BERTARUNG Dengan MAUT

BERTARUNG Dengan MAUT
Demam Tinggi


__ADS_3

Kedua iringan mobil itu kembali melaju membelah keheningan malam. Hutan belantara jalan perbukitan yang turun naik membuat mereka diam seribu bahasa.


Sementara Vika Pramudya Hans dan Dito yang ada di mobil satunya mulai menguap tanda kantuk semakin kuat menyerang


"Dito, kenapa kamu tak bawa pacarmu, Seril?" tanya Hans


"Ibu Seril tidak mengijinkan"jawab Dito datar.


"Wah sayang sekali yaaa, padahal itu kesempatan kalian untuk....." Hans tidak melanjutkan kata-katanya hanya tersenyum penuh makna ke arah Dito


"Heh, pikiranmu mesum aja, Hans." Cika menyambar cepat


"Wah kalau Pram sii sedap ada Cika kan bisa wikwik" celetuk Dito tanpa memperdulikan wajah Cika yang mulai memerah.


"Ayo sayang" tangan Pram merangkul kekasihnya untuk membuat suasana dalam mobil makin panas.


"Apaan siih , Sayang". tangan Cika perlahan menurunkan tangan Pramudya yang melingkar di pinggangnya..


Melihat tingkah Cika yang terkesan malu ke empat pemuda itu tertawa lebar. Mobil itu terus melaju mengikuti mobil yang yang dikendarai Axel.

__ADS_1


××××××


Axel yang berada di belakang setir sesekali melirik Angga dan Arini yang duduk di baris kedua.


Axel mengernyitkan dahinya saat menatap Arini dari spion. Di lihatnya Arini yang diam tanpa ekspresi dengan mata sayu yang nampak lemah tak berdaya.


Perlahan Axel menepikan mobilnya. Diikuti mobik di belakangnya.


Axel menghidupkan lampu. Dengan cepat ia turub dari mobil dan membuka pintu belakang.


"Arini, Arini" panggilnya. Namun Arini tak memberikan respon. Dipegangnya kening Arini yang panas. Axel terkejut.


"Angga, badan Arini panas. Demam tinggi."


Angga segera turun dari mobil. Dan menggelar tikar tebal di pinggir jalan. "Axel bawa Arini turun, Cika ambil kotak obat, cepat!" suara Angga pecah. Rasa khawatir yang dalam tergambar jelas diwajahnya.


Axel mengangkat tubuh Arini dan merebahkannya di tikar yang tebal di pinggir jalan. Ditepuk tepuknya pipi Arini, namun Arini tak memberikan respon.


Pram, Dito, Hans dan Cika hanya terdiam mematung memandang Arini yang tak sadarkan diri. Hati mereka bertanya tanya, kenapa dengan Arini,bukankah tadi ketika berangkat dia baik baik saja. bisik hati mereka.

__ADS_1


CIka bergegas


mendekati Arini , ia melonggarkan celana jeans yang dikenakan Arini dengan membuka sedikit resleting celananya. Cika membuka kancing kemeja Arini agar Arini bisa bernapas dengan nyaman. Melihat gundukan bukit kenbar Arini dari balik kemeja yang dikenakannya sesaat mereka menahan napas. Perut pipihnya sungguh indah. Kerongkongan mereka terasa tercekat. Memang harus diakui Arini punya daya pikat yang luar biasa. Tubuhnya yang sintal padat berisi kulitnya yang putih bak pualam Hidung bangirnya yang menantang dan bibir sexy nya yang aduhai pasti akan membuat laki-laki yang melihatnya berpikiran nakal.


Axel seolah tersadar dari lamunanya. Buru buru ia mendekati Arini. Dibukanya kotak obat di ambilnya jarum suntik yang sudah diisinya dengan obat dalam botolnya.


Perlahan ia mengangkat lengan kiri Arini. "Cika, pegang lengannya!" pinta Axel. Dengan cepat Cika segera membantu Axel mengangkat lengan kiri Arini.


Axel menyika keringat dingin di kening Arini. Dipandangnya wajah sayu Arini dengan iba.


"Ingin sekali kupeluk tubuhmu untuk mengurangi suhu dingin badanmu" pikir Axel dalam hati. Namun ia hanya tersenyum getir ketika memandang teman temannya yang hanya diam tak bergeming.


"Jangan Pa , jangan!" Arini meracau.


Melihat hal itu pikiran Axel semakin tak menentu.


"Sebaiknya kita cari penginapan di dekat sini" ucap Hans yang tak tega melihat kondisi Arini.


"Penginapan masih jauh dari sini. Ini hutan belantara, untuk sampai desa terdekat butuh waktu 6 jam lagi" sambung Dito.

__ADS_1


"Tak masalah, ayo kita lanjut perjalanan," ucap Angga menimpali.


Axel mengangkat tubuh Arini, ia merasakan ada aliran listrik menjalar dari tubuh Arini ke tubuhnya saat menyentuh tubuh Arini.


__ADS_2