BERTARUNG Dengan MAUT

BERTARUNG Dengan MAUT
9. Penasaran


__ADS_3

Rasa penasaran Dito terhadap Gendis cukup tinggi. Tanpa sepengetahuan gadis bertubuh molek itu Dito mengikuti langkah Gendis dari kejauhan.


Gendis menyusuri tepian sungai di jalanan setapak berkerikil yang menanjak ke atas bukit. Nafasnya terengah karena sedikit kelelahan dengan medan sulit yang di laluinya. Gendis menghentikan langkahnya . Beberapa saat ia menarik nafas dalam kemudian menghembuskan dengan berat.


Ia menoleh kebelakang. Merasa Seolah ada yang mengikutinya.


Tidak ada siapa siapa. Mungkin hanya perasaanku saja. Ah sudahlah aku harus segera sampai di sana tepat waktu. Gumamnya dalam hati.


Gendis kembali melanjutkan langkahnya. Jalanan naik yang cukup terjal membuat nafasnya semakin memburu. Keringat sebesar biji jagung mengaliri tubuhnya. pakaiannya menjadi basah dan melekat erat ke tubuhnya yang padat berisi.


Setelah lelah dan cukup jauh melangkah akhirnya Gendis tiba di depan sebuah rumah berdinding kayu beratapkan daun jerami di atas bukit yang banyak pohon rindang di sekitarnya.


"Lama sekali kamu." suara serak laki laki terdengar agak berat ketika Gendis sudah berada di dalam rumah itu.


Laki laki itu segera memeluk Gendis dan mengendus bau wangi tubuh gadis itu.


Dengan cepat ia pun segera mendorong tubuh Gendis ke dinding dan meletakkan kedua lengan kekarnya di kanan kiri wajah gadis itu.


Sesaat kemudian bibir mereka saling berpagut. Lidah laki laki itu menyusuri rongga mulut Gendis dan menghisap bibir merah kecoklatan tipisnya tanpa memberi kesempatan kepada gadis montok itu untuk sempat membalas. Serangan bertubi tubi membuat Gendis sesaat melepaskan ciuman brutal itu untuk menarik nafas dan mengisi oksigen ke rongga dadanya yang mulai menipis. Hal demikian pun dilakukan lelaki itu.


Ciuman itu kembali memanas. satu persatu pakaian Gendis terlepas dari tubuhnya. Hingga tubuh kuning langsat itu polos tanpa sehelai benangpun menutupinya.


Lelaki itu membuka pakaiannya satu persatu.


Kedua insan di landa birahi yang kian memuncak itu semakin asyik masyuk menikmati permainan panas yang kian membara.

__ADS_1


Lelaki itu mengangkat tubuh Gendis ke atas dipan kayu yang di lapisi kasur busa berwarna usang. Tubuh lelaki itu menindih Gendis . Ciuman ciuman kasarnya terus merayapi setiap jengkal kulit mulus tubuh gadis desa kemangi itu.


Gadis itu menggelinjang saat lelaki itu menghisap ** bukit kembarnya yang mengeras.


Desahan desahan terdengar semakin keras saat ciuman lelaki itu merayapi tubuh bagian bawahnya.


Gendis menjerit kecil saat lelaki itu menghisap bagian inti dirinya. Gendis menggelinjang dengan mata sayu menatap pria yang ada di atasnya. Dia ingin agar lelaki itu segera menuntaskan permainannya.


Mereka semakin bergairah dalam kobaran hasrat yang kian menggelora.


Aaacchhhhh


Desahan panjang itu terdengar saat sesuatu yang hangat menyembur di kedalaman sana. Gendis mencengkeram pundak lelaki itu untuk kesekian kalinya saat mereka sama sama memuntahkan lahar putih di kedalaman milik Gendis.


Mereka mencapai klimaks. ***.


Senyum keduanya mengembang.


"Kamu masih seperti yang dulu, gak berubah." ucap Gendis sembari mengecup kening lelaki yang ada di atasnya.


Lelaki itu menarik tubuhnya.


Mengenakan pakaiannya yang berserakan di lantai.


Gendis pun bangun melakukan hal yang sama. Mengenakan kembali pakaiannya. Kemudian duduk di tepi dipan di samping lelaki itu.

__ADS_1


"Kapan kamu menikahiku, Hen?" tanya Gendis.


"Aku juga sangat ingin segera menikahimu, tapi orang tua kita menentang hubungan kita," jawabnya gamang. "Sabarlah sayang, aku pasti akan menikahimu aku janji" lanjutnya pelan.


"Dari dulu hanya janji janji itu yang kamu ucapkan" suara Gendis pelan "tapi sampai sekarang mana buktinya, kita masih saja begini aku bosan dengan keadaan ini" lanjut Gendis dengan nada agak meninggi.


Krraaakk


Terdengar suara ranting pohon dipijak dari luar rumah.


Pendengaran lelaki itu cukup tajam.


Hendra mendongakkan wajahnya. "Ada yang mengintip kita," ucapnya seraya cepat berdiri menuju pintu. Pandangannya nanar ke halaman sekitar rumah. Ia melihat kelebatan bayangan putih yang bergerak menjauh menuruni bukit. Sialan. Siapa dia. Berani berurusan denganku. Gumamnya marah. Rahangnya mengeras.


"Siapa Hen?" tanya Gendis setelah berada di sampingnya.


"Entahlah, aku tidak tau. Dia sudah lari menjauh. Bayangan putih. Melihat bentuk tubuhnya sepertinya dia laki laki,"


ucap Hendra sesaat.


Bayangan putih. Apa mungkin pemuda semprul yang tadi bertabrakan denganku di kaki bukit sana. Pikir Gendis melayang mengingat pertemuan tak sengaja dirinya dengan Dito.


×××÷÷÷×××××


yuuukk ciiinn...

__ADS_1


jgn lupa Like n Koment nya yaaaah biar thor makin semangat nulisnya...


jangan pelit atu mah..👌👌👌. 💖💖💖


__ADS_2