
Ke tujuh dokter muda yang ada dalam rumah putih itu saling pandang. wajah wajah yang di cekam rasa takut terlihat nyata dan tak bisa disembunyikan. dari raut muka penuh gelisah.
"Wooooyyy, kalian yang ada didalam cepat keluar!" suara serak Jambrong terdengar menggelegar di depan pintu. "atau kami akan mendobrak pintu itu dan menyeret kalian keluar dan memasung tubuh kalian agar dilempari batu oleh warga kampung sampai kalian mati,haah?" sambungnya penuh ancaman.
Cika merapatkan tubuhnya pada Pram, kekasihnya. ia begitu takut. "aku takut, Pram," desisnya lirih. Pram merapatkan pelukannya
"Ada aku Cika, tananglah!" ucapnya meyakinkan kekasihnya untuk yg kesekian kalinya meski hatinya pun bergetar mendengar teriakan Jambrong dari luar rumah.
"Pasang semua pedang kalian!" ucapan Arini menyeruak di antara kesunyian yang kian mencekam "meskipun Dito tak bersalah, ataupun Dito di anggap bersalah oleh mereka kita tetap melindungi Dito. Kita kesini dengan tujuan yang sama. Jika salah satu dari kita mengalami hal yang tak menyenangkan kita hadapi bersama, itu yang dinamakan sahabat." lanjutnya tegas.
Arini memang di kenal sebagai gadis yang tegas walau dia tak banyak bicara sewaktu mereka sama \- sama di kampus dulu. Namun dia punya daya tarik yang luar biasa sehingga siapapun yang melihatnya akan terpesona.
"Ayo buka pintu, kita hadapi bersama, tunjukkan pada mereka kita bukan berjiwa pengecut yang mudah d gertak seperti itu," ucapan Arini kembali terdengar lantang di telinga ke enam sahabatnya.
Mereka saling pandang . apa yang d ucapkan Arini memang benar. Mereka bukan pengecut. Semua harus dihadapi apapun yang terjadi.
""Iya kita keluar hadapi mereka, tapi jika ada kesempatan untuk menyelamatkan diri harus kita lakukan, paling tidak kita ada saksi hidup yang bisa keluar dari sini jika diantara kita tidak ad yang selamat." Axel menambahkan.
Ucapan Axel menambah dada Cika semakin sesak. Karena diantara ber tujuh hanya dialah yang tak bisa bela diri. "Ya Tuhan, kalau mati disini ampuni lah aku, ampuni dosa - dosaku. mama maafkan Cika Ma,. Cika Lom bisa berbuat yang terbaik untuk mama." suara hati Cika bergemuruh.
__ADS_1
"Jika kalian masih tidak mau membuka pintu dan masih bertahan di dalam, kami akan mendobrak pintu dan menghajar kalian semua!" kembali suara serak Jambrong menggelegar dari luar rumah.
Arini yang gusar mendengarnya...
Maju ke depan dan bermaksud menarik handle pintu. Namun dengan cepat tangan Axel menahannya "biar aku saja yang membukanya !"
Cklikkkk!!!!!
Suara gagang pintu dibuka dengan perlahan. Sorot mata ke tujuh pemuda itu lurus menembus keluar.
Dan ketika daun pintu terbuka lebar
Para warga kampung telah berdiri dihalaman dengan wajah wajah tak bersahabat. Paling depan Jambrong dan tetua kampung . Jalal. Lelaki berperawakan tinggi besar dgn kulit gelap wajah di penuhi bekas luka dgn hidung besar dan brewok yang memenuhi wajahnya...
Axel melangkah keluar. Diikuti ke enam temannya dan paling belakang Cika... yang menggigil ketakutan. Mereka berdiri tegak membentuk lingkaran.
"Maaf , sebenarnya ada apa ini mengapa para warga kampung berkumpul disini dan meneriaki kami seperti seorang pencuri?" tanya Axel... setelah berhadapan dengan Jambrong
"Jangan banyak bacot, lu. Tanya saja dengan temanmu. apa yang sudah ia perbuat ke anak gadisku" jawab Jalal seraya menarik tangan Gendis yang sedari tadi terisak dengan baju yang compang camping bekas di koyak paksa.
__ADS_1
"Ayo, Gendis bilang siapa yang melakukan ini" ucapnya dengan nada bergetar menahan luapan amarah.
Gendis yang ketakutan melihat ayahnya semakin dalam menunduk.
"Jawab Gendis siapa yang lakukan itu padamu, kamu tidak perlu takut!" perintah ayahnya kembali terdengar.
Gendis masih terisak. Sedu sedan. Apa aku harus menunjuk salah satu dari pemuda itu yang melakukannya untuk menyelamatkan Hendra kekasihku, atau aku harus jujur pada ayahku kalau Hendra yang melakukannya dan pasti Hendra akan menerima hukuman yang berat dari ayahku. Tapi kondisiku saat ini terdesak. gumam Gendis dalam hati.
"Ayo anakku beri tahu ayahmu siapa pelakunya!" tanya Jalal yang kesekian kalinya.
Gendis masih terisak.....
"Dia..... dia......... pelakunya. pemuda berkemeja putih itu" tunjuknya lurus ke arah Dito. ucapnya terbata.
Sontak semua yang berada di tempat itu menatap ke arah Dito . Tak terkecuali ke enam sahabatnya.
Dito yang merasa dirinya ditunjuk .... bagaikan disambar petir disiang hari walau suasana sudah beranjak malam.
"Tidak..... tidak.. aku tidak melakukan apapun kepada gadis ini. Aku berani sumpah." ucap Dito menyakinkan.
Wajah Dito memerah menahan amarah di fitnah keji seperti itu. Ia geram. Giginya bergemeretak. dadanya membuncah. .....
,..........................
__ADS_1
yuk... jgn lupa like n koment juga vote nya yaah. jangan pelit atuuhh...
biar Thor makin semngat nulisnya..