
Arini memasang anklebootnya.
Ke enam sahabatnya hanya diam memperhatikan.
Menatap Arini lekat lekat. Yang masih sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan buruk yang akan terjadi. Atau mungkin semua amarah orang orang yang datang mendekati rumah putih tempat mereka saat ini berada. Arini menarik nafas. Menghembuskannya perlahan.
Waktunya meregangkan otot tubuh. Desisnya pelan.
Namun terdengar jelas di telinga para sahabatnya. Mereka seolah tersadar dari magis Arini. Buru buru mereka mengalihkan perhatian dari tubuh Arini yang begitu indah. Dengan tubuh tinggi langsing. Wajah oval berhidung mancung, bibir sensual bervolume dengan belahan dagunya. Tubuh montoknya dan Kulit putihnya. Rambut hitam lurus sepinggang. Bola mata hitam kecoklatan miliknya yang berkilat. Pikiran setiap laki laki yang memandangnya pasti mengarah ke hal hal yang berbau ranjang. Para lelaki akan membayangkan jika Arini telanjang di hadapan mereka.
Dito menyikut Pram yang ada di sampingnya. Pram menautkan kedua alisnya. "Brengsek lu. Gara gara lu kita semua akan kena imbasnya". ucapnya gusar seraya menonjok perut Dito yang sedari tadi pandangannya tak lepas dari Arini.
Uugghhh....
Dito melenguh kesakitan. Setan lu. Umpatnya geram.
"Kenapa kalian masih bengong. Cepat bersiap. Mereka semakin dekat." ucap Arini tenang.
Sontak keenam muda mudi itu lalu bergegas. Mengenakan sepatu dan meyelipkan pisau lipat di pinggang mereka. Cika merapatkan jaketnya. Rambut sebahunya tergerai indah menutupi sebagian wajahnya.
"Aku takut, Ar." ucapnya. "aku takut terjadi apa apa dengan salah satu dari kita atau kita semua tidak akan selamat dari mereka," lanjutnya gamang.
Wajahnya gelisah. Bayangan buruk akan apa yang menimpa mereka menari di pelupuk matanya. Tanpa terasa buliran bening merembes dari kelopak matanya yang bulat.
"Ada aku,Cika. Ada yang lainnya. Kita akan saling melindungi," Arini memeluk Cika dengan erat. Cika membalasnya. sesaat mereka saling berpelukan. Tangis Cika pecah. Arini mengeratkan pelukannya. Memberikan kekuatan pada sahabatnya. Ia dapat merasakan ketakutan yang menyelimuti Cika.
Ke lima pemuda lainnya saling pandang. Mereka pun mendekat dan saling berpelukan membentuk lingkaran.
__ADS_1
"Kita satu tim. Apapun yang terjadi kita harus saling melindungi. Jangan lagi saling menyalahkan." ucap Axel berusaha menenangkan hati dan pikirannya dan mereka.
"Ayo persiapkan diri kalian!." ucap Axel "jarak mereka semakin dekat" lanjutnya perlahan. Mereka membentuk lingkaran. Tangan mereka saling bertumpu membentuk tos.
"Desa ini terisolir. Tidak ada komunikasi keluar. Tidak ada sinyal maupun jaringan internet. Apapun yang terjadi kita harus bisa keluar dari sini lengkap ataupun tidak. Agar ada saksi kejadian jika sampai ke pihak berwajib." ucap Axel tenang " Aku menyayangi kalian" lanjuy Axel sedikit tertahan.
Ada rasa yang membuncah di dalam dadanya. Rasa Khawatir yang begitu dalam.
Karena rasa bersalahnya.
Dialah yang punya ide gila untuk melakukan touring sampai sejauh ini meninggalkan Kota bermil mil jauhnya disana.
Dia yang mengajak ke enam sahabatnya sebagai ungkapan rasa bahagia mereka karena telah menyelesaikan studi.
Walau harus melewati perdebatan sengit dengan Erika. Mamanya Arini. Demi mendapatkan ijin agar putri kesayangannya diperbolehkan untuk ikut dalam perjalanan ini.
"Aku akan melindungi Arini, Tante," janjinya meyakinkan Mama Erika. Perempuan bertubuh langsing itu tersenyum sinis menatap Axel. Ia tahu pemuda tampan bermata biru kecoklatan itu tergila gila pada putri kesayangannya. Axel putra kekasihnya semasa sma dulu. Namun karena perseteruan bisnis orang tuanya. Mama Erika tidak bisa bersama dengan Bob, Papa Axel.
Tranggg....
Mama Erika melemparkan sebilah pedang ke arahnya.
Dengan sigap Axel segera menangkapnya. Ia paham maksud tante Erika.
Tante Erika berdiri dengan menghunus sebilah pedang di tangan kanannya. Ia mengangkat pedangnya bersiap menyerang.
"Aku ingin tahu seberapa hebat laki laki yang berjanji akan melindungi putri kesayanganku" ucapnya tenang.
__ADS_1
Axel bersiap. Matanya memicing. Memperhatikan setiap inc gerakan wanita di hadapannya.
Kelebatan pedang
dengan cepat mengarah ke tubuhnya. Axel mengangkat pedangnya menahan serangan cepat dan tangkas. Ia mundur beberapa langkah . Tante Erika tersenyum menyeringai.
Shiittt...
Pantas saja Arini mahir main pedang ternyata menurun dari mamanya. Pikirnya sesaat sambil terus bersiaga.
"Jika ada kesempatan menyerang, seranglah. Jangan bertahan." ucapan Papa Bob menyelinap masuk dalam pikirannya.
×××××××××
Kilas balik sebentar yaa para readers...
kejadian waktu Axel meminta ijin ke Mama Erika untuk mengajak Arini melakukan touring yang memacu adrenalin.. Mau ajak anaknya aja di tes dulu ama mamanya. Bisa membela diri atau tidak... ckckckck...
Okey..deh
Met baca ajaa..
Jangan lupa Like n Koment ..
agar thor lebih semangat lagi nulisnya yaa..
❤❤❤❤❤❤
__ADS_1