BERTARUNG Dengan MAUT

BERTARUNG Dengan MAUT
10.


__ADS_3

Gubrakkkkk


Dito membuka pintu dengan kasar. Nafasnya terengah engah seperti habis di kejar hantu di siang bolong.


Sontak membuat ke 6 sahabatnya yang duduk di ruang tamu memandanginya dengan heran. Mereka saling pandang.


"Darimana kamu, sampai jam segini baru pulang,apa kamu tidak tau disini kami gelisah menunggumu, hah," ucap Angga berang.


Tatapannya berkilat bagaikan anak panah yang tertuju lurus ke arah Dito.


"A a a akuuu...," suara Dito gugup.


"Cepat jawab!" bentak Angga keras.


Angga mencengkeram kerah baju Sito dengan keras. Menbuat lelaki itu sedikit merasakan sakit si lehernya.


"Sudah Angga, tahan emosimu. " ucap Arini. "Kita dengar dulu penjelasan dari Dito," lanjutnya datar.


Seraya menurunkan tangan Angga dari kerah baju Dito.


"Ayo Dito duduk dulu," pinta Arini. "ceritakan pada kami apa yang terjadi, hingga hampir sore begini kamu baru sampai di rumah?" lanjut Arini kemudian.


Dito duduk di kursi.


Arini menyodorkan segelas air putih. Dengan cepat Dito segera meneguknya sampai habis. Dia kehabisan tenaga untuk berlari sejauh itu menuju rumah putih. penginapan mereka.


Ke enam sahabatnya masih menunggu reaksinya.


Namun Dito masih diam.


"Ada apa sebenarnya Dito?" tanya Cika


"Kita harus segera meninggalkan Desa Kemangi ini secepatnya". ucapnya pelan setelah berhasil menguasai dirinya.


Axek Angga Hans Pram Cika Arini . Ke enam sahabatnya mengernyitkan dahi. Mereka saling pandang.

__ADS_1


"Ceritakan pada kami apa yang terjadi," kata kata Angga kembali terdengar membelah keheningan di antara mereka.


"Arini apakah kamu sudah sehat?" tanya Dito ke Arini.


"Aku sudah sehat, seperti yang kamu lihat hati ini," jawab Arini seraya mengwmbangkan senyumnya. Duuuuuhhh senyum maha manis yang belum pernah dilihatnya dari sahabatnya ini sejak mereka kulyah dulu.


"Dito seharusnya kamu yang cerita ke kami apa yang terjadi, bukan malah nanya gimana Arini, nyebelin banget sii kamu tuuuh," sela Cika ketus melihat sikap Dito yang menyebalkan.


××××××××××


Haaaaaaaahhhh


Mereka terperangah saat usai mendengar cerita Dito.


"Pantas saja lelaki itu marah, kamu ngintip sii," ledek Hans seraya menahan gelak tawanya yang hampir meledak.


"Iya tuuuhhh kayak gak ad kerjaan banget sii lu, belum puas lu tidur ama Seril, tar disini kalau pengen mau minta siapa, hah, mau minta sama gadis yang kamu ikutin tadi" goda Pram lagi.


Somprettt. Rutuk Dito kesal.


Astaga Seril... semudah itu kamu nyerahin dirimu ke Dito. Gumamnya dalam hati.


Seril adalah teman satu kelas mereka. Seril tergolong ramah dan mudah bergaul. Tak heran jika ia punya banyak teman baik laki laki ataupun perempuan di lingkungan kampus mereka. Wajar saja karena Seril termasuk primadona kampus yang jadi incaran laki laki iseng atau sekedar hanya ingin mengajaknya tidur. Yaah... Seril gadis panggilan. Ia pasang tarif yang tinggi untuk sekali kencan. Itu semua dia lakukan untuk membiayai kuliahnya dan menanggung hidup kedua adiknya yang masih kecil kecil. Ia menjadi tulang punggung keluarga setelah ayahnya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil sepulang dari tugas keluar kota. Dito lah laki laki pertama yang menyentuhnya. Hingga mereka menjadi keranjingan dan sering melakukan hal itu berulang ulang bahkan mereka menyempatkan melakukan itu di wc kampus kalau lagi pengen.


Axel yang melihat perubahan wajah Arini saat mendengar celoteh teman temannya segera menengahi."Sudah sudah... jangan ngawur kalian, liat Arini merinding mendengarnya", ucapnya sambil menepuk bahu Arini pelan.


Arini tergeragap.


"Ah, tidak. Tidak apa apa", ucap Arini menutupi kekagetannya.


×××××××××


Waktu kian beranjak sore dan hampir mendekati senja saat dari jauh terdengar suara riuh rendah mendekati rumah putih itu.


Pendengaran Axel yang tajam segera menangkap derap langkah kaki yang kian mendekat. Instingnya bekerja dengan cepat.

__ADS_1


"Mereka datang, bersiaplah!" ucapnya lirih namun terdengar jelas oleh ke enam sahabatnya.


"Kita kedatangan tamu yang ramai," ucap Hans .


"Kemasi barang seperlunya cepat!"


ucap Angga lantang.


Mereka bergegas berkemas dan memasukkan barang bawaan mereka dengan cepat ke dalam mobil. Berjaga jaga jika langkah seribu harus di ambil.


Axel menatap Arini. Ia tahu gadis itu belum pulih benar dari sakitnya. Tatapan penuh khawatir tergambar jelas di wajahnya. Arini yang merasa di perhatikan mendongakkan wajahnya menatap Axel.


"Ada apa Axel kenapa menatapku seperti itu," tanyanya datar. seraya menyiapkan pisau lipat yang diselitkan ke pinggang celana jinsnya. Arini mengenakan jaket parka merahnya.


"Aku menghawatirkanmu, Ar. Kamu belum pulih benar. Mereka sepertinya ada yang menggerakkan untuk kesini. Mungkin perbuatan iseng Dito ......."


"Aku tidak apa apa. Aku masih sanggup mengalahkan mereka kalau harus duel satu satu." sambar Arini cepat dengan penuh keyakinan. Arini yersenyum," sudahlah kita hadapi mereka bersama" lanjut Arini tenang.


"Mereka akan sangat berambisi untuk mengalahkanmu, Ar." ucap Axel tak mau kalah.


"Mengapa kamu berkata begitu,"


"Lelaki bernama Jambrong itu sangat bernafsu sekali ketika melihatmu pingsan dalam mobil beberapa hari lalu," ucap Axel pelan.


Arini menautkan alisnya mendengar ucapan Axel. "Itu pikiranmu saja" lanjutnya tenang.


Arini bangun dari duduknya. Dilihatnya wajah wajah tegang ke enam sahabatnya secara bergantian.


"Yang lainnya bersiaplah," ucap Arini tegas. Ke enam sahabatnya menoleh. Singa betina telah bangun. Pikir mereka dalam diam saat mendengar suara lantang Arini. Arini bukanlah gadis lemah. Ia jago taekwondo, karate dan jurus jurus silat pernah dipelajarinya sejak dari sekolah dasar. Bahkan permainan pedang tombak dan toya sangat mahir di mainkannya. .


❤❤❤❤❤❤


Yuukk jangan lupa like n koment nya yaah


Biar Thor makin semangay Up ny

__ADS_1


Hayuuuukkk jangan pelit atu maah...


__ADS_2