeras. Netra kebiruannya menyiratkan amarah yang sangat besar mendengar Arini dilecehkan seperti itu.


"Maaf Ki Jalal, kami melakukan perjalanan ini bertujuh dan kami harus tetap bertujuh jika kembali ke rumah kami , tidak boleh ada satu orangpun yang tertinggal baik di desa ini atau di tempat lain." Axel menyela sambil menggenggam erat tangan Arini diikuti yang lainnya. Mereka saling berpegangan tangan.


Jalal dan penduduk kampung lainnya tetawa terbahak-bahak melihat kekompakan mereka.


"Heeeh, apa kau yakin bisa keluAr dari desa kemangi ini hidup -hidup.?" Jambrong berkacak pinggang dengan pongahnya. Suara tawa penduduk kampung semakin nyaring menggelegar


""Sudah Kasikan saja teman perempuanmu itu untuk dijadikan istri Ki Jalal ...... Dan kalian bisa meninggalkan desa kemangi ini tanpa hambatan apapun!" celetuk seorang warga yang ada di situ.


"Gila ternyata perempuan itu jauh lebih cantik dan monyok dari Gendis," rutuk hati Hendra yang dari tadi matanya terperangkap ke tubuh Arini...


Otak kotornya pun mulai bekerja. "aku harus mendapatkan gadis itu," desisnya pelan.


Axel menoleh ke teman-temannya.


"Kita hadapi mereka hidup atau mati, kita tidak boleh mengorbankan seorang dari kita demi keselamatan kita," ucap Hans yang paham akan maksud Axel.


"Iya, kita hadapi mereka," Angga menambahkan. Ia mendengus gusar mendengar ucapan -ucapan para warga kampung yang sedari tadi merendahkan Arini.


Arini hanya diam. Tak berkata sepatah katapun. "lebih baik aku mati berkalang tanah daripada harus menjadi budak nafsu lelaki tua bandotan itu," geramnya dalam hati. Tangannya mengepal. Tatapan matanya penuh amarah kebencian. ,"tetaplah tenang jangan terpancing emosi jika dirimu dalam suatu keadaan genting," ucapan kakek buyutnya terngiang di telinganya.


"Ar," kami ada disini kita akan bersama, aku tak akan membiarkan lelaki kurang ajar itu menyentuh tubuhmu barang seujung rambut pun.'" Axel mengeratkan pegangan tangannya.


"Iya Ar, kami tak akan membiarkanmu jatuh ke tangan laki-laki tak beradab itu," sambung Pram menimpali. Di sambut anggukan semua temannya.

__ADS_1


"Terima kasih aku percaya pada kalian," Arini menyeka buliran bening yang tiba-tiba mengalir dari kelopak matanya karena terharu mendengar kekompakan teman-temannya "Aku juga tak akan membiarkan diriku disentuh oleh bandot tua itu!" ucapnya menimpali.


"Bagaimana ?" tanya Jalal ,"apa kalian setuju gadis belia itu tinggal disini dan menjadi istri keempatku, dan kalian bisa bebas pergi meninggalkan desa kemangi ini tanpa suatu hambatan apapun." lanjutnya dengan congkak. Ia begitu yakin tawarannya akan diterima karena situasi mereka yang terdesak seperti sekarang ini.


"Maaf Ki Jalal, tapi sayangnya kami tidak bersedia!"


Blaarrr!!!


Tolakan Axel sontak mengagetkannya dan warga kampung lainnya.


"Keparat, ini suatu penghinaan bagiku dan warga kampung di sini." ucapnya dengan dada turun naik menahan amarah.


"Yang dikatakan Ki Jalal itu benar, ini suatu penghinaan bagi kami penduduk desa kemangi," Hendra menimpali


"sudah habisi saja mereka!"


Cika semakin ketakutan. ia merapatkan dirinya pada Pram, kekasihnya. Pramudya memeluknya dengan erat. "tenangkan dirimu sayang!" ucapnya kembali meyakinkan gadisnya.


"habisi kelima pemuda itu, dan 2 perempuan itu kita gilir ramai ramai!"


Taaapppppp.... ucapan bernada melecehkan itu membuat darah Arini mendidih. Mata nya berkilat menahan amarah.


Axel segera merengkuh nya. Ia tahu Arini emosi dan terpancing amarah. "Ar, tenangkan dirimu!" di elusnya bahu Arini.


"aku benci dilecehkan seperti itu," geram Arini.

__ADS_1


"Heeeeehhhh, kenapa kalaian malah saling berpelukan apa ini suatu pertanda bahwa kalian setuju?" Jambrong berkata dengan sinis.


"Sudah habisi saja kelima pemuda itu, kita ambil yang dua perempuan itu," timpal Hendra yang masih tak berkedip menatap Arini. Tatapan penuh nafsu birahi.


"Aku punya syarat untuk itu," tiba-tiba Arini berkata lantang dan membuat teman-temannya terkejut .


"hahahahaha, pandai pula kau menawarkan syarat kepada kami," sambut Jalal cepat. "katakan apa syaratmu," ucapnya tak sabar.


"Aku tantang satu orang dari kalian untuk duel." Arini maju beberapa langkah ke depan. Dengan penuh keyakinan.


"Jika aku kalah , biarkan ke enam temanku pergi meninggalkan desa ini, dan aku akan tinggal disini" lanjutnya tegas.


"Arini apa kau sudah gila," Axel melangkah mendekati Arini dengan cepat. diikuti kelima sahabatnya.


"Iya Ar, apa kau sudah gila, mengumpankan dirimu untuk mereka, lihatlah cara mereka menatapmu penuh birahi," ucap Cika yang dari tadi diam di cekam rasa takut.


"Aku yakin pada kemampuanku," tandas Arini cepat.


Keenam sahabatnya menarik nafas berat dan menghembuskan dengan perlahan.


"Tak satupun dari kita yang akan tinggal di desa terkutuk ini." Angga.... bergemuruh menahan amarah.


********"""""""""""""


okey .... segitu saja dulu ya.... sambil nggu up bab 13 dan 14 yg masih di review pihak novel toon nya.

__ADS_1


jgn lupa like n komen plus vote nya juga biar Thor makin getol nulisnya ya... soo harus sabar kalau Thor gak bisa update tiap hari karena Thor juga punya kesibukan lain juga yang padat...


okey tingkiuuuu


__ADS_2