
Axel membopong tubuh Arini dari tidurnya dan memasukkannya dalam mobil. "Angga kamu dengan mobil Hans, biar Cika dengan kami menjaga Arini", ucapnya datar.
Tanpa menunggu jawaban dari Angga, Axel langsung masuk ke dalam mobilnya diikuti Cika yang duduk di samping Arini yang masih belum sadarkan diri. Cika memegang kening Arini. Ia menghela nafas dalam. Di pandangnya wajah cantik Arini sesaat, "kamu memang cantik Ar, aku aja mengakui kecantikanmu apalagi laki laki yang melihatmu. Sungguh beruntung dirimu dianugerahi wajah yang indah dan tubuh yang mempesona" bisik hati Cika.
Setelah beberapa saat Axel menyalakan lampu sesaat untuk melihat Arini dari kaca mobil. Wajah Axel nampak gelisah. Namun ia berusaha menutupi kegelisahannya dari Cika.
Ia membuka HP nya.. mencoba mencari sinyal.. Namun sinyal tidak bersahabat.
"Susah sekali disini sinyal" gerutunya kesal.
'Axel, ayo jalan, tunggu apalagi." teriakan Hans terdengar dari mobil belakang.
Axel mematikan lampu. Tak lama kemudian iringan kedua mobil itu berdesut meninggalkan jalaanan itu. Waktu terus berpacu. Begitu pula dengan kedua mobil itu terus berpacu hingga menjelang dini hari. Axel melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan kirinya. 04.00 Wib. "Tak lama lagi akan memasuki sebuah pedesaan" pikirnya dalam hati.
Sesekali ia menoleh kebelakang "Cika, apa Arini belum sadar" tanyanya gelisah
"Belum, ia meracau terus" jawab Cika khawatir.
__ADS_1
×××××
Dito yang duduk disebelah Angga menggeliatkan badannya pertanda ia terbangun dari tidurnya. "Sampai dimana kita" tanyanya pada Angga.
Angga mengangkat bahu.
"Kita ikuti terus Axel, mungkin dia akan mencari perkampungan atau apa, kasihan Arini, belum sadar juga" tandas Hans yang berada di belakang kemudi dari tadi.
"Kenapa dengan Arini yaa, hingga panasnya tinggi begitu. Meracau lagi" ucap Pramudya heran.
"Sepertinya dia ingin dibelai olehmu, Pram" celetuk Celio.
Pramudya hanya tersenyum mendengar celoteh keempat temannya. Pikiran nakalnya menari diotaknya. Andaikan ia bisa mendapatkan Arini, tapi aahh itu mimpi. Sampai saat ini Arini menutup diri untuk lelaki manapun. Arini pendiam. walau terkadang ada gurau candanya juga tapi ia lebih banyak diam sibanding teman teman mahasiswi di kampusnya.
Banyak mahasiswa yang berusaha mendapatkan dan meluluhkan hati Arini tapi sampai saat ini tak satupun yang berhasil menaklukkan bunga Kampus itu.
Ciiiit.....ciiiiiittt
__ADS_1
Suara decitan rem terdengar nyaring membuyarkan celoteh mereka.
Mobil pun berhenti di sebuah jalanan berbatu. Di simpang jalan tertulis plang nama desa. Desa Kemangi
Axel turun dari mobilnya. Menghampiri Hans.
"Bagaimana kalau kita ke desa kemangi, kita cari tempat untuk beristirahat. Sambil menunggu Arini sadar dan kesehatannya membaik baru kita lanjutkan perjalanan. Sekarang puku 05.00 pagi." ucap Axel.
"Baiklah kita ke Desa Kemangi, kita cari penginapan sambil menunggu Arini pulih kembali" jawab Hans datar.
Tanpa menjawab Axel kembali masuk ke dalam mobilnya. Mereka melanjutkan perjalanan memasuki Desa Kemangi. Perlahan namun pasti iringan kedua mobil tersebut memasuki jalanan berbatu berlubang dan bergelombang.
Suasana desa terasa sunyi dan mencekam.
Kanan kiri jalan dihiasi hamparan hutan dan tanaman karet yang menyeruak diantara perbukitan .
Selang 1 jam iringan mobil itu pun memasuki perkampungan Desa Kemangi yang sepi dan tenang.
__ADS_1
"Seperti desa mati. Seperti tidak ada kehidupan disini" ucap Cika lirih.
Axel yang mendengar ucapan Cika hanya diam walau sedikit iapun mengiyakan.