
Arini diam.
Pandangan matanya beradu dengan tatapan Axel. Ada sesuatu yang ia tatap disana. Begitu teduh dan menenangkan. Arini merasakan ada yang menjalar manja dalam hatinya. Mengusik keterdiamannya. Sesaat ia masih terpaku. Tarikan napas Axel terdengar menari ditelinganya seperti desahan desahan hasrat yang memancing dirinya untuk larut kedalamnya.
Axel menjamah pundak Arini. Yang membuat dokter muda nan cantik itu sesaat kelabakan karena tersadar dari pikiran mesumnya untuk sesaat.
"Arini" Aku sudah lama ingin mengatakan ini padamu" ucap Axel sembari duduk dihadapan Arini.
Gadis muda yang cantik itu mengerjapkan matanya. Matanya membulat. Bibirnya sedikit terbuka. Membuat darah Axel berdesir lebih cepat. Ingin rasanya ia memasukkan lidahnya disana dan melilit lidah Arini kemudian melumat bibir gadis itu. Membawanya merasakan sentuhan sentuhan dan permainan bibirnya.
Arini tersipu dipandangi seperti itu. Wajahnya merona merah. Ia pun merasakan hal yang sama ketika Axel menatapnya. Buru buru ia menundukkan wajahnya ketika dirasakan darahnya kian bergejolak. Ia tak ingin Axel mengetahui perubahan wajahnya .
"Apa yang mau kamu bilang" ucapnya semakin menundukkan wajahnya.
Axel menaikkan dagu Arini. Dagu berbelah yang terlihat sangat manis ketika ia tertawa. Ditatapya bola mata Arini yang bulat , bayangan wajahnya ada dalam pupil mata Arini yang hitam kecoklatan. "Aku mencintaimu, Ar." ucapnya pelan ketika mendekatkan bibirnya ditelinga Arini.
Sluppp
Arini terperanjat.
"Benar Ar, aku sangat mencintaimu. Sejak dari kita SMA dulu," sambungnya lirih.
Arini mengerjap. Masih belum percaya dengan ucapan Axel barusan.
"Arini"
__ADS_1
Panggilan lirih itu mengejutkannya. Arini berusaha menata degup jantungnya yang mulai tak beraturan. Ia menarik napas kemudian dihembuskan perlahan dengan berat.
"Aku tidak memintamu untuk menjawabnya hari ini, paling tidak aku sudah lega telah mengatakannya padamu. " ucap Axel datar
"A a aku..... "
Ssssttttt
Axel menempelkan telunjuknya dibibir Arini.
" Kuharap jawabanmu bukan karena suatu keterpaksaan. . Aku ingin kau menjawabnya menggunakan hati", sambung Axel perlahan.
Axel mendekatkan bibirnya ke wajah Arini. Hembusan nafanya yang berat menembus pori pori kulit wajah Arini. Semakin dekat dan dekat. Bibirnya menyentuh bibir Arini yang dingin. Dokter cantik bertubuh sintal itu kelabakan saat Axel menyerangnya dengan tiba tiba. Ia berusaha menghirup udara untuk bernapas. Axel menekan leher belakangnya untuk mengeratkan pagutan bibirnya. Aliran darah makin naik saat yang menggairahkan itu menari nari dalam mulut Arini.
Aaahhh
Buru buru ia mundur memberi jarak.
"A A rini, maafkan aku" ucapnya kesal sambil merutuki perbuatannya barusan terrhadap dokter cantik yang sangat di pujanya.
Shit!
Apa yang sudah kulakukan
Bodohnya aku. Makinya gusar dalam hati
__ADS_1
Cekleeeekkk
Suara gagang pintu di buka dari luar. Wajah Cika menyembul di balik pintu. "Aku sudah siapkan menu makan siang kita di dapur" ucapnya sumringah "Kalau mau silahkan ke dapur yaa, aku mau mandi dulu, gerah habis masak"
Axel tersenyum mendengar perkataan Cika, sahabat karib Arini yang selalu menemani Arini ketika masih kuliah dulu. Arini memang tidak punya banyak teman. Bahkan hanya bisa dihitung dengan jari. Arini termasuk gadis yang pendiam. Sangat sulit menebak pikirannya.
×××××××
Segini dulu yaaaaah... author lg ngumpulin ide untuk nulis episode berikutnya.
O iyaaa..
kira kira Arini jawab apa yaa atas pertanyaan Axel tadi. Terus gimana dengan Angga saat mengetahui kalau axel udah nembak Arini duluan.
Hmmmm... rival yang imbang pastinya. Sama sama tampan, dokter muda keren lagi. Bedanya Axel blasteran Jerman kalau Angga murni Indonesia.
Sebenarnya pengen mau nampilin tokoh2nya dalam bentuk visualnya atau pict nya...
Tapi tar dulu deh... masih nyari nyari yang pas untuk penggambaran tokoh tokoh di atas.
Jangan lupa LIKE & KOMENT nya...
biar thor makin semangat nulisnya....
Mungkin para readers punya gambaran gimana wajah wajah tokoh dalam novel ini. Boleh dong.. d tunggu yaa...
__ADS_1
#salam imajinasi
❤❤❤❤