
Arini keluar ke halaman rumah yang telah di tunggu oleh para jawara kampung yang siap beradu memperebutkan dirinya.
"Jika kalian menginginkanku? Bertarung lah satu lawan satu. Dan yang terakhir sebagai pemenang yang akan bertarung denganku. " ucap Arini tenang.
mereka membelalakkan matanya. Merasakan aroma sombong ucapan gadis belia itu.
"Apa kau yakin bisa mengalahkan ku, cah ayu?" tawa Jalal yang menggema menyelimuti arena malam itu di ikuti gelak tawa lainnya yang meremehkan Arini.
Angga, Axel dan lainnya segera keluar dari dalam rumah dan mendekati Arini yg berdiri tegak menghadap kerumunan warga dengan sangat yakin akan kemampuannya.
"Kalau ingin bukti, ayo silahkan dari kalian untuk saling bertarung!" tantang Arini sinis. Senyum tipis penuh makna tersimpul di bibir sensualnya.
"Bedebah, apa kau ingin mengadu domba kami. Apa kamu pikir aku tidak tahu permainan licikmu?" ucap Jampang dengan nyaring.
"Ooooo...jadi kamu sudah paham Ki Jampang," seloroh Arini ringan.
"Hei, Cah Ayu, aku hanya ingin kau serahkan temanmu yang sudah memperkosa Gendis, anakku. Dia harus di hukum setimpal di desa ini karena telah merusak tatanan desa ini."
"Apa kau percaya dengan ucapan Gendis?" tangkis Arini cepat "Bisa saja anakmu menjebak Seto, sahabat kami" lanjutnya cepat.
"Bedebah, makin lama kamu makin membuat darahku naik." suara Ki Jampang meninggi.
"Serahkan dia atau kalian akan menanggung akibatnya!" ancam Ki Jampang marah
"Kami tidak akan menyerahkan teman kami" sahut Brams
__ADS_1
"Iya, kami tidak akan menyerahkan sahabat kami," lanjut Cika bersuara
"Bangsat," kalian akan mati di desa ini" gertaknya marah.
"Tangkap mereka! Hajar!" perintahnya pada warga yang telah menghunus parang dan pedang.
kontan mereka segera mengitari ke tujuh pemuda itu.
Wajah Cika memerah.
Lututnya gemetar. Bayang kematian menari di pelupuk matanya.
Maafin Cika Ma. Maafin jika Cika gak bisa kimpul lagi dengan kalian. Mungkin Vika akan berakhir disini. Gumamnya dalam hati. Bram segera menggenggam erat tangan Cika. Ia dapat merasakan ketakutan yang sangat kuat dari wajah Cika.
Para warga masih mengelilingi mereka sambil mengayunkan pedang dan parang dengan kilatan kilatan terkena pantulan sinar rembulan yang bersinar dengan terang.
"Apa kalian akan menjadi orang yang pengecut?" tanya Arini menggelegar sesaat membuat mereka yang mengelilingi sedikit memicingkan wajah.
"Apa maksudmu"
tanya Jalal"apa kamu takut, hah?" sambungnya berkelakar.
"Kalau kamu takut, sebaiknya kamu terima tawaran untuk menjadi istri ke empat ku, maka aku akan membebaskan teman temanmu dan membiarkan mereka pergi dari desa kemangi ini."
"Kamu saja tidak menjawab tawaranku, bagaimana aku akan terima tawaranmu?"
__ADS_1
jawab Arini tenang.
"Arini, jangan gila kamu!" Axel mengingatkan dengan kesal.
"Aku masih waras Axel, aku benci dengan kesombongannya. " tandas Arini
"Baiklah, aku terima tawaranmu, kita akan duel, jika kamu kalah, kamu jadi istri ku, jika aku kalah aku akan biarkan kalian keluar dari desa ini dengan hidup-hidup." suara Jalal menggelegar bercampur marah.
Aku berhasil memancing kemarahannya. Aku akan mudah mengalahkannya. pikir Arini dalam hati.
"Baiklah kalau begitu, aku terima,"
ucap Arini nyaring. kontan membuat sahabatnya memelototkan mata. "Arini!!!" ucap mereka hampir bersamaan.
"Apa kau Gila?" Axel meradang
"Ki Jalal, aku yang akan menghadapimu, bukan dia" tukas Axel.
"Ooooww tidak bisa. Aku maunya gadis cantik itu, bukan kamu!" tunjuk Jalal ke arahnya.
"Dasar tua bangkotan" Angga menyeringai. Bagaimana kalau Arini kalah, bagaimana kalau Arini benar-benar menjadi istri lelaki itu. Huuhhh...
..."Ayo semuanya, buat lingkaran. Saksikan duelku dengan gadis cantik ini, kalian yang akan jadi saksi bahwa sebentar lagi akan ada Nyi Jalal punggawa kampung ini!" ucapan Ki Jalal membahana di angkasa desa itu....
Serentak penduduk kampung berdatangan. Ingin menyaksikan pertarungan itu, mereka membentuk lingkaran besar seakan tidak akan pernah memberi celah kepada ke tujuh pemuda kota itu untuk bisa kabur dari desa kemangi.
__ADS_1